My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 175 - Luna & Edgar Bagian Dua



Belajar Memasak 👩‍🍳


Hari minggu ini Luna dan Edgar berkunjung ke rumah Adam dan Haura.


Tidak ada urusan bisnis yang mereka bicarakan, hanya berkunjung saja karena sudah cukup lama tidak berkumpul di suasana santai seperti ini.


Luna juga punya niat terselubung, di belakang sang suami Luna ingin belajar masak dengan Haura.


Keahlian Haura di dapur tidak perlu di ragukan lagi, meski hingga kini nyonya Adam itu tetap saja tidak bisa mengendarai mobil sendiri meski berulang kali ia mengajarinya.


Edgar dan Adam duduk di taman samping rumah, sementara Azam dan Azura asik berenang di dampingi pengasuhnya.


Sedangkan Luna dan Haura sudah berada di dapur.


"Edgar suka makanan apa?" tanya Haura. Sambil melirik sang asisten pribadi yang sedang menghapal beberapa bumbu dapur. Membedakan antara Merica dan ketumbar.


"Aku tidak tahu namanya Nyonya, seperti rendang tapi dia kering," jawab Luna seraya mengingat-ingat.


"Abon?"


"Tapi itu tidak hancur semua Nyonya, dagingnya masih berbentuk persegi," jelas Luna sangat akademis.


Membuat Haura terkekeh pelan.


Pagi menjelang siang itu, Haura dan Luna akhirnya memasak abon, tapi dagingnya tidak dibuat terlalu hancur.


Saat tercium aroma wanginya, Luna langsung membenarkan jika ini adalah makanan kesukaan sang suami.


Kata Luna disajikan abon dengan nasi hangat Edgar sudah sangat senang, lalu ditambah sedikit sambal dan beberapa lalapan.


Cukup lama berkutat akhirnya Abon itu tersaji dengan sangat cantik, Luna bahkan tak menyangka Haura bisa seahli itu.



Menjelang makan siang, Luna dan Edgar memutuskan untuk pulang. Luna membawa 2 kotak makanan berisi Abon semua.


Sampai di rumah, Luna langsung menyajikan Abon dan teman-temannya di meja makan.


Baru memasuki dapur, indera penciuman Edgar langsung mencium aroma makanan kesukaannya. Ia bahkan langsung tersenyum melihat istrinya yang menyambut dengan senyuman pula.


"Abon," ucap Edgar dan Luna langsung mengangguk dengan antusias.


Lalu mengatakan jika tadi ia belajar masak Abon ini dengan Nyonya Haura.


Edgar, langsung memeluk erat istrinya dari arah belakang. Bahkan berulang kali menciumi pipi istrinya itu dari arah samping.


Sebenarnya Edgar tidak menuntut Luna untuk bisa ini dan itu. Dia sudah sangat mencintai istrinya, sangat bersyukur Luna sudi membalas cintanya.


Tapi mengetahui Luna yang mau berusaha untuk bisa memasak seperti ini membuat Edgar merasa haru.


"Aku sangat beruntung memiliki kamu di hidupku sayang," bisik Edgar sungguh-sungguh.


Dan Luna tersenyum, lalu berbalik dan membalas pelukan sang suami tak kalah eratnya.


"Aku juga sangat bersyukur, Mas Edgar menjadi suamiku," balas Luna, lalu menciumi dada suaminya yang terasa harum.


Dan saat Luna mendongak, Edgar langsung menjatuhkan ciumannya di atas bibir ranum itu. Ciuman penuh cinta yang membuat keduanya merasa sangat nyaman.


Merasa dicintai begitu dalam.


Adegan romantis habis dan kini saatnya menikmati makan siang yang spesial.


Keduanya duduk di kursi masing-masing dan mulai makan.


"Nanti kalau aku masak sendiri dan rasanya tidak seenak ini Mas jangan banding-bandingkan ya?" ucap Luna dengan menatap tajam sang suami.


Edgar terkekeh dan mengangguk.


"Iya sayang," jawab Edgar patuh.


Keduanya tersenyum dan mulai makan dengan lahap. Sesekali mereka juga saling menyuapi, lalu mengecup sekilas bibir pasangannya saat merasa gemas.


Rumah itu hanya dihuni oleh mereka berdua, namun tak nampak sepi dan terasa begitu hangat.