
Ketika membuka matanya, Haura sudah tak melihat siapapun di ruang rapat itu.
Ia bangkit dari lengan suaminya hingga tatapannya dan Adam bertemu.
"Dimana semua orang Mas?" tanya Haura dengan suaranya yang parau, khas orang bangun tidur.
Tak biasanya, jam jam 10 seperti tadi ia sudah mengantuk. Tapi entah kenapa, tadi seolah matanya begitu berat. Hanya tertutup sedikit tiba-tiba langsung terlelap.
"Sekarang sudah jam setengah 1 siang sayang, mereka semua sudah keluar, istirahat makan siang," jelas Adam seraya menggerakkan tangan kirinya yang terasa kebas.
Haura, benar-benar memanfaatkan lengan itu dengan baik, sebagai bantal.
Melihat sang suami yang nampak kesakitan, Haura tersenyum kikuk. Sadar, jika karenanya lah tangan suaminya jadi seperti ini.
Nampak kaku.
"Sini Mas, aku akan bertanggung jawab," ucap Haura, ia menarik tangan suaminya itu dan mulai memijatnya pelan-pelan.
"Maaf ya Mas, disaat kamu rapat, aku malah tidur. Aku sudah tidak sopan pada semua karyawan mu," timpal Haura, ia sungguh merasa bersalah akan tindakannya itu.
Haura juga berpikir, jika kini pasti seluruh karyawan Malik Kingdom sedang membicarakan dirinya, sebagai tukang tidur.
"Jangan minta maaf sayang, kamu tidak bersalah. Lagipula mereka semua tahu, jika sekarang kamu tengah mengandung. Anak kita pasti ingin ibunya tidur dan beristirahat," jelas Adam.
Tadi ia mengatakan pada semua peserta rapat, jika saat ini istrinya tengah hamil.
Karena itulah Haura banyak butuh waktu istirahat. Jadi saat istrinya tidur seperti ini, jangan ganggu dia.
Sebenarnya saat ini para karyawan bukan membicarakan tentang Haura. Melainkan tentang kebucinan tuannya itu, Adam Malik.
Mereka akhirnya sadar satu hal, jika seorang Adam Malik tetaplah manusia biasa. Tetap seorang pria yang takut pada istrinya.
Lagi, para karyawan yang tadi mengikuti rapat terkekeh.
Pemandangan langka yang belum pernah mereka lihat selama ini. Akhirnya, ada seseorang hang bisa meluluh lantahkan gunung es Adam.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Haura, cukup lama ia memijat dan suaminya terus menatapnya lekat.
"Belum," jawab Adam singkat.
Dan Adam tersenyum kecil saat melihat istrinya itu mencebik.
"Duduklah di pangkuanku, aku akan menunjukkan sesuatu," pinta Adam, sebelum Haura menjawab ia sudah lebih dulu menarik istrinya itu untuk duduk di atas pangkuannya.
Di dalam ruang rapat besar ini hanya ada mereka berdua, sementara Kris berada diluar pintu.
Menjaga agar tak ada satupun orang yang datang mengganggu tuannya.
Setelah Haura duduk dipangkuan sang suami, Adam langsung menunjukkan layar tabletnya.
"Lihatlah, apa kamu menyukainya?" tanya Adam, seraya terus menggulir beberapa gambar di layar tablet itu. Dan Haura terus memperhatikan satu per satunya.
"Ada perapian yang kamu minta," ucap Adam lagi, sementara Haura masih terus memperhatikan, belum tau apa maksud sang suami menunjukkan semua gambar-gambar ini.
"Dan ini, akan jadi tempat favoritku," bisik Adam, ketika gambar sebuah ranjang tertera di sana.
Haura merinding, lalu menoleh dan menatap suaminya itu.
"Rumah siapa itu?" tanya Haura, bingung.
Suaminya mengatakan jika tempat tidur itu akan jadi tempat favoritnya. Sementara Haura, tak tau itu rumah siapa.
Haura menatap tajam suaminya, mengira Adam akan menikah lagi dan menempati rumah itu dengan madunya.
"Kenapa menatapku seperti itu, itu rumah kita sayang, rumah yang kamu minta saat kita pergi ke hutan di desa Parupay. Aku ingin kita baby moon di sana," jelas Adam panjang kali lebar.
Dan berhasil membuat tatapan Haura luluh dan mulai menatap tak percaya.
"Benarkah mas mengabulkan keinginanku itu?" tanya Haura, memastikan. Saat itu ia tak sungguh-sungguh, hanya ingin mengikuti permainan sang suami.
"Tentu saja, itu adalah permintaan pertamamu padaku," jawab Adam apa adanya. Seraya menatap lekat kedua netra sang istri.
"Di Sana kamarnya ada banyak, kita bisa mengajak Azzam dan Azzura sekaligus, dan Kris yang akan mengawasi mereka berdua."
Haura tersenyum, tak sanggup lagi berkata-kata.
Yang bisa Haura lakukan hanya satu, memeluk suaminya erat dengan kedua tangannya yang melingkar di pundak sang suami.
"Mas tidak bohong?"
"Tidak," jawab Adam, seraya tersenyum lebar dibalik pelukan hangat istrinya itu.
Pelukan, yang ia balas tak kalah eratnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kris : Ehem! jangan lupa Vote 👨💼