My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 170 - Kekeluargaan



Sampai di rumah.


Adam, langsung mengantarkan kedua anaknya menuju kamar Azam dan Azura masing-masing.


Setelah membersihkan tubuh dan beristirahat, nanti baru temui baby Agatha, pesan Adam dan diangguki patuh oleh kedua anaknya.


Memastikan jika Azam dan Azura diurus dengan baik oleh sang pelayan. Adam pun berlalu dan segera masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Membuka pintu secara perlahan dan mengintip apa yang terjadi di sana. Takutnya baby Agatha sedang tertidur dan dia tidak mau membuat kebisingan.


Dan ternyata Benar, dilihatnya sang anak bungsu sudah berada di dalam box bayi. Bisa dipastikan jika anaknya itu sudah terlelap.


Adam lalu masuk secara perlahan dan mengedarkan pandangannya. Melihat sekeliling, mencari keberadaan sang istri.


Haura, sedang duduk bersimpuh di atas karpet tebal. Melipat baju-baju kecil milik sang anak. Padahal sudah berulang kali Adam bilang, biar pelayan saja yang melipat-lipat baju seperti itu. Tapi Haura tetap saja melakukannya sendiri.


Bukan apa-apa, tapi Haura sudah biasa berkerja dan melakukan semuanya sendiri. Hanya diam dan tidak melakukan apa-apa membuat dia bosan.


"Sayang," desis Adam seraya ikut duduk di samping sang istri.


Haura, langsung memegangi dadanya yang terkejut. Adam masuk tanpa suara, membuatnya kaget tapi tak bisa bersuara.


Haura, hanya mencubit pelan kaki suaminya yang terbuka itu, hingga menampakkan bulu-bulu kakinya.


"Mas ih! bikin kaget," gerutu Haura dengan suaranya yang pelan, bahkan sengaja bicara didekat telinga sang suami agar tidak berisik.


Melihat tingkah istrinya itu membuat Adam tersenyum, lalu menggeser tubuhnya hingga duduk dibelakang Haura.


"Aku akan memijat punggungmu," bisik Adam pula dan Haura setuju.


"Pelan-pelan."


"Seperti ini?"


"Ah.. iya," jawab Haura setelah menemukan tekanan yang pas untuk punggungnya.


"Jangan pakai desaah," bisik Adam, membuat keduanya terkekeh pelan.


Setelah itu, Adam terus memijat pelan punggung istrinya, sementara Haura terus melipat-melipat baju sang anak. Jika di rumah seperti ini, mereka tampak seperti orang biasa tanpa ada embel-embel jabatan ataupun kekuasaan sedikitpun.


Tapi jika di luaran sana, baik Adam ataupun Haura langsung berubah. Semua orang akan menatapnya penuh kagum, dengan jabatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Sama-sama memiliki wajah yang dingin, tapi sekali saja mereka tersenyum, kehangatan itu langsung bisa masuk ke dalam hati semua orang.


"Sudah Mas," ucap Haura, saat lipatan bajunya selesai dan punggungnya sudah terasa lebih baik.


"Sudah?" tanya Adam sekali lagi, ingin memastikan dengan benar, jika Haura mau, dia bersedia memijatnya terus, bahkan sampai sang istri tertidur pun dia rela.


"Iya, sudah," jawab Haura. Ia bahkan hendak bangkit dari duduknya namun urung karena Adam lebih dulu menahan.


"Duduk disini dulu," pinta Adam seraya menepuk pangkuannya.


Haura, langsung menatapnya curiga. Tapi tak punya kuasa untuk menolak, ia hanya menurut saat tubuhnya ditarik pelan oleh sang suami hingga duduk di atas pangkuannya. Dengan kedua kakinya yang mengunci Azam.


"Mas mau apa?" tanya Haura, dengan nada curiga. Ia bahkan menyipitkan matanya, menatap dengan penuh tanda tanya.


"Mau minta bayaran, pijatan ku tidak gratis," jawab Adam, dengan seringai. Membuat Haura menahan tawanya saat melihat seringai itu.


Seringai mesuum.


Dan benar saja, di detik berikutnya Adam langsung menurunkan resleting depan sang istri.


Jalur yang biasa digunakan oleh baby Agatha untuk menyusu kini giliran ia yang gunakan. Bahkan tanpa melepas bra sang istri, iapun mengeluarkan salah satunya. lalu memainkan lidahnya di pucuk yang sudah menegang itu.


Membuat mulut Haura menganga merasakan sensasi yang berbeda. Padahal baby Agatha dan suaminya sama-sama menyusu.


"Mas, pintunya dikunci dulu," bisik Haura, saat sang suami mulai menanggalkan bajunya sendiri.


"Sudah sayang," balas Adam, dan detik berikutnya giliran ia menanggalkan baju sang istri.


Di atas karpet tebal itu, akhirnya mereka menyatu. Haura berada di atas dan mengemudikan permainan bergerak memutar pinggulnya dengan tempo yang pas.


Hingga akhirnya puncak itu mereka raih bersamaan dan sama-sama menumpahkan lahar.


Dengan denyutan yang masih terasa itu, Adam kembali mencium bibir istrinya sekilas. Lalu merasakan dadanya yang dijatuhi ASI.


Mereka terkekeh, dan Haura buru-buru mencabut diri.


"Awh!" jerit Adam, tertahan. Saat merasa intinya terlepas dari sarang.


Ia tersenyum, melihat Haura yang berlari ke arah mandi dengan tubuh yang polos itu.


Adam, sangat mensyukuri kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


3 bulan usia baby Agatha.


Penulis Anna, akhirnya selesai menulis buku tentang Haura. Bahkan 1 bulan lagi buku itu sudah bisa terbit dan mulai bisa di pasarkan di pasaran.


Dan hari ini, adalah hari terakhir penulis Anna menemui Haura.


Keduanya saling memeluk di teras rumah Haura pagi menjelang siang saat itu.


"Terima kasih Nyonya Haura," ucap Anna, penuh syukur. Menjadi penulis yang dipilih oleh Adam untuk menulis tentang istrinya tentu membuat Anna bangga, bahkan Haura pun bisa bekerja sama dengan baik.


"Sama-sama Penulis Anna," jawab Haura pula, dengan begitu tulusnya.


Mereka berpisah dan Haura terus memperhatikan kepergian penulis Anna. Dan saat melihat mobil Anna menghilang, ia melihat 2 mobil mewah berwarna hitam yang masuk ke halaman rumahnya.


Haura, begitu menghapal mobil siapa itu.


Satu, milik Aida dan suaminya dan satu lagi milik Sarah dan suaminya.


Bibir Haura tersenyum, seraya melangkah mendekati kedua mobil itu.


Dan tak lama kemudian terdengar teriakan Aida, mengutarakan rasa rindunya.


Aida menggendong baby Alghazali dan Sarah menggendong baby Alesha menghampiri Haura, mereka bertiga saling memeluk erat.


"Ibu, dimana abang Azam dan Azura?" tanya gadis kecil yang berada di gendongan sang ayah.


Arrabella memang memanggil Haura dengan sebutan ibu, atas permintaan Haura sendiri. Haura, lebih nyaman ketika anak-anak memanggilnya ibu. Terasa lebih dekat.


"Mereka ada di dalam sayang, ayo kita semua masuk," jawab Haura, seraya memberi jalan untuk semua orang.


Arrabela meminta turun dari gendongan sang ayah, dan Agra pun langsung menurunkannya dengan hati-hati.


Dan tanpa menunggu lama, Arrabela langsung berlari, memasuki rumah lebih dulu dan menemui kedua sepupu.


Siang itu, mereka makan siang bersama. Sekaligus silaturahmi.


Rencananya, jika kelak ada waktu senggang lagi mereka semua akan berkunjung ke rumah Agra.


Suasana kekeluargaan terasa begitu kental saat itu. Bahkan para ayah dengan senang hati menggendong bayi bayinya saat para istri membuat cemilan di meja dapur.


Tawa Azam, Azura dan Arrabella pun menambah keceriaan keluarga mereka.