
Saking bahagianya, Adam langsung menarik tubuh Haura dan memeluknya erat, bahkan berulang kali ia menciumi pucuk kepala Haura tanpa sadar.
Namun kali ini ada yang berbeda, dengan perlahan, Haura menggerakkan tangannya dan membalas pelukan itu, seraya tersenyum didalam dekapan Adam.
Sesuatu yang tidak pernah Haura lakukan selama ini, membalas pelukan Adam.
"Aku sudah tidak sabar memberi tahu Azzam dan Azzura," ucap Adam setelah ia melerai pelukan itu, memegang kedua lengan Haura dan menatapnya dalam.
Haura tersenyum, iapun merasakan hal yang sama. Bahkan sudah terbayang dibenaknya, reaksi bahagia yang akan Azzam dan Azzura tunjukkan.
Namun senyum Haura seketika menyurut, saat ia mengingat sesuatu. Bahkan Adam yang melihatnya pun menatap heran.
"Kenapa?" tanya Adam perhatian.
"Sebenarnya, aku masih memiliki seorang kakak, mas Hasan. Sampai sekarang aku masih belum menemui dia," jelas Haura, sendu. Walau bagaimanapun, Hasan adalah saudara kandung satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.
Ia pun ingin, saat menikah nanti, sang kakaklah yang menikahkannya.
Tapi bahkan hingga kini pun, Haura masih belum menemui kakaknya itu. Apalagi mengenalkan Azzam dan juga Azzura.
Mendengar nama Hasan disebut, entah kenapa sudut hati Adam merasa terganggu. Sumpah demi apapun, Adam tak menyukai orang itu.
Hasan dan Haura adalah saudara tiri, satu ibu dan beda ayah. Tapi Haura tak mengetahui fakta itu. Ayah Haura meninggal dan menyerahkan semua peninggalannya pada Haura, namun Hasan mengambilnya dengan paksa, berkilah bahwa ia yang paling berhak.
Karena Hasan adalah anak laki-laki di keluarga itu.
Dulu, Adam sudah menyelidiki tentang Hasan, saat ia mencari Haura.
Dan kini Adam bergeming, memikirkan bagaimana caranya memberi tahu Haura.
"Aku akan menemanimu untuk menemui mas Hasan," jawab Adam kemudian, setelah cukup lama terdiam.
Senyum Haura kembali muncul, meski tidak terlalu lebar.
"Bagaimana jika kita pergi setelah Azzam dan Azzura selesai ujian tengah semester?" tawar Haura dan Adam nampak berpikir.
Kedua anaknya itu, akan menjalani ujian tengah semester satu bulan lagi. Artinya pernikahannya dengan Haura pun hanya akan digelar satu bulan kedepan, bahkan mungkin bisa jadi dua bulan.
Adam menghela napas berat, hanya membayangkannya saja sudah terasa sangat lama, dan rasanya itu sungguh berat.
"Lama sekali," keluh Adam dengan raut wajahnya yang murung.
Dan melihat itu, Haura mengulum senyumnya.
"Hanya satu bulan Mas, apanya yang lama? lagipula aku tidak menginginkan pernikahan yang mewah, aku hanya ingin pihak keluarga kita saja yang menghadiri," jelas Haura, ia bahkan menurunkan kedua tangan Adam yang sedari tadi memegang kedua lengannya, lalu menuatkan jari-jari mereka menjadi satu.
"Apapun yang kamu inginkan, akan aku penuhi," jawab Adam, ia pun semakin mengeratkan jemari mereka yang saling bertaut.
"Tapi bolehkan aku beri tahu Azzam dan Azzura tentang rencana kita untuk menikah?" tawar Adam dan Haura menganggukkan kepalanya.
"Kita beri tahu sama-sama, nanti saat mereka pulang sekolah," jelas Haura, hingga membuat Adam langsung kembali tersenyum.
Terus keduanya saling tatap, dengan tatapan yang begitu dalam.
Namun dengan cepat, Adam lebih dulu memutus tatapan itu, takut jika ia tak bisa mengendalikan diri. Terlebih tatapan Haura, selalu membuatnya candu.
"Masuklah, nanti biar aku yang menjemput anak-anak," jelas Adam dan Haura mengangguk.
Haura lalu turun dari dalam mobil dan diikuti oleh Adam. Entah kenapa, rasanya Adam begitu enggan tiap kali melihat perpisahan seperti ini. Rasanya Adam ingin terus Haura berada didekatnya dan dipeluknya erat.
"Haura," panggil Adam, saat Haura hendak naik keatas teras rumah itu.
Haura menoleh dan melihat Adam yang berjalan cepat dan mendekati dirinya.
Lalu tanpa aba-aba, Adam kembali memeluk Haura. Memeluk tubuh mungil ini, hingga bersembunyi didadanya.
Lagi, Haura pun membalas pelukan Adam.
"Satu bulan terlalu lama," ucap Adam setelah dengan terpaksa ia melepaskan pelukan itu.
Haura tak menjawab, hanya terkekeh lalu meninggalkan Adam sendiri di sana. Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Haura kembali kearah Adam.
Sebuah senyum yang membuat Haura tersenyum pula.
Bahkan setelah pintu itu tertutup, keduanya tetap mengukir senyum yang sama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
AIG School.
Arrabela senang bukan kepayang kala melihat banyak notifikasi di ponsel pintarnya. Bahkan belum ada satu jam, pengikut instagramnya sudah bertambah 1juta lebih pengikut.
Ia bahkan sampai berteriak, histeris.
Hingga membuat semua teman-temannya menatap Aneh pada Arrabela.
"Zura, sini lebih mendekat padaku," ucap Arrabela pada sang sepupu, Azzura.
Azzura pun bergeser, lebih mendekati Arrabela. Kini Azzura, Arrabela, Azzam, Arnold dan Julian sedang duduk disalah satu kursi di taman sekolah. Lengkap dengan meja bundar yang mereka kelilingi.
"Kenapa?" tanya Azzura, menyelidik. Ia semakin heran saat melihat wajahnya dan wajah Arrabela berada di layar ponsel itu, seolah sedang melakukan panggilan video.
"Ini siaran langsung instagram, mereka semua menanyakanmu," jelas Arrabela apa adanya, di kolom komentar dalam siaran langsung itu kebayakan orang-orang bertanya tentang Azzura.
Dan emoticon cinta langsung bertebaran kala melihat Azzura mulai masuk dalam siaran langsung itu.
Arrabela dengan lancarnya, berucap ini dan itu, bahkan sesekali ia menjawab pertanyaan di kolom komentar. Lain Arrabela lain pula Azzura, disaat Arrabela begitu menikmati siaran langsung itu, Azzura malah hanya terdiam, kikuk. Merasa malu dan tidak percaya diri, namun sikapnya itu malah terlihat begitu menggemaskan bagi semua orang.
"Matikan siaran langsung itu, kalian belum makan," ucap Julian, ia bahkan langsung menyodorkan 4 potong sandwich dihadapan Azzura dan Arrabela. Sandwich bekalnya yang dibawakan oleh sang ibu.
Tapi karena Arrabela tengah asik sendiri, ia sampai tak peduli perintah Julian itu.
Merasa diabaikan, Julian akhirnya menarik Azzura untuk menjauhi Arrbale, lalu dengan cepat menyumpal mulut Azzura dengan sepotong sandwich.
"Makan yang banyak," titah Julian, dan Azzura hanya mampu menuruti, ia mengunyah dengan susah payah, hingga kedua pipinya makin menggelembung.
Julian yang merasa gemas pun langsung mencubit pipi itu pelan.
"Jangan! hanya abang Labih yang boleh mencubitku," tolak Azzura dengan suaranya yang tidak jelas, seperti bergumam.
"Siapa abang Labih?" tanya Julian heran, bahkan Arnold yang ikut mendengarnya pun langsung menatap Azzura. Sementara Arrabela masih sibuk sendiri dengan siaran langsungnya.
"Abang Labih itu jodoh masa depan Zura," jawab Azzura menggemaskan, hingga membuat Julian terkekeh dan berniat mengusili Azzura.
"Jadi hanya abang Labih yang boleh mencubit pipimu?" tanya Julian, memastikan.
"Iya!" jawab Azzura mantap.
Julian lalu melirik Arnold, memberi isyarat untuk segera menyerang Azzura. Dan tanpa babibu lagi, kedua bocah laki-laki ini langsung menyerang Azzura.
"Seraang!" teriak Arnold dengan semangat.
"Tidak! jangan jangan!" pekik Azzura, namun ia tak bisa menghindar.
Azzam yang melihat hanya terkekeh, ia bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Jahat jahat jahat jahat!" pekik Azzura kesal, bibirnya mengerucut hingga menyamai hidung.
Kedua pipinya merah, gara-gara ulah Julian dan Arnold.
"Baiklah, maaf, ini makanlah semua sandwichnya, Ku rasa Arra sudah kenyang dengan siaran itu," ucap Julian kemudian, lalu kembali menyumpal mulut Azzura dengan sandwich.
"Aa," ucap Julian memberi aba-aba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hamm!! nyam nyam, jangan lupa Vote ya Acil dan Amang2 semua 😍😍😄
Salam Ibu Haura dan Ayah Adam 💑