My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 131 - Menunjukkannya Secara Langsung



Malam ini, gerimis turun.


Namun itu tak menghalangi Edgar untuk menemui Luna. Meskipun ia sendiri belum yakin, Luna akan benar-benar menunggunya atau tidak.


Dengan kemampuannya mengemudi mobil, Edgar melaju dengan dengan kecepatan tinggi.


Menuju rumah Luna.


Dan diujung sana, setelah panggilannya dengan Edgar terputus. Luna, langsung tergugu.


Ia bahkan masih berjongkok ditempat yang sama.


Hingga salah satu pelayannya datang dan menegur sang majikan.


"Nona, apa yang Anda lakukan? apa ada sesuatu yang jatuh? saya akan bantu cari," ucap pelayan wanita itu, ia bahkan langsung ikut berjongkok dan mencari-cari benda aneh diatas lantai.


Ditanya, Luna malah tetap bergeming.


Ucapan terakhir Edgar, benar-benar membuatnya bingung.


Edgar mengatakan, jika ia akan datang kesini. Sementara selama ini, Edgar tidak pernah berkunjung.


Lalu darimana Tuan Edgar tahu dimana rumahku? batin Luna.


"Tidak ada apapun disini Nona, apa benar anda menjatuhkan barang disini?" tanya pelayan itu lagi, sedari tadi mencari namun ia tak menemukan apapun.


Sementara Nona nya, malah melamun dan berjongkok seperti ini.


"Aku tidak menjatuhkan apapun Reya, kembalilah beristirahat," jawab Luna akhirnya, setelah kesadarannya pulih.


Luna bahkan langsung bangkit dan segera bergegas menuju teras rumah.


Ia benar-benar menunggu, benarkah Edgar datang kesini.


Luna yakin satu hal, jika Edgar sampai di rumahnya. Berarti Tuan Muda itu sudah menyelidikinya selama ini.


Dan tak lama menunggu, Luna melihat ada mobil hitam yang masuk ke halaman rumahnya.


Mobil itu lalu berhenti, dan turunlah Edgar.


Seketika, detak jantung Luna berdebar. Entah apa yang terjadi. Namun melihat tuan Edgar datang ke rumahnya di malam hari seperti ini, membuat ia gugup.


Dengan langkahnya yang lebar, Edgar menghampiri Luna yang terpaku.


Menembus hujan gerimis yang sedari tadi turun.


Hingga entah di detik ke berapa, keduanya saling berhadapan dan menatap dengan tatapan yang begitu lekat.


Luna, bahkan harus sampai menelan salivanya sendiri dengan susah payah agar tak terpengaruh dengan tatapan itu.


Tatapan yang terlihat sendu namun begitu menakutkan.


Namun langkahnya yang hendak melaju terhenti, saat dengan cepat, Edgar mencekal tangan kirinya.


Tersentak, Luna menepis tangan itu. Bersiap siaga seperti kebiasaannya selama ini.


Namun ternyata, Edgar sudah lebih dulu mengantisipasi itu. Sebelum Luna menarik tangannya, Edgar lebih dulu mencengkeramnya kuat.


"Apa maksud Anda? lepaskan tangan saya," pinta Luna, baik-baik. Merasa terancam, Luna kembali menjadi seseorang wanita yang dingin, lengkap dengan tatapannya yang tajam.


Mencoba, mengintimidasi Edgar dengan tatapan itu.


"Kamu tidak ingin tahu, bagaimana bisa aku menemukan rumahmu?" tanya Edgar, hingga membuat Luna bergeming.


Sesuatu yang juga menjadi pertanyaannya.


"Karena selama ini, aku selalu memperhatikan kamu. Tau kenapa aku seperti itu?" tanya Edgar lagi, dan Luna kehabisan kata-kata untuk menjawab.


Yang bisa Luna lakukan hanya 2, diam dan mendengarkan.


"Karena aku mencintaimu," ucap Edgar langsung, tanpa mengulur-ngulur lagi.


Sebuah kalimat yang membuat Luna terbelalak.


Sumpah demi apapun, ia tak mempercayai kalimat itu. Meskipun selama ini, Edgar memang selalu memperlakukannya dengan baik.


Tapi baginya, Edgar memang seperti itu, baik pada semua orang.


"Maaf Tuan, jika anda ingin bermain-main, jangan dengan saya," jawab Luna, sedikit kesal ketika merasa, Edgar hanya mempermainkan dirinya.


Dan mendengar itu, Edgar tersenyum kecil.


Ia tahu, Luna tidak mungkin akan langsung mempercayainya.


"Aku tahu, kamu tidak akan mempercayai ucapanku. Karena itulah, aku datang kesini, untuk menunjukkannya secara langsung."


Tanpa aba-aba, Edgar langsung mendorong Luna hingga bersandar didinding, mencekal tubuhnya dan mulai melabuhkan sebuah ciuman hangat dibibir ranum itu.


Kedua mata Luna membola, saat Edgar melumaati bibirnya dengan begitu lembut.


Sepersekian detik, Luna gamang.


Namun saat kesadarannya kembali, ia segera membanting tubuh sang tuan muda.


Brug!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Azzam : Aduh! sakit 🙈 tapi jangan lupa Vote ya Acil, Amang 😀