My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 166 - Kontraksi



Pagi ini, penulis Anna mendatangi rumah Haura. Penulisan buku tentang Haura sudah nyaris memasuki 50 persen. Jika diceritakan, maka cerita itu kini masih berada disaat kelahiran Azam dan Azura di desa Parupay. Tentang malam gelap gulita yang melahirkan cahaya terang di hidup Haura.


"Penulis Anna, bisakah di buku ku nanti juga dimasukkan tentang anakku yang ketiga?" tanya Haura pada sang penulis. Haura merasa, anaknya yang ketiga juga harus berada di dalam cerita itu, menjadi bagian perjalanan hidupnya yang sangat berarti.


Dan mendengar permintaan Nyonya Adam ini, Anna tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Saya sangat berterima kasih jika Anda memberikan kesempatan itu untuk saya Nyonya. Menulis anak ketiga Anda adalah kehormatan bagi saya," jawab Anna apa adanya. Ia bahkan sangat berantusias akan hal itu.


Keduanya saling mengukir senyum, dan Haura pun mulai melanjutkan ceritanya. Sementara Anna menulis dengan teliti, memberikan narasi yang pas pada tiap inti cerita yang Haura sebutkan.


Pertemuan penulis Anna dan Haura hanya berlangsung selama 2 jam. Anna, tidak ingin mengeksploitasi Haura, apalagi kini Haura tengah hamil tua.


Pastilah Haura lebih mudah merasa lelah dan banyak butuh waktu istirahat.


Setelah Anna pulang, Sanja pun membantu Haura untuk kembali ke kamar. Namun langkahnya terhenti, saat melihat nenek Aminah datang dengan membawa segelas susu ibu hamil.


Haura langsung tersenyum, tadi pagi, dia memang melupakan susu itu.


"Minum ini, jika tidak ingin membuat suamimu cemas," ledek Aminah, seraya mengulurkan gelas susu itu.


Sanja pun tersenyum, seraya kembali membantu Haura untuk duduk. Tuannya itu memang teramat posesif pada kehamilan Haura. Seolah tak ingin sehari pun Haura terlepas dari pengawasannya.


Setelah susu itu tandas, Aminah mengambil gelas kotor itu. Iapun lalu mengelus pucuk kepala Haura dengan sayang.


"Istirahatlah," ucap Aminah, penuh perhatian, membuat hati Haura dan Sanja yang mendengarnya pun merasakan kehangatan. .


Haura mengangguk, lantas kembali berdiri dengan bantuan Sanja. Naik ke lantai 2 menggunakan lift yang sudah disiapkan oleh Azam.


Aminah, terus tersenyum melihat Haura pergi. Betapa ia sangat bersyukur kini Haura tengah hidup bahagia.


Di kehamilan Azzam dan Azzura dulu, mereka masih serba kekurangan. Bahkan tubuh Haura pun terlihat semakin kurus dengan perutnya yang semakin membuncit.


Namun kini, seolah semua itu berbalik.


Melihat Haura tak lagi ada di pandangannya, Aminah pun segera menuju dapur untuk mencuci gelas kotor ditangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Perusahaan Malik Kingdom.


Kris, sedang melaporkan tentang Darius pada tuannya, Adam.


Selama pengasingannya menjadi karyawan biasa, Darius kini sudah bekerja dengan sungguh-sungguh. Di bulan pertama hingga kedua. Ia awalnya memang tak ada niat untuk menjalankan tugas barunya itu.


Namun entah apa yang terjadi, di bulan ketiga ia jadi gigih. Bahkan tak jarang, ia bekerja sampai malam hari. Lalu kembali ke penginapannya.


"Lalu, bagaimana dengan Monica?" tanya Adam pula.


Ya, menjelang kelahiran anak ketiganya. Adam, mendadak ingat akan Monica dan Darius. Tiba-tiba ia ingin tahu bagaimana hidup kedua orang itu kini.


Jujur saja, kini Adam merasa iba pada keduanya. Bahkan berniat membawa mereka kembali.


"Nona Monica kini menjadi penjual bunga plastik Tuan. Dia punya kios kecil di pasar."


Jelas Kris, sejak dulu Monica memang menyukai bunga. Bahkan di mansion Adam dulu, Monica memiliki tamannya sendiri.


Namun karena ia tak punya cukup modal untuk menjual bunga sungguhan, akhirnya Monica mulai merangkai bunga menggunakan plastik dan kertas.


Keahlian yang pernah ia pelajari selama menjadi putri di keluarga Sarman.


"Bagaimana menurutmu Kris, apa aku harus membantu mereka?" tanya Adam lagi pada asisten pribadinya itu.


"Maaf Tuan, saya rasa tidak perlu. Jika sudah waktunya mereka kembali, Allah akan membuat itu jadi lebih indah. Tanpa campur tangan anda," jawab Kris, dengan yakin.


Inilah takdir yang harus dijalani oleh Darius dan Monica. Sebuah ujian yang harus mereka selesaikan.


"Baiklah, tapi pantau terus mereka."


"Baik Tuan," jawab Kris, patuh.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu berlalu.


"Sanja!"


"Sanjaa!!"


Teriak Azam, Sanja yang dipanggil pun langsung berlari menaiki anak tangga. Buru-buru menjangkau tuannya itu.


"Ya Tuan," jawab Sana dengan napasnya yang memburu, bahkan wajahnya nampak cemas.


"Masuklah, Haura sepertinya mau melahirkan," jelas Adam langsung.


Kedua orang ini pun lantas berlari masuk ke dalam kamar. Lalu melihat Haura yang duduk dengan santainya di atas ranjang. Bersandar di sandaran tempat tidur itu.


"Sayang, kenapa malah membaca buku? katanya mau melahirkan?" tanya Adam bertubi, dengan cemas menghampiri.


Pun Sanja yang menatap Haura dengan penuh tanda tanya.


"Mungkin masih pembukaan satu, kontraksinya terjadi 15 menit sekali," jelas Haura pada bidannya, berbicara dengan suaminya pasti tidak akan mengerti. Pikiran Adam sudah lebih dulu ditutup kecemasan.


Sanja tersenyum, lalu menghapus peluh yang mulai muncul di dahinya.


"Baiklah Nyonya, ayo kita lakukan pemeriksaan," ajak Sanja.


Namun mendengar itu, Adam seolah tidak terima.


"Kenapa harus diperiksa-diperiksa Sanja, langsung saja lahiran," ucap Adam membuat Haura sampai menghembuskan napasnya pelan.


"Sayang," panggil Haura pelan, sebuah panggilan yang membuat suaminya menoleh dengan cepat.


"Iya sayang," sahut Adam pula.


"Sanja, tau apa yang harus dia lakukan. Dia itu bidan ku."


"Baiklah sayang, maafkan aku. Ayo kita turun dan lakukan pemeriksaan," jawab Adam, patuh. Bahkan bicara dengan suara yang lembut sekali.


Membuat Sanja kehabisan kata-kata. Ibarat ads ular cobra marah-marah, kemudian jadi tenang ketika datang pawangnya.


Sampai di lantai 1, Sanja pun mulai melakukan pemeriksaan. Ternyata Haura, sudah bukaan kedua.


Sanja lantas memberikan 1 pil obat untuk diminum oleh Haura, untuk mempercepat pembukaan.


Dan setelahnya meminta Haura untuk berjalan-jalan dulu, menunggu waktu persalinannya siap.


"Apa harus jalan-jalan dulu?" tanya Adam.


"Iya sayang." Haura yang menjawab. Dulu saja, ia harus berjalan dari rumahnya ke rumah Sanja.


Tak ingin membuat istrinya marah, Adam pun mengikuti saran Sanja itu. Ia membawa sang istri untuk berkeliling rumahnya yang sangat besar. Bahkan melewati dinding kaca yang menghubungkan ke kolam renang di bagian belakang.


"Aduh! Aduh!" keluh Haura, saat kontraksi itu datang. Tapi Haura, masih bisa menangani rasa sakitnya.


"Ya ampun sayang, ayo kita kembali ke ruangan Sanja!" ajak Adam, begitu cemas. Takut-takut anaknya akan keluar disini.


"Tunggu Mas," ucap Haura seraya memeluk erat lengan suaminya itu.


"Ah, sudah hilang, ayo jalan lagi," ajak Haura dengan santainya. Membuat Adam mengerutkan dahinya.


"Apa anak kita meledekmu sayang, tiba-tiba ingin keluar, tiba-tiba tidak?" tanya Adam, membuat Haura terkekeh. Haura bahkan langsung mencubit lengan suaminya itu.


"Ini namanya kontraksi Mas. Dari bukaan 1 sampai bukaan 10. Kalau sudah 10, baru siap melahirkan. Dan kata Sanja tadi, aku baru bukaan 2."


"Apa masih lama menunggu bukaan 10."


"Tidak, mungkin 1 jam lagi, aduh!" keluh Haura saat kontraksi itu kembali datang.


"Sayang, jangan membuatku takut," rengek Adam pula.


Membuat Haura lagi-lagi terkekeh.


"Iya iya, ayo jalan." ajak Haura, keduanya kembali berjalan dengan Haura yang memeluk erat lengan suaminya.


Mereka menunggu, anak ketiga mereka untuk lahir.