My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 161 - Desa Parupay Yang Indah



Sudah menikah, Luna tidak lagi tidur bersama Haura saat menginap di desa Parupay.


Haura, meminta Luna dan Edgar untuk tidur di rumah sederhananya, agar memiliki privasi.


Sementara ia dan keluarganya akan menginap di rumah ibu Ririn. Tidur bersama-sama dengan anak-anak dalam satu kamar.


Luna menurut. Bersama dengan Edgar ia berjalan berdua menuju rumah sang Nyonya.


Rumah yang sudah beberapa kali ia datangi, jujur saja, sebenarnya sejak dulu Luna ingin tidur ditempat ini. Merasakan sensasi seperti sedang liburan di alam.


Rumah kayu dan beralaskan tanah.


"Kamu bahagia sekali?" tanya Edgar, ia lalu menarik tangan sang istri agar berjalan lebih dekat dengannya.


Luna yang sudah terbiasa dengan sentuhan sang suami pun memeluk lengan suaminya itu. Bahkan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu Edgar.


"Rumah Nyonya Haura sangat antik, ku harap Mas tidak akan terkejut dan menyukainya," jawab Luna.


Pasalnya rumah sang nyonya tidak seperti milik ibu Ririn tadi. Yang sudah punya dinding permanen dan lantai kramik.


Edgar tak menjawan apapun, jadi makin penasaran seperti apa rumah yang akan mereka tuju. Cukup lama berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah yang paling ujung di desa ini.


Rumah yang sangat sederhana.


"Selamat datang, ini adalah rumah ibu Haura," jelas Luna, seperti pemandu wisata.


Edgar tersenyum, jujur saja ia terkejut. Tapi tak ada sedikitpun niat untuk kabur.


Ia justru sangat antusias untuk masuk ke dalam, belum lagi sedari tadi udara dingin sudah menggelitik tubuhnya.


"Jadi nyonya Haura dan kedua anaknya tinggal disini?" tanya Edgar, sementara Luna sibuk mengambil kunci dibawah pot bunga lalu membukanya, sebuah gembok kecil sebagai pengaman.


"Bersama nenek Aminah juga," jawab Luna dan pintu itu terbuka.


Keduanya masuk dan Luna kembali menutup dan mengunci pintu itu rapat-rapat.


Kunci dari dalam ini menggunakan kayu kecil berbentuk persegi panjang, yang bisa diputar-putar. Ada 2, bagian atas dan bawah.


Luna berbalik, dan melihat suaminya yanh tersenyum seraya menatap lekat ke arahnya.


"Kenapa? Mas tidak mau tidur disini?" tanya Luna, seraya meledek. Seorang tuan muda pasti akan merengek minta pulang.


Bukannya menjawab, Edgar malah mendekat dan memeluk pinggang istrinya erat. Sedangkan Luna langsung menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.


"Dimana kamarnya?" tanya Edgar langsung membuat Luna terkekeh.


"Ini masih sore Mas, terlalu awal untuk masuk kamar, lagipula kita akan semalaman disini," jawab Luna, diantara kekehannya yang belum reda.


Tawa itu putus saat Edgar langsung mengigit bibir istrinya, gemas.


Awalnya Luna meronta, namun lambat laun ia membalas ciuman itu. Ciuman dalam dan menuntut. Hingga akhirnya langkah Luna lah yang menuntun sang suami agar menuju kamar.


Bergumul disana mencari kehangatan dari dinginnya suasana pegunungan.


Desahaan Luna dibuat pelan, agar tidak terdengar sampai keluar rumah. Namun decitan ranjang itu tak bisa bohong. Bagaimana kuatnya Edgar menyentak sang istri.


Keduanya saling memeluk erat, saat pelepasan itu mereka dapatkan bersama-sama, setelah cukup lama beradu.


Baik Luna ataupun Edgar, sangat berharap jika benih-benih cinta itu bisa tumbuh menjadi sebuah janin.


"Aku sangat mencintaimu Luna," desis Edgar, tepat ditelinga sang istri.


Luna tersenyum, ia tahu Edgar tak pernah bohong dengan kata-katanya itu. Luna sudah membaca buku tentang Edgar Suryo yang ditulis oleh penulis Anna, dalam buku itu namanya sudah ditulis, jauh-jauh hari sebelum mereka bersatu.


Bahkan di dalam buku itu ditulis jelas saat pertemuan pertamanya dengan Edgar.


Semakin memeluk erat sang suami, Luna pun membalas kata-kata cinta itu.


"Aku lebih mencintaimu Mas," desis Luna, dengan suaranya yang putus-putus, tersenggal. Suaranya habis untuk mendesah.


Dan Edgar tersenyum, menarik wajahnya dan kembali menjatuhkan sebuah ciuman dibibir sang istri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, di desa Parupay yang Indah.


Semua warga bersiap untuk menghadiri pernikahan Sanja dan Shakir. Pagi itu semua orang sibuk.


Layaknya pernikahan didesa, maka perayaan itupun disambut antusias oleh semua warga. Ibu-ibu para tetangga terdekat Sanja membantu memasak didapur menyiapkan makanan untuk para tamu undangan. Sementara bapak-bapak mulai membenahi tenda, kursi dan meja yang kurang rapi dan menyiapkan tempat parkir.


Tamu yang akan datang cukup banyak, mengingat keluarga Sanja yang rata-rata menjadi dontek dan bidan, membuatnya banyak dikenal oleh orang, bahkan dari desa tetangga.


Shakir, semalam bersama keluarga besarnya menginap di Krayan.


Jam 7 pagi setelah bersiap, mereka langsung menuju ke desa Parupay. Iring-iringan menggunakan beberapa mobil.


Senyum Shakir tak pernah surut, membayangkan sebentar lagi ia akan mempersunting sang pujaan hati.


Dan kini di rumah Sanja, Haura dan Luna pun sudah ada disana. Kedua wanita dari Jakarta ini menyaksikan Sanja yang sedang dirias oleh perias pengantin. Rias pengantin khas suku Banjar, sangat cantik.


Duduk disisi ranjang dan memperhatikan.


Haura, lalu melirik Luna yang membawa sebuah paper bag kecil ditangannya. Sepertinya, itu adalah kado untuk Sanja.


"Apa yang kamu bawa?" bisik Haura pada sang asisten.


Luna pum menoleh dan membalas tatapan sang nyonya. Keduanya saling pandang lalu sama-sama mengulum senyum.


"Sepertinya sama seperti yang Anda bawa," jawab Luna dengam berbisik pula.


Haura menahan kekehannya agar tidak pecah. Ya, di tangan kanannya pun ia membawa sebuah paper bag kecil.


Lingeri! bisik keduanya kompak. Gemas sendiri Haura pun memukul lengan Luna pelan.


Lalu kekehan keduanya terhenti saat sang perias wajah melirik keduanya sekilas.


Haura dan Luna langsung menelan kekehannya dan bersikap biasa saja.


Jam 9 pagi, acara ijan kabul itupun digelas. Shakir dengan lantangnya mengucapkan ijab kabul, lancar dan hanya dengan satu tarikan napas.


Mendengar kata SAH bergema, mendadak suasana jadi haru. Belum lagi setelah sah menjadi suami dan istri. Para warga pun secara langsung memberi ucapan selamat pada Sanja dengan sebuah pelukan hangat dan penuh kasih sayang.


Gadis desa mereka sudah menikah, dan kelak akan ikut kemanapun sang suami pergi. Termasuk pergi ke negeri Jiran sana.


Setelah semua warga desa mengucapkan selamat, kini giliran rombongan dari Jakarta.


Adam dan Edgar mengucapkan selamat pada Shakir, sementara Haura dan Luna memeluk Sanja erat sebagai bentuk ucapan selamat.


"Ingat janjimu Sanja, sampai anak ini lahir kamu akan tetap jadi bidanku," ucap Haura, rasanya masih tak terbayang jika Sanja akan pergi ke negeri Jiran.


"Iya Haura, itu adalah janjiku. Aku akan membantumu melahirkan bayi cantik ini," jawab Sanja.


"Dan Luna, jangan lupa minum vitaminmu. Selama aku di Indonesia manfaatkanlah aku sebaik mungkin," jelas Sanja lagi, membuat pelukan wanita ini semakin erat.


Sanja, memang memberikan beberapa vitamin untuk Luna untuk menyuburkan rahimnya.


Haura, Luna dan Sanja, sudah menjelma menjadi sahabat.