My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 60 - Senyum Iblis



Tanpa menunda, sehabis shalat subuh Adam langsung memeriksakan keadaan tangan Haura yang terluka.


Nampak jelas jika luka-luka kecil yang berbentuk goresan itu sudah mengering.


Adam meminta untuk kembali dibalut, namun Haura menolak, itu terlalu berlebihan, pikirnya. Namun mengerti jika Adam tak akan mau mendengar alasannya, akhirnya Haura membawa nama Azzam dan Azzura, beralasan tak ingin membuat Azzam dan Azzura cemas, barulah Adam menganggukkan kepala.


Tangan Haura tidak jadi dibalut kembali.


"Ini kan sudah kering, Mas terlalu berlebihan," ucap Haura dengan wajahnya yang ditekuk, jujur saja ia merasa malu kepada dua dokter yang menanganinya itu.


Kini Haura dan Adam mulai berjalan keluar dari dalam ruang rawat, hendak pulang.


"Aku takut tanganmu infeksi, nanti jadi lebih lama sembuhnya," jawab Adam apa adanya, namun tetap saja Haura tak terima.


Saking kesalnya, Haura sampai tak peduli saat Adam menggenggam tangannya yang tidak terluka ketika masuk ke dalam lift dan bergabung dengan orang-orang yang lain.


Adam lalu memposisikan diri dibelakang Haura dan menggenggam kedua bahu wanitanya dari arah belakang.


Lift sangat ramai, hingga nyaris berdesakan.


"Kenapa kita masuk sekarang? harusnya tunggu lift berikutnya agar tidak terlalu berdesakan," bisik Haura, bukan apa-apa, ia hanya takut terjadi kecelakaan, lift berhenti ditengah jalan karena kelebihan muatan.


Adam tak langsung menjawab, ia malah menghitung jumlah orang didalam lift itu.


"Tenanglah, ini masih dalam batas wajar. Mendekat padaku," jawab Adam kemudian, dan dengan sendirinya ia menarik tubuh Haura lebih kebelakang, hingga mereka saling menempel.


"Pengantin baru ya Mas?" tanya seorang ibu-ibu yang berdiri tepat disebelah Adam.


Adam tak menjawab apapun, hanya tersenyum dengan senyum yang sangat lebar.


Haura yang ikut mendengar pertanyaan itupun hanya mampu tersenyum kikuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat saat jam setengah 7 pagi, Adam dan Haura sampai di rumah.


"Aku akan pulang sebentar, jam 7 nanti kesini lagi," ucap Adam, ia menoleh menatap Haura ketika baru saja mobilnya terparkir di halaman.


"Iya Mas, hati-hati ya," jawab Haura, ia lalu hendak membuka pintu, namun ternyata Adam masih menguncinya. Hingga membuat Haura kembali menoleh kearah Adam.


Menatap dengan arti kenapa pintunya tidak dibuka?


Adam yang mengerti tatapan itupun mengerakkan tangannya, mengelus pucuk kepala Haura.


"Boleh aku jujur?" tanya Adam, dan Haura mengeryitkan dahinya, bingung.


Entah kenapa, mendadak Adam menatapnya dengan tatapan yang entah.


"Jujur tentang apa?" tanya balik Haura, ingin segera tahu, sebenarnya apa yang sedang dibicarakan oleh Adam.


"Aku tidak suka melihatmu pergi begitu saja," jelas Adam, ia lalu menarik tubuh Haura dan memeluknya erat.


Sudah tak sanggup lagi ia selalu menahan rasa, Adam ingin Haura tahu, bahwa ia sudah mencintai Haura, wanita yang ia cari semenjak enam tahun silam.


Pencarian yang terus membuatnya hanya memikirkan satu wanita ini saja. Pencarian yang akhirnya menumbuhkan rasa cinta.


Puas mendekap Haura, Adam lalu melepaskan pelukan itu, ia langsung membuka kunci pintu mobil, hingga terdengar bunyi Klik yang begitu jelas di ruang sunyi ini.


"Hubungan kita bukan hanya tentang Azzam dan Azzura, tapi juga aku dan kamu," jelas Adam, namun Haura bergeming.


Debaran didalam hatinya, membuat ia kesulitan untuk bicara, lidahnya kelu.


"Bukalah hatimu untukku, Haura. Hingga kamu dapat merasakan apa yang ada didalam hatiku, meski tanpa ku ucapkan," timpal Adam lagi, hingga membuat Haura gamang.


Terlalu banyak teka-teki.


"Pergilah," ucap Adam akhirnya, ia bahkan dengan jelas membelai lembut wajah Haura, seolah tak ingin lagi menutupi perasaan didalam hati.


"Turunlah, sebelum aku bertindak lebih," goda Adam hingga membuat kedua netra Haura membola. Apalagi saat itu, tangan Adam sudah menyentuh dagunya.


Tanpa babibu lagi, Haura segera turun. Ia bahkan sedikit berlari menuju pintu rumahnya. Buru-buru membuka, lalu masuk dengan segera.


Dan Adam, ia terkekeh. Dengan perasaaan yang terasa begitu lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini. Monica bersama pengacaranya Elsha, mendatangi kantor pengadilan agama. Monica melakukan semua yang diperintahkan Adam semalam.


Mengatakan jika ia sudah siap bercerai, mengakui semua kesalahannya. Bahkan memohon untuk hari ini juga digelar sidang putusan perceraian mereka berdua.


Monica berdalih, tak ingin semakin lama merasa bersalah pada sang suami, Adam.


Melihat Monica yang memohon dengan derai air matanya itu, membuat para hakim iba. Hingga mengabulkan keinginannya untuk kembali menggelar sidang perceraian.


Siang nanti, sidang itu akan dilaksanakan.


Dengan menghapus air matanya, Monica berjalan keluar dari kantor pengadilan Agama.


"Apa yang akan terjadi pada hidupku kelak jika aku berpisah dengan mas Adam? ini semua gara-gara Haura kan? " tanyanya pada sang pengacara. Seolah meminta dukungan atas semua yang ia tuduhkan.


Jujur saja, melihat itu Elsha pun merasa iba. Namun dalam kasus ini, memang Monicalah yang bersalah. Bahkan sangat wajar jika Adam sampai menuntut sebuah perceraian.


"Cobalah untuk merenungi ini semua Monica, jangan selalu menyalahkan orang lain. Dari awal memang kamu yang sudah bersalah," jawab Elsha sesuai fakta. Ia pun tak ingin, Monica semakin jauh melangkah.


Apa yang salah, ia memang harus meluruskannya.


Monica menoleh dan menatap tak suka pada sang pengacara.


"Aku membayarmu untuk mendukungku, kenapa kamu malah membela Adam dan perempuan itu!" ketus Monica, yang sopan santunnya sudah hilang entah kemana. Padahal Elsha, usianya nyaris sama dengan sang ibu, namun Monica bahkan menunjukkan jari telunjuknya didepan wajah Elsha.


Mendapati perlakuan seperti itu, Elsha tak terima. Tanpa kata-kata, ia pun segera meninggalkan Monica seorang diri di sana.


Tak peduli lagi, pada nasib wanita malang itu.


"Bu Elsha!" pekik Monica, namun Elsha tetap pergi menjauh. Masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari sana.


Akhirnya Monica, hanya bisa berteriak, Frustasi.


Sementara itu, di perusahaan Malik Kingdom.


Hotman datang menemui Adam. Melaporkan semua perkara yang sedang ia urus, tentang perceraian dan juga laporan sang tuan.


Hotman menunggu di ruang kerja Adam, karena saat itu Adam masih mengantar Azzam dan Azzura untuk ke ke sekolah.


Hingga lima belas menit kemudian, Adam baru sampai di sana. Dan Hotman, langsung melaporkan semua pekerjaannya.


"Setelah aku dan Monica resmi bercerai, tunjukkan semua bukti kejahatan Monica itu pada polisi," jelas Adam.


Ia duduk di kursi kebesarannya, seraya memainkan sebuah pena. Menimang-nimang, sebuah rencana yang pernah Luna utarakan kepadanya, untuk membalas Monica.


"Tapi aku tidak ingin Monica dipenjara, aku hanya akan meminta ganti rugi untuk itu semua, sejumlah harta yang keluarga Sarman punya," timpal Adam, dan Hotman setia mendengarkan.


"Mulai dari perusahaan mereka, hingga beberapa aset yang mereka punya. Aku ingin mereka menebus Monica dengan itu."


"Baik Tuan," jawab Hotman patuh.


Ia lalu segera pergi dari ruangan itu, ketika melihat Adam menggerakkan tangannya, memintanya untuk pergi.


Adam yakin, setelah semua harta keluarga Sarman berada didalam genggamannya. Kedua orang tua Monica akan menyalahkan sang anak. Bahkan Adam yakin, jika Aufar dan Marina pun akan mengusir Monica yang sudah menyebabkan kehancuran mereka.


Menyadari itu Adam tersenyum miring, senyum yang sangat menakutkan. Adam hanya ingin Monica merasakan apa yang telah dialami oleh Haura selama ini. Terbuang dan hidup sebatang kara.