
Siang hari, hujan sudah mulai mereda, menyisahkan beberapa kubangan air yang mengenang.
Selepas melaksanakan shalat dzuhur di perusahaannya, Adam segera menjemput anak-anak. Saat itu Azzam, Azzura dan Arrabela sudah menunggu didepan gerbang AIG School.
Adam menjemput seorang diri, hanya pengawal bayangannya saja yang selalu setia mendampingi. Sementara Luna sudah melalang buana kemana-mana.
Ia melaksanakan perintah tuannya untuk segera melaporkan Monica, dengan pasal pencemaran nama baik dan juga penipuan.
Bahkan Luna, ingin segera persidangan itu segera dilaksanakan, jangan sampai terlalu lama menunda.
Satu minggu lagi, Persidangan cerai di pengadilan Agama berserta sidang tuntutan Adam di polres Jakarta Selatan akan segera digelar.
Siang itu juga, Luna mendatangi mansion Adam, untuk memastikan jika Monica benar-benar keluar dari sana.
Tapi ternyata, Monica masih tinggal.
"Maaf Nyonya, sebaiknya Anda pergi sebelum saya melakukan tindakan lebih," ucap Luna tak main-main. Ia tak akan segan untuk menarik Monica keluar dari dalam mansion ini.
Karena memang seperti itulah perintah yang ia dapat dari Adam.
Monica bergeming, ia hanya berdecih sebagai jawaban. Masih terus memotong tangkai bunga mawar di taman mansion itu, taman yang menjadi tempat kesukaannya di mansion ini.
Luna menggerakkan tangan kanannya, memberi isyarat untuk kedua orang suruhannya untuk menarik Monica keluar.
"Lepas!" teriak Monica dengan wajah yang memerah, menahan amarah.
"Lancang kalian berani menyentuhku!" pekik Monica lagi, tapi kedua orang pria bertubuh kekar itu tak peduli, mereka mengunci pergerakan Monica dengan kuat.
Merasa perlawanannya tak ada hasil, Monica lantas terdiam dan menatap tajam Luna.
"Dasar penjilat! awas kamu Luna, aku akan balas semua ini, aku akan buat hidupmu lebih hina daripada aku," ancam Monica, tapi Luna tak terpengaruh barang sedikitpun.
Luna lagi menggerakkan tangannya, memberi isyarat untuk segera membawa Monica keluar.
Di depan mansion, sudah ada 3 mobil yang menunggu. Satu mobil untuk membawa semua barang milik Monica, satu mobilnya lagi untuk dikendarai Luna dan mobil terakhir untuk membawa Monica kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Monica terus memberontak, namun tak sedikitpun membuahkan hasil.
Hingga mobil itu terus berjalan dan sampai didepan rumah kedua orang tuanya, rumah keluarga Sarman.
Lagi, mereka membawa Monica untuk turun.
Luna mengetuk pintu itu hingga pintunya dibuka oleh salah satu pelayan. Sebelumnya, Adam sudah mengatakan perihal kepulangan Monica itu pada sang ayah mertua, Aufar Sarman. Hingga kini Aufar beserta sang istri, Marina sudah menunggu kepulangan putrinya itu.
Plak!
Satu tamparan keras sang ibu menyambut kepulangan Monica.
Dan Luna menyaksikan itu semua.
"Bikin malu keluarga! mau di letak dimana muka mama dan papa Monic! bukan hanya menceraikanmu, tapi Adam juga menuntut keluarga kita!" pekik Marina dengan kemarahannya yang sudah memuncak.
Monica hanya terus menunduk, seraya memegangi pipinya yang terasa perih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, kini Adam beserta kedua anaknya dan sang keponakan sudah berada di dalam mobil.
Seperti biasa, mobil itu berisik dengan celotehan Azzura dan Arrabela di kursi belakang, sementara Azzam yang duduk di samping sang ayah hanya terdiam, menatap lurus ke jalanan.
Azzam dan Azzura tak mengetahui perihal video yang menyudutkan mereka dan juga sang ibu. Video itu sudah dihapus sampai ke akar-akarnya, bahkan beberapa akun yang sudah mendownload video itupun sudah terlacak dan tak bisa kembali memutar video itu.
Luna dan semua peretas ahli Malik Kingdom yang menangani masalah itu.
Siang ini, Adam kembali mengajak ketiga anak itu untuk kembali ke perusahaannya dulu. Kedatangan Azzam dan Azzura bersama sang CEO, semua karyawan yang berpapasan di lobby langsung menunduk hormat.
Arrabela bahkan sampai mengikuti pergerakan hormat mereka itu.
Sementara Azzam tetap bergeming, terus berjalan dengan tatapan lurus persis seperti sang ayah, Adam.
"Uncle, hari ini mama dan papaku sudah pulang, nanti mereka akan kesini untuk menjemputku," ucap Arrabela ketika mereka semua sudah masuk ke dalam lift khusus CEO.
"Benarkah?" tanya Adam memastikan dan Arrabella mengangguk mantap.
Sampai di lantai 69, kedua sekretaris Adam langsung menyambut, membukakan pintu untuk mereka semua.
"Ayah, Zura ngantuk," ucap Azzura ketika mereka semua sudah duduk di sofa.
Mendengar ucapan sang anak itu, Adam segera membawa Azzura kedalam pangkuannya dan menyandarkan kepala sang anak dilengannya.
"Tidurlah, akan ayah nyanyikan lagu tidur," ucap Adam.
Disaat Adam menidurkan Azzura, Azzam dan Arrabela sibuk membuka tab mereka. Kembali mengulang pelajaran yang disampaikan disekolah tadi.
Sesekali Azzura bertanya kepada Azzam, saat ia tak dapat menyelesaikan sebuah soal.
Dan Azzam akan langsung menjelaskan, dengan rinci dan mudah dimengerti. Azzura tertidur, dan Adam terperangah saat melihat sendiri bagaimana anak laki-lakinya itu begitu jenius.
Mengingatkan pada dirinya sendiri saat masih kecil dulu.
Bahkan diusianya yang baru menginjak usia 8 tahun, Adam sudah mengerti tentang manajemen perusahaan sang ayah.
Tak lama kemudian, Agra dan Sarah benar-benar datang untuk menjemput Arrabela. Mereka duduk sejenak, memandang takjub pada kedua anak kecil itu, yang benar-benar nampak seperti Adam.
"Kamu sudah pernah kehilangan mereka sekali, jangan buat mereka pergi lagi," ucap Agra. Selama ini ia selalu mengikuti kabar yang menyebar di internet, bahkan Agra dan Sarah sempat melihat video Monica itu.
"Jika butuh bantuan kami, katakan," ucap Sarah pula dan Adam mengangguk.
Selesai perbincangan singkat itu, akhirnya Agra, Sarah dan juga Arrabela memutuskan untuk pulang. Sedangkan Azzura masih belum juga terbangun.
"Zam, sini sayang," ucap Adam memanggil anak sulungnya itu untuk mendekat.
"Tidurlah disini, tidur didekat ayah," titah Adam.
Adam lalu memasang bantal sofa itu di samping tubuhnya dan meminta Azzam untuk berbaring di sana.
Sebenarnya ada kamar di dalam ruangan itu yang biasa Adam gunakan untuk beristirahat. Tapi Adam ingin semakin dekat dengan kedua anaknya, hingga ia tetap duduk disini, memangku Azzura yang sudah terlelap dan mengelus kepala Azzam agar anak laki-lakinya inipun ikut tidur siang pula.
Azzam menurut, tidur di sana dan menikmati sentuhan lembut sang ayah. Mengelus dengan sayang bahunya. Hingga lambat laun matanya menyurut dan lama-lama terpejam.
Belaian sang ayah itu terbawa hingga sampai di dalam mimpi.
Dibawah alam sadar itu, Azzam mengukir senyum tipis.