My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CE0 BAB 155 - Study Tour Day Two



Hari ini.


Dari penginapan, rombongan AIG School kembali berkunjung ke TIS. Masih menggunakan Kimono sebagai baju mereka.


Kimono lain yang juga disediakan oleh TIS. Bedanya, kini para siswa dan siswi AIG School sudah bisa menggunakan sendiri pakaian tradisional Jepang itu. Hanya sedikit bantuan dari sesama mereka dan baju sudah terpasang sempurna.


"Apa tidur kalian nyenyak?" tanya Azzam, pada sang adik dan sepupu. Saat ini mereka semua masih sarapan di restoran hotel tempat mereka menginap.


"Nyenyak kok Bang, lagipula ada Arra, aku tidak takut," balas sang adik. Biasanya, jika ditempat baru seperti ini Azzura akan merasa takut dan dia butuh teman sebagai teman tidur.


"Kamu nyenyak, aku tidak," timpal Arabella dengan wajahnya yang dibuat kusut. Bagaimana tidak, semalaman, Azzura terus memeluk lengannya, beralasan Arabella akan menghilang jika tidak ia pegang.


Sadar akan kesalahannya, Azzura langsung memasang wajah memelas, seraya mengucapkan kata maad dengan tulus.


"Maaf Arra," ucap Azzura, sungguh-sungguh.


Azzam yang begitu hapal perangai sang adik hanya mengulum senyum, lalu menjelaskan pada Arnol dan Julian apa yang terjadi itu.


Sama, Arnold dan Julian hanya geleng-geleng kepala saja mengenai Azzura, seraya tersenyum kecil.


"Makan yang banyak, hari ini jadwal kita lebih banyak dari kemarin," ucap Julian, ia yang duduk paling dekat dengan Azzura pun langsung meletakkan sepoting sandwich di piring Azzura.


Julian, memang selalu membagi makanannya dengan gadis dari keluarga Malik ini. Dan Azzura pun tak segan untuk menghabiskannya.


Si pemakan banyak hingga pipinya gembul, sangat menggemaskan.


Selesai sarapan, mereka segera menuju TIS.


Tepat jam 8 pagi, rombongan AIG School sudah berada di salah satu ruangan di TIS.


Ruangan berlantai Tatami, lantai tradisional yang digunakan di Jepang.


Mereka berada di ruangan ini untuk belajar untuk Upacara teh, atau yang dalam bahasa Jepang disebut dengan Sado.


"Itu adalah teh Matcha, kurasa di Indonesia sudah banyak kan?" tanya Ryu, pada ketiga teman barunya, Azzam, Julian dan Arnold.


Ketiga anak laki-laki ini menganggukkan kepalanya, lalu kembali memperhatikan instruktur didepan sana.



Hingga sampai akhirnya, kini ketiga puluh siswa dan siswi AIG school mempraktekkan sendiri cara menyajikan teh itu.


Duduk dimeja mereka masing-masing, dengan banyak mangkuk-mangkuk.


Haruka duduk diantara Azzura dan Arabella, menyaksikan betapa lincahnya Arrabela menyajikan teh itu, sementara Azzura, nampak ragu-ragu.


Haruka tersenyum, Azzura selalu terlihat menggemaskan dimatanya.


"Zura, apa kamu lupa bagaimana caranya?" tanya Haruka.


Yang ditanya hanya tersenyum kikuk, lalu menganggukkan kepalanya.


"Biar ku bantu."


Bukan Haruka yang bicara, melainkan Ryu yang juga berada didekat mereka.


Mendengar ucapan Ryu. Sontak Azzam, Arnold dan Julian melihat kearah anak laki-laki itu, dengan tatapan yang berbeda-beda, tatapan entah.


Namun sama-sama menatap lekat dan memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Ryu pada Azzura Malik.


Ryu, kembali memperagakan upacara di teh didepan Azzura, dengan sesekali menjelaskan urutan-urutannya.


Azzura memperhatikan dengan seksama, ia juga mengikuti setiap pergerakan Ryu, hingga akhirnya ia harus kembali mengulang sendiri.


"Aku tahu kamu bisa," ucap Ryu, seraya tersenyum menatap Azzura.


Yang ditatap pun sama, tersenyum lebar dan membalas tatapan itu.


"Terima kasih Ryu," balas Azzura dengan riang.


Tak sadar jika ada beberapa pasang yang menatapnya tajam.


Dan yang paling tajam adalah Julian.


Selesai dengan upacara teh, kini semua rombongan AIG school pindah ke ruangan lain, mirip sebuah Aula yang begitu luas.


Di sana, sudah tersusun rapi banyak meja panjang dan kursi-kursi.


Juga berbagai jenis warna Origami di atas meja itu.


Origami dalam bahasa Jepang memiliki arti melipat kertas. Origami kini dijadikan simbol saat hari perdamaian di Jepang untuk memperingati peristiwa bom atom Hiroshima.


Duduk di mejanya masing-masing, sesuai kelompok.


"Duduklah disini," titah Julian, pada Azzura. Origami adalah hal yang mudah baginya, dan ia yang akan mengajari Azzura secara langsung. Tak ingin gadis dengan pipi gembul ini kembali diajari oleh Ryu.


Azzura menurut, di manapun tempat duduknya sama saja. Asalkan masih bersama teman-temannya.


"Bisa tidak?" tanya Azzam, pada sang sepupu, Arabella malah melipat kertas-kertas itu dengan bentuk persegi, buka seekor burung seperti yang dijelaskan instruktur beberapa saat lalu.


"Susah Bang, aku tidak bisa," jawab Arabella, dengan bibirnya yang memcebik.


"Arnold, pelan-pelan membuatnya, biar Arra lihat dan mengikuti mu," ucap Azzam, karena Arnold yang duduk disebelah Arabella.


"Tuan putri, lihat aku baik-baik, dan coba ikuti." Arnold dan melirik Arabella sekilas.


"Baiklah pelayan," jawab Arabella dengan terkekeh.


Arnold pun ikut tersenyum, saat melihat Arabella tak kembali mencebikkan bibirnya.


Dan Azzam yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.


Lalu melihat sang adik, yang sudah sangat ahli bermain Origami. Bahkan hasilnya lebih rapi daripada milik Julian.



"Ku kira kamu tidak bisa," gumam Julian, dengan tercengang.


"Makanya jangan sok tahu, Zura lebih ahli darimu kalau masalah Origami." Azzam yang menjawab.


Dua kakak beradik lalu terkekeh, menertawakan keterkejutan Julian.


Azzura bahkan menjulurkan lidahnya, meledek Julian.


Wleck!


Dan berakhir, pipinya yang dicubit gemas oleh Julian.


Mulai akan ada baku hantam, Azzam langsung melerai keduanya. Setelah membuat burung, kini mereka semua membuat apapun yang mereka suka.


Julian, membuat satu bunga, lalu memberikannya pada Azzura.


"Untukmu."