
Pagi-pagi sekali, Jodi, Labih dan Nanjan mendatangi rumah Adam.
Semalam mereka mendapat kabar dari nenek Aminah jika acil Haura dan acil Aida saat ini tengah hamil.
Labih, Nanjan dan Jodi yang ikut merasa bahagia pun memutuskan untuk berkunjung ke rumah Adam pagi itu.
Lalu sore nanti berniat mendatangi mansion nenek Zahra.
Sengaja mereka datang pagi-pagi ke rumah Adam, saat semua orang masih berada di rumah.
Saat itu Aminah sendirilah yang menyambut kedatangan mereka. Lalu mengajak semuanya langsung menuju meja makan.
Labih memberikan satu kantung plastik bawaannya pada nenek Aminah. Ada beberapa buah dari desa yang belum lama ini dikirimkan oleh sang ibu untuknya.
"Semoga Acil suka buah itu, dulu saat hamil Azzam dan Azzura, acil selalu mencarinya di hutan," ucap Labih.
Kembali terkenang, masa lalu.
Dan Aminah mengambilnya seraya tersenyum kikuk.
"Masalahnya, sekarang yang ngidam bukan acil Haura, tapi amang Adam," jelas Aminah apa adanya, hingga membuat semua pasang mata membola.
Tidak percaya akan ada kejadian seperti itu. Yang hamil siapa yang ngidam siapa.
Sedang asik berbincang, Azzam dan Azzura datang kesana dengan berlari lincah.
Meneriakkan nama kakek dan kedua abangnya dengan lantang.
Dan..
Grep!
Lagi-lagi, azzura memilih Labih untuk menggendongnya dengan sayang.
"Ha? abang bawa apa itu? apa nenek Rin yang mengirimnya?" tanya Azzura, saat melihat beberapa buah desa mereka sudah tersaji diatas meja.
"Iya sayang, sebenarnya 2 hari lalu nenek Rin kirim, abang tidak tahu jika ibu Haura hamil, jadi sebagian sudah abang makan di rumah," jawab Labih apa adanya, dengan perasaan bersalah. meskipun itu hanya sisa, tapi percayalah, buah-buah itu masih bagus dan segar.
"Berarti yang ini abang Labih dan abang Nanjan tidak boleh makan lagi," jawab azzura, dengan wajahnya yang serius.
Labih dan Nanjan memasang wajah memelas, seolah takut jika dimarahi Azzura seperti itu.
"Ayah dan ibu mana?" tanya Aminah, karena kedua anaknya itu tak kunjung turun dari dalam kamarnya.
Dan kini, giliran Azzam yang menjawab, "Ayah ingin ibu ikut ke kantor, ikut menghadiri rapat bulanan bersama ayah, jadi sekarang ibu sedang bersiap," jawab Azzam apa adanya.
Tadi, ia dan sang adik sudah menghampiri kedua orang tuanya itu. Berniat untuk turun ke meja makan bersama-sama.
Tapi ternyata, di dalam kamar sana ayahnya sedang sibuk mendandani sang ibu. Agar tidak terlihat cantik saat pergi kekantor.
Tapi tetap terlihat menawan dimata sang ayah.
Repot, batin Azzam dan azzura kompak.
Lalu memilih turun berdua saja dengan saling bergandengan tangan.
Menunggu tak datang-datang, akhirnya Aminah dan semua orang memilih untuk sarapan lebih dulu. Aminah juga meminta tolong pada chef di rumah itu, untuk menyiapkan bekal untuk Adam dan Haura kelak.
Bisa dipastikan, jika kedua anaknya itu tidak akan sarapan. Dan memilih langsung pergi ke kantor.
Dan benar saja, hingga mereka semua selesai sarapan. Adam dan Haura belum juga turun dari lantai 2.
Labih dan Nanjan serta Azzam dan Azzura bahkan sudah waktunya pergi ke sekolah dan ke kampus.
Luna sudah menunggu di depan. Sementara Labih dan Nanjan akan pergi menggunakan bus. Mereka berdua menolak saat Aida ingin memberikan supir pribadi.
Setelah berpamitan pada Aminah dan Jodi, akhirnya ke empat anak itu pergi.
Kini, Jodi duduk di ruang tengah, menunggu Aminah bersiap untuk pergi bersamanya ke toko bunga.
Dan di dalam kamar pemilik rumah ini. Sepasang suami istri itu terus saja berdebat.
"Mas, jadi aku harus pakai baju yang mana?" tanya Haura, merengek.
"Entahlah, kenapa semua baju ini membuatmu terlihat sangat cantik. Aku ingin baju yang biasa saja, yang membuatmu cantik saja, jangan sangat cantik," jawab Adam, bingung sendiri.
Ketika sedang bersama istrinya seperti ini. Adam baik-baik saja, tidak merasa mual sedikitpun.
Tapi saat sang istri tak nampak dari pandangannya, mual itu kembali menyerang.
Bahkan tadi pagi, mereka sampai mandi bersama. Saking Adam tak ingin lepas menatap sang istri.
"Kalau begitu, aku pakai cadar saja."
"Cadar?" tanya Adam, membeo.
Adam lalu menarik hijab yang dikenakan sang istri, menutup sebagain wajah Haura menggunakan hijab itu.
"Tidak, tidak, matamu jadi semakin terlihat indah jika seperti ini," ucap Adam, lalu kembali menarik tangannya turun.
Dan Haura, mencebik.
"Tuh lihat, sudah jam setengah 9 Mas, katanya rapat mulai jam 9 pagi," ucap Haura, coba mengingatkan.
Dan mengingat waktu, Adam pun menghembuskan napasnya pelan. Mau tidak mau, akhirnya ia tetap pergi bersama sang istri cantiknya itu.
"Nanti, jangan kemanapun, tetap berada di dekat ku."
"Iya Mas."