
Masih belum menyerah, kini Monica mendatangi Darius. Pria bernama lengkap Darius Atmajaya ini harus bertanggung jawab membantunya untuk bangkit.
Karena Darius lah, otak dari awal mula kesalahan Monica.
Menggunakan obat laknat itu untuk Adam hingga berakhir adanya Haura.
Brak!
Dengan kasar, Monica membuka pintu ruang kerja Darius, CEO Atmajaya Group.
Darius yang tengah berbincang dengan sang asisten Yosep pun langsung tersentak, tatapan keduanya langsung tertuju ke arah pintu.
Mengetahui yang datang Monica, lengkap pula dengan wajah sembabnya, Darius hanya menyeringai.
Menunggu wanita ini marah-marah.
"Darius! kamu harus bertanggung jawab padaku! ini semua kesalahanmu!" pekik Monica hingga membuat wajahnya memerah.
Monica bahkan dengan cepat berjalan ke arah meja Darius, lalu melempari Darius dengan semua benda yang ada di sana.
Namun dengan cepat pula, Yosep mencekal tangan Monica, bahkan mengunci pergerakan tubuhnya.
"Lepas!" pekik Monica, gusar.
Dan Darius langsung bangkit dari duduknya, menghampiri Monica lalu mencengkram kuat dagu wanita ini.
"Pergilah, aku tidak sedikitpun peduli dengan apa yang menimpamu!" ucap Darius, geram. Hubungannya dengan Monica hanyalah sebuah kesepakatan.
Bahkan dari kesepakatan yang mereka lakukan, Hingga kini Darius belum juga mendapatkan Luna. Mengingat itu, Darius pun jadi geram sendiri.
"Kamu memiliki waktu 5 tahun untuk merebut hati Adam, tapi kamu malah sibuk bersenang-senang. Itu salahmu sendiri!" timpal Darius lagi, melihat wajah pias Monica ia segera melepas cengkeramannya dengan begitu kasar.
Hingga membuat Monica kembali menangis dengan sangat pilu.
Kini, semua orang tak ada satupun yang peduli kepadanya.
"Usir dia!" titah Darius, dan dengan cepat Yosep menarik tubuh Monica untuk meninggalkan ruangan itu. Lalu mendorongnya untuk masuk ke dalam Lift.
Lift yang menuju lobby kantor ini.
Di dalam Lobby itu, Monica menangis dengan tersedu. Ia bahkan sampai berjongkok dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Terus menyalahkan takdir yang begitu kejam kepadanya.
Stres, Monica lalu menuju Bar. Membuat dirinya tak sadar atas semua yang terjadi. Berharap ketika bangun nanti kehidupannya yang nyaman akan kembali.
Memiliki suami seorang Adam Malik, tinggal di mansion super mewah. Kedua orang tuanya pun menyayanginya tanpa henti.
Diantara ambang kesadarannya, Monica tersenyum, membayangkan jika itu semua akan kembali ia raih.
Namun naas, ketika ia terbangun, tak ada satupun yang kembali ia dapatkan. Tapi kini, semuanya benar-benar hilang.
Malam itu, Monica tertidur di sofa Bar, setelah menghabiskan uang 30 juta untuk bersenang-senang semalam.
Bahkan diantara ambang kesadarannya, ia berteriak akan mentraktir semua orang minum.
Duduk tercenung, Monica diatas sofa Bar itu. Bar sepi yang hanya ia huni seorang diri bersama para pelayan di Bar itu.
"Uangku tinggal 10 juta juga?" gumam Monica terhenyak.
Kamar mahal yang ia pesan tak sempat ia tiduri dan 40 juta menghilang tanpa tahu apa yang terjadi.
Lagi-lagi Monica menangis, padahal kedua matanya sudah begitu bengkak.
Monica tidak tahu, kemana kakinya harus pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Disisi lain, seperti hitam dan putih, disaat Monica tengah terpuruk, Haura kini tengah merasakan kebahagiaan.
Menjelang hari pernikahannya.
Pagi itu, saat Adam menjemput Azzam dan Azzura ke sekolah, Adam juga mengajak Haura untuk ikut bersamanya.
Adam mengatakan, jika Zahra meminta mereka untuk fitting baju pengantin.
Baju yang akan dijahit secara khusus untuk kedua calon pengantin ini. Dan dengan tersenyum, Haura pun menurut.
Hingga kini keluarga kecil ini sudah berada di dalam mobil, mobil yang melaju ditengah-tengah jalanan kota Jakarta.
"Kenapa harus pergi sekarang sih? kan Zura mau ikuut," rengek si bungsu, yang terdengar begitu menggemaskan.
Haura tak langsung menjawab, ia yang duduk bersama Azzura di kursi belakang pun mengelus pucuk kepala sang anak dengan sayang.
"Nanti, Ading juga ukur baju kok, sama abang Azzam, nenek inah sama kakek Jo, nenek Zahra, tante Aida dan om Yuda juga, sama-sama. Tapi sekarang ibu dan ayah lebih dulu," terang Haura apa adanya.
Sesuai rencana, para keluarga memang akan menggunakan baju yang senada. Mereka semua pun akan menjalani fitting baju, namun kini yang diutamakan untuk pengantinnya dulu.
Karena menjahit baju pengantin membutuhkan waktu yang lebih banyak, dengan desain yang lebih detail.
"Benarkah?" tanya Azzura memastikan, dengan wajahnya yang begitu antusias, karena mengukur baju bersama para keluarga akan lebih mengasikkan.
"Iya sayang." Dan kini Adam yang menjawab.
Azzam yang ikut mendengarnya pun ikut berbahagia pula.
"Apa Arra juga akan fitting baju Bu?" tanya Azzam kemudian, dan Haura menganggukkan kepala.
"Semua keluarga Malik akan menggunakan baju yang senada sayang," timpal Haura kemudian.
Kata Zahra, ia akan menuruti keinginan Haura untuk menggelar acara pernikahan dengan sederhana.
Namun nyatanya, sederhana bagi Zahra masih juga nampak begitu mewah di mata Haura.
Keseruan mereka berbincang terhenti, saat mobil itu sudah sampai di depan gerbang AIG School.
Mereka berempat turun, Adam dan Haura berdiri bersebelahan memperhatikan kedua anaknya berlari memasuki sekolah itu, lalu bertemu dengan salah satu teman mereka, Julian.
Haura tersenyum kala melihat itu, bersyukur karena disini kedua anaknya bisa beradaptasi dengan baik.
"Ayo," ajak Adam, ia bahkan langsung menarik tangan Haura dan membawanya ke pintu mobil sebelah kemudi.
Membukakan pintu itu untuk Haura dan mempersilahkan sang wanita duduk. Lalu kembali menutupnya, dan bergegas ikut masuk pula.
"Dimana fitting bajunya, Mas?" tanya Haura penasaran.
"Di mansion ibu sayang," jawab Adam apa adanya.
Kini, Adam sudah begitu terbiasa memanggil Haura sayang. Namun hingga kini pula, Haura masih merasa berdebar kala mendengar panggilan itu dari Adam.
Sayang, ulang Haura di dalam hati.
Namun ia akhirnya mengigit bibir bawahnya sendiri, merasa lucu.