My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 86 - Perkelahian



Indonesia.


Hari kedua, Luna masih setia terus menemani sang Nyonya, Haura. Biasanya Luna selalu berkutat dengan dokumen-dokumen penting, kini ia hanya sibuk dengan bunga-bunga cantik.


Luna bahkan membantu Haura untuk merangkai bunga dalam lingkaran pita.


Kedua wanita cantik ini terus saja mengurus bunga-bunga itu, tak sadar jika kini mereka berdua diperhatikan oleh dua orang sekaligus.


Diseberang jalan sana, Salma berdiri bersama Hasan. Menatap lurus toko bunga yang nampak ramai.


Bahkan sesekali Haura keluar untuk menyambut para pelanggan itu.


"Lihatlah Hasan! bangunan toko sebesar itu adalah milik Haura. Adikmu yang tidak tahu diri itu!" ucap Salma, memprovokasi.


Salma, selama ini memang selalu mencoba menghubungi Hasan. Ingin Hasan ke Jakarta dan menuntut haknya dari sebagian harta yang di miliki oleh Haura.


Salma tidak terima jika Haura hidup enak sendiri, ia ataupun Hasan juga harus menikmati itu.


Apalagi pria yang sudah Haura goda adalah Adam Malik, orang terkaya di negeri ini. Rasanya Salma, ingin mengeruk semua harta itu.


Tahu tak bisa melakukannya sendiri, Salma teringat akan Hasan.


Hingga kini, kedua orang ini berdiri disini.


Menatap tak suka pada senyum yang selalu Haura tunjukkan diseberang sana.


"Hidupmu di kampung menderita, kekurangan uang. Tapi disini, Haura terus saja poya-poya," timpal Salma lagi.


"Kamu tahu Adam Malik? Adam Malik itu pria terkaya di Indonesia Hasan, dan Haura berhasil menggoda pria itu, bahkan Haura sampai memberikan pria itu anak!" sengit Salma lagi, ia sedikit tersenyum, kala melihat wajah Hasan yang nampak merah. Menahan amarah.


Bahkan kedua tangannya, sudah terkepal.


"Mintalah uang berapapun kepada Haura, seharusnya jika dia benar-benar menganggap mu seorang kakak dia akan berikan itu padamu. Uang 1 M bagi Adam Malik itu bisa dia dapatkan hanya semudah membalikkan telapak tangan."


Tak menanggapi sedikitpun ucapan sang tante, Hasan lalu mulai menyeberangi jalan. Hendak menghampiri adiknya itu, membuat perhitungan.


Harta yang ia peroleh dari warisan tak seberapa, ternyata disini, Haura malah bergelimang harta.


Hasan berdecih, wajar saja selama 6 tahun terakhir Haura tak pernah kembali ke kampung. Ternyata ia sudah menjadi simpanan pria kaya.


"Haura!" panggil Hasan dengan suaranya yang meninggi.


Seketika Haura berbalik, menatap sumber suara yang begitu dikenalnya, suara sang kakak.


Dan benar saja, dihadapannya ia melihat Hasan berdiri tepat di depan toko.


"Mas Hasan," jawab Haura seraya tersenyum lebar. Namun perlahan senyum itu menyurut saat melihat wajah sang kakak yang nampak marah.


Bahkan Hasan menatapnya dengan tajam, tatapan yang selalu Hasan tunjukkan selama mereka masih tinggal dalam satu rumah dulu kala.


Hasan makin mengeram kesal, kala melihat Haura dari dekat.


Dari penampilan adiknya itupun ia bisa melihat dengan jelas, jika sang adik sudah hidup enak. Kulitnya putih bersih, dengan baju bagus yang Haura kenakan?


Semenjak harta warisannya habis, ia menjadi kuli serabutan. Bahkan sang istri selalu memarahinya setiap hari. Karena keluarga mereka selalu merasa kurang.


Diseberang jalan sana, Salma bersembunyi sambil terus memperhatikan. Ia tersenyum menyeringai, kala melihat Hasan sudah bertemu dengan Haura.


Saat Hasan sudah mendapatkan uang itu, ia akan meminta bagiannya, lalu kembali mempengaruhi Hasan untuk meminta uang lagi kepada Haura.


Terus seperti itu, hingga kehidupannya kelak jadi semakin membaik.


"Ya, Hasan memang orang yang tepat untuk dijadikan pengeruk Harta Haura," gumam Salma, dengan senyumnya yang nampak licik.


"Enak ya hidupmu disini?" tanya Hasan dengan suaranya yang berat.


Sementara Haura bergeming.


Hasan melangkah semakin mendekati adiknya itu.


"Kamu itu adik yang paling tidak tahu diri, setelah hidup enak, kamu melupakan kakakmu sendiri," ucap Hasan lagi, sengit.


Para pengunjung yang ikut mendengar ucapan itu membuat mereka merasa tak nyaman. Nampak jelas, jika kedua orang ini sedang ribut didepan umum.


"Mas Hasan_"


Brug!


Seketika, Hasan tersungkur diatas teras toko bunga itu. Tadi, Hasan berniat menampar Haura, namun berakhir dengan tubuhnya yang dibanting oleh seorang wanita.


"Ah! kurang ajar, siapa kamu!" pekik Hasan, merintih, merasakan sakit disekujur tubuhnya.


Haura terkejut dan hendak membantu sang kakak. Namun dengan cepat, Luna menahannya.


"Nyonya tidak perlu membantu orang ini, dia datang kesini hanya untuk meminta uang. Bukan untuk menemui anda," jelas Luna.


"Jaga bicaramu Luna! dia ini kakakku, aku mohon sopanlah!" jawab Haura dengan suaranya yang meninggi.


Hasan bangkit, hendak membalas pukulan Luna.


Namun dengan cepat pula Luna menangkisnya dan mengunci tubuh Hasan, memutar kedua tangan pria ini lalu menendang kakinya hingga tersungkur diatas lantai.


Tanpa segan, Luna lalu mencabut rambut Hasan.


Hingga membuat Hasan memekik.


Perkelahian itu sontak membuat semua orang takut, bahkan berulang kali pun Haura berteriak, meminta keduanya untuk berhenti.


Jodi dan Aminah pun segera bergegas keluar sana.


"Nyonya, beri aku waktu untuk menunjukkan jika pria ini bukanlah orang yang baik. Dia bukan saudara kandung anda, dia hanyalah saudara tiri, kita bisa melakukan tes DNA dengan rambut ini," jelas Luna hingga membuat kedua netra Haura membola.


Dan sama, Hasan pun mendelik, tak menyangka jika ada orang lain yang mengetahui perihal ini.