My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 43 - Manis



"Biar aku yang bawa," ucap Adam, seraya mengambil dua kantong plastik yang sudah berada ditangan Haura.


Wanita dua anak ini tak bisa menolak, karena Adam langsung saja mengambil paksa dua kantong plastik itu.


Akhirnya Haura hanya bisa menurut, lalu berjalan disebelah Adam menuju pintu rumahnya. Saat ini sudah jam 2 siang, Azzam dan Azzura pasti sudah pulang sekolah.


Haura bergerak, menekan bell rumah itu. Dan tak lama kemudian, pintu dibuka oleh Azzura.


"Ibu!" pekik Azzura dengan riangnya, ia hendak langsung memeluk sang ibu, namun saat melihat ada Adam pula, iapun meneriaki sang ayah, "Ayah!" pekik Zura lagi lalu memeluk ibu dan ayahnya sekaligus.


Sementara Haura dan Adam pun langsung berjongkok, untuk menyambut anak mereka.


Azzura memeluk kedua orang tuanya erat, hingga membuat Adam dan Haura begitu dekat.


Bahkan demi menjaga jarak, Haura nyaris saja terhuyung, hingga dengan cepat Adam memeluk bahunya.


Deg!


Seketika, Haura merasa seperti tersengat listrik, ada geleyar aneh yang merasuki tubuhnya kala mendapat sentuhan dari Adam. Bukan trauma yang seperti ia rasakan selama ini jika bersentuhan dengan pria lain.


Namun perasaan terlindungi.


Perasaan yang ia dapat jika hanya sedang bersama Adam saja.


"Untung Ibu dan Ayah sudah pulang, aku lihat di TV, Kalimantan kemarin hujan badai, bahkan ada beberapa daerah yang terkena banjir," celoteh Azzura setelah melepaskan pelukannya pada sang ayah dan sang ibu.


Haura tersenyum, ia rindu sekali dengan suara renyah ini.


"Iya sayang, kemarin hujan badai, karena itulah ibu dan ayah tidak bisa langsung pulang. Baru hari ini bisa sampai."


Bukan hanya Azzura yang tersenyum kala mendengar ucapan Haura itu, namun bibir Adam pun otomatis tertarik membentuk sebuah senyuman.


Ibu dan Ayah, yang haura ucapkan membuat hati Adam menghangat.


Dan mendengar ada suara ramai-ramai didepan, Azzam pun ikut menghampiri. Sama seperti sang adik. Ia pun sangat merindukan ibunya, janji pulang setelah 3 hari, ternyata Haura pergi selama 4 hari.


Saat melihat Haura dan Adam di sana, Azzam pun memeluk kedua orang itu dengan erat, hingga Adam kembali menarik Azzura dan membawanya kembali masuk kedalam dekapan mereka.


Azzam, Azzura, Haura dan Adam, mereka saling memeluk erat.


Entahlah, siapa yang paling bahagia diantara mereka berempat. Namun semuanya mengukir senyum yang sama.


Tanpa disadari oleh semua orang itu, jika ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka dari dalam sebuah mobil yang terparkir diseberang jalan rumah Haura.


Monica, mencengkram setir mobilnya dengan kuat. Ia melihat dengan jelas bagaimana seorang Adam bersikap begitu hangat pada Haura dan juga kedua anaknya.


Sikap yang tidak pernah ia dapatkan selama 6 tahun pernikahan mereka.


"Apa Haura tidak melihat videoku waktu itu? apa Haura tidak tahu jika mas Adam sudah memiliki istri?" gumamnya geram. Ternyata, Haura bukanlah gadis polos seperti yang ada dibenaknya selama ini. Ternyata, Haura sama saja dengan wanita lain di luaran sana. Memanfaatkan segala cara untuk mendapat perhatian Adam.


Dengan hati yang makin membenci, Monica kembali menekan pedal Gas dan pergi. Tadi, ia berniat untuk menemui suaminya itu di kantor.


Namun langkahnya terhenti, saat di lobby ia melihat Adam yang bejalan dengan menggenggam erat tangan Haura. Hatinya seperti diremat-remat kala melihat itu.


Monica tahu ia salah, tapi kini ia dan Adam belum resmi bercerai. Dan tanpa memikirkan perasaannya, Adam membawa wanita itu ke perusahaan Malik Kingdom, dilihat oleh semua orang. Lalu dimana harga dirinya sebagai seorang istri?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dapur rumah Haura.


Azzam, Azzura, Jodi dan Aminah duduk dimeja makan. Menikmati beberapa buah yang sudah Haura bawa. Bagi Jodi ini adalah rasa baru, namun bagi kedua anak kecil itu, ini adalah buah kesukaan mereka.


"Ini apa?" tanya Adam heran.



Haura mengulum senyumnya, saat melihat wajah Adam yang terheran-heran seperti ini.


"Bukankah Mas ingin memakannya?" tanya Haura, seraya mengambil satu buah tarap dan menyuapkannya ke mulut Adam.


Bagaikan kerbau yang dicolok hidungnya, melihat sang tuan mengulurkan makanan, ia pun sedikit menunduk dan membuka mulutnya.


Lalu sedikit bergidik, saat merasakan buah yang ia makan begitu manis.


"Manis," ucap Adam, seperti seorang penilai makanan.


Manis, seperti kamu. Batin Adam kemudian, saat melihat Haura yang menahan tawa melihat tingkahnya.


Dan pemandangan itu, sontak membuat semua orang pun ikut mengulum senyumnya. Ada Adam, rumah ini jadi terasa lebih manis.


"Ini mangga?" tanya Adam lagi.



"Bukan, ini buah kasturi," jawab Haura, ia masih sibuk membersihkan jamur. Sementara Adam membuka semua buah yang mereka bawa, sebagiannya lagi sudah di makan oleh semua keluarga.


"Kasturi?" Adam membeo dan Haura mengangguk. Tapi tatapannya masih fokus, pada jamur yang ia bersihkan.


"Apa rasanya juga manis?"


"Manis dan segar."


Adam kembali mencicipi buah itu, dan benar saja, rasanya manis dan segar, ia pikir akan terasa begitu asam.


"Buka mulutmu," titah Adam, seraya mengulurkan sepotong buah kasturi ke arah mulut Haura.


Haura yang sedang sibuk dan tak ingin membuang-buang waktupun lalu menoleh, membuka mulutnya dan memakan buah itu.


"Manis kan?" ulang Haura kemudian, sesaat tatapan keduanya terkunci. Entah suasana macam apa ini, namun seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.


Bahkan Adam tanpa segan, menghapus sisa buah yang menempel disudut bibir Haura.


"Harusnya kita makan di ruang tengah," bisik Jodi pada Aminah.


Menahan senyumnya, Aminah mengangguk. Sepulang dari Kalimantan, Haura jadi sering tersenyum seperti itu.


"Ayah, jangan dimakan semua, aku juga mau," keluh Azzura seraya turun dari kursinya dan menghampiri sang ayah di meja pantry, saat melihat Ayahnya itu terus makan tanpa berhenti.


Adam terkekeh, baru tersadar jika tak hanya ada ia dan Haura saja di dapur ini.


"Maaf sayang, ayah kan baru tahu ada buah seenak ini, harusnya Zura mengalah pada ayah," jawab Adam, ia mencuci tangannya di wastafel dan menggendong sang anak, menahan tubuh Zura hanya dengan satu tangan, lalu tangan yang lainnya lagi menyuapi anak bungsunya ini dengan buah yang sedari tadi ia makan.


"Maniss," ucap Azzura dan Adam kompak.


Haura hanya menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika Adam akan bersikap seperti Azzura pula.


"Ayah, aku juga mau," ucap Azzam yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Adam.


Tanpa babibu, Adam pun langsung mengendong Azzam pula.


"Lalu, siapa yang menyuapi kita?" tanya Adam, saat kedua tangannya tak ada yang bebas.


"Ibu!" pekik Azzam dan Azzura kompak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...💕💕Salam AH dan baby AzRa 💕💕...