
Prriiiiiit!!
Julian yang berada di garis awal langsung berlari dengan cepat, tatapannya lurus menatap Arnold yang berada di depan sana.
"Ayo Julian!!!" pekik semua orang, memberi dukungan dan semangat.
Suara riuh para penonton langsung memenuhi area lapangan tempat pertandingan itu diadakan.
Bahkan Azzura dan Arrabela yang ikut menyaksikan Julian berlari pun ikut melompat-lompat, ingin Julian segera meyerahkan tongkat estafet pada Arnold.
"Julian! cepat!" pekik Azzura pula yang berada jauh disana. Mereka akan berlari mengitari lapangan itu.
Dan.
Grep!
Arnold menerima uluran tongkat estafet dari Julian, berada pada urutan pertama dari semua temannya.
"Arnoolld!"
Arrabela segara mengambil posisi siaga, setelah ini ia yang akan menerima tongkat estafet itu dan menyerahkannya pada Azzura.
"Arnold!" pekik Arrabela memberi semangat sang sahabat.
Dan 10 detik kemudian, Arnold berhasil menyerahkan tongkat estafet itu pada Arrabela, dengan tetap menjaga posisi mereka yang berada di depan.
"Arra! larilah yang kencang!" teriak Arnold saat melihat Arrabela yang mulai berlari menjauhinya.
Namun tiba-tiba,
Brug!
Arrabela terjatuh, hingga membuat semua orang berteriak histeris. Tak terkecuali kedua orang tuanya yang juga datang menghadiri perlombaan ini, Agra dan juga Sarah.
"Arra!" pekik Sarah seraya bangkit dari duduknya, namun Agra segera menahan tubuh istrinya itu yang hendak berlari ke area pertandingan.
Dilihatnya sang anak mulai bangkit, kembali berlari dan menyerahkan tongkat estafet itu pada Azzura.
"Arra? apa kamu baik-baik saja?" Azzura malah bertanya, seolah tak peduli dengan nilai yang akan mereka peroleh jika kalah dalam perlombaan itu.
"Lari Zura!!" pekik Arrabela hingga membuat Azzura terkejut, namun dengan segera ia langsung berlari.
"Aku baik-baik saja!" teriak Arrabela yang tidak ingin sahabatnya itu merasa cemas.
Arnold dan Julian pun langsung menghampiri Arrabela, dan memapah tubuh Arrabela. Ketiganya berdiri dan melihat Azzura dan Azzam menyelesaikan perlombaan itu.
Saat ini Azzura berada di posisi terakhir, namun dengan cepat ia bisa menyusul beberapa temannya.
Terlahir di pedesaan, membuat ia sering berlari kesana kesini sejak usia dini. Karena itulah, lomba ini mudah baginya.
"Abang! larii yang kencang!" teriak Azzura dengan napasnya yang terengah.
Dan Azzam terus berlari dengan kencang, sekencang doa yang diucapkan Adam di dalam hati. Adam sangat berharap, anaknya akan mendapatkan kemenangan. Hingga keinginannya untuk memasuki hutan di desa Parupay bersama Haura bisa terkabulkan.
Dan
Priiitt!!
Peluit kembali ditiupkan, ketika semua sudah berada di garis finis.
Azzam, menempati posisi ketiga.
Semua orang bersorak senang, termasuk tim Azzam. Kelima anak inipun langsung berkumpul dan saling memeluk erat, dengan tawa riang khas anak kecil yang saling bersahutan.
Bagi mereka semua, perlombaan ini adalah ajang untuk meningkatkan kerja sama dan hubungan mereka sebagai teman, bukan ajang untuk saling menjatuhkan.
"Arra, kakimu lecet," ucap Zura saat melihat lutut Arrabela yang nampak tergores.
"Iya, kalau begitu ayo temani aku ke UKS."
"Baiklah, ayo," sahut Azzura cepat.
"Tunggu, kami ikut," ucap Arnold pula.
Dan akhirnya kelima anak ini semuanya pergi ke UKS bersama-sama. Dipinggir lapangan pun guru olah raga mereka sudah menyambut, mengantarkan mereka semua ke UKS dan mengobati luka Arrabela.
"Lihatlah, anak kita bukan anak yang cengeng lagi, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, dibantu dengan teman-temannya," jelas Agra pada sang istri yang masih nampak cemas.
Melihat Arrabela yang masih tersenyum meski kakinya terluka, ia jadi terharu sendiri. Dulu, Arrabela adalah anak yang suka menangis.
Sekarang, setelah bertemu dengan Azzam dan Azzura, sang anak menunjukkan banyak perubahan positif.
Dan Sarah begitu mensyukuri akan hal itu.
"Iya Mas," ucap Sarah kemudian, menjawab sang suami.
Tak begitu jauh dari Agra dan Sarah berada, ada Adam dan Haura pula yang tersenyum melihat hasil perlombaan itu.
Meski kedua anak mereka kalah, namun mereka dapat melihat dengan jelas, wajah kedua anaknya yang masih terlihat bahagia. Azzam dan Azzura begitu menikmati perlombaan ini.
"Walaupun Azzam dan Azzura kalah, aku akan tetap mengabulkan permintaan Mas Adam," terang Haura, tersenyum dengan menatap Adam.
"Benarkah?" tanya Adam tak percaya dan Haura menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Akhirnya mereka berdua sepakat, setelah pernikahan nanti mereka akan pergi ke Kalimantan, melihat perkebunan Haura, datang menemui warga desa Parupay dan menyempatkan diri untuk masuk ke dalam hutan.
Mencari beberapa buah kesukaan kedua anak mereka.