My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 77 - Penyiksaan Kejam



Setelah tangisnya mereda, Monica bangkit dengan tertatih.


Saat itu juga, ia memutuskan untuk pergi ke Kota Surabaya. Memulai semuanya dari awal di sana.


Dalam hati kecilnya ia membenarkan ucapan Haura, tentang terus menyalahkan orang lain atau memperbaiki diri.


Dan Monica memutuskan untuk memilih memperbaiki diri.


Monica sadar, tak selamanya ia terus berkutat dimasa lalu. Maka dari itu, ia akan mencoba untuk melupakan semuanya. Melupakan cintanya bahkan melupakan kedua orang tuanya.


Dengan menghapus air matanya sendiri, Monica terus melangkahkan kaki.


Sementara diujung sana, Adam menghembuskan napasnya lega, ketika melihat Haura yang mampu menghadapi Monica.


Tak lama setelah ia pergi, anak buahnya mengirimkan sebuah Foto. Foto yang menunjukkan jika Monica datang ke rumah Haura.


Tak ingin Monica kembali berbuat ulah, Adam langsung kembali kesini. Namun saat ia melihat wajah Haura yang nampak dingin, Adam memutuskan untuk memperhatikan dari jauh.


Bahkan Adam melihat, saat Haura berhasil membuat Monica jatuh tersungkur.


Diam-diam, sudut bibir Adam tertarik, membentuk sebuah senyuman. Entah kenapa, ia begitu bangga melihat Haura yang seperti itu.


Ia jadi teringat, dengan pertemuannya dengan Haura saat kali pertama dulu. Saat itu, Haura bahkan memiliki tatapan yang lebih dingin dibandingkan tatapannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu.


Menjemput anak-anak dan mengantar Azzam dan Azzura ke sekolah adalah rutinitas baru yang begitu dinikmati oleh Adam.


Ia bahkan terus membayangkan, jika kelak mereka akan keluar dari rumah yang sama setiap paginya.


Adam menuju kantor dan kedua anaknya bersekolah, pergi bersama-sama. Diantar oleh Haura hingga sampai di teras rumah.


Hanya membayangkannya saja, Adam sampai dibuatnya tersenyum-senyum sendiri. Bahkan sampai ia berdiri didepan rumah Haura, senyum itu tak surut juga.


Terdengar bunyi bell yang ditekan, Azzam dan Azzura langsung berlari menuju arah pintu. Mereka tahu, jika yang datang itu adalah sang ayah.


Ceklek!


Pintu terbuka, dan dilihatnya sang ayah berdiri di sana. Lalu Adam berjongkok, merentangkan kedua tangannya, menyambut Azzam dan azzura dengan sebuah pelukan.


Hingga akhirnya Haura ikut datang kesana, membuat pelukan itu terlerai.


"Peluk dong Yah, kami akan tutup mata." Azzura yang menjawab, ia bahkan langsung menutup matanya dengan kedua tangan. Dan Azzam mengikuti.


Kala itu, Adam tidak memeluk Haura. Hanya membelai lembut wajah Haura sejenak.


"Sudah!" ucap Adam antusias, lalu kembali berjongkok dan menggendong kedua anaknya sekaligus, menuju mobil mereka.


Pagi yang begitu indah.


"Ingat, nanti siang aku akan menjemputmu, lalu kita jemput anak-anak." Adam mengingatkan, sungguh ia tak ingin Haura lupa, tentang rencana mereka siang ini.


Adam, akan membawa Haura untuk berkunjung ke rumahnya.


"Iya Mas."


"Janji?"


"Iya sayang," bisik Haura, hingga membuat Adam tersenyum lebar. Mendengar kata sayang dari Haura, gejolak didalam dirinya meronta-ronta.


Bahkan di dalam hati Adam ia sampai terus mengutuk, kenapa satu bulan itu terasa sangat lama sekali.


"Kamu menyiksaku," balas Adam, yang begitu ingin memeluk Haura dan menciumi wajahnya.


Takut tak bisa mengendalikan diri, Adam langsung masuk dan hanya membuka jendela kaca pintu Mobil itu.


"Aku menyiksa apa?" tanya Haura heran.


Dan Adam tak menjawab apapun, hanya mengedipkan sebelah matanya lalu segera pergi dari sana.


Sementara Haura, hanya mengedikkan bahunya. Tidak tahu apa-apa.


"Memangnya ibu menyiksa Ayah?" tanya Azzam heran. Azzura pun menajamkan pendengarannya, ingin tahu juga jawaban yang akan diberikan oleh sang ayah.


"Iya, penyiksaan yang sangat kejam," balas Adam, dengan nada yang dilebih-lebihkan. Namun berucap dengan senyum yang sangat lebar.


"Kalau disiksa kenapa ayah tersenyum? harusnya menangis dong," balas Azzura tidak terima, siksaan macam apa yang membuat ayahnya itu malah tersenyum-senyum seperti itu.


"Ini siksaan jenis baru sayang, nanti saat Zura sudah dewasa pasti akan mengerti," jawab Adam ambigu.


Azzura hanya ber Oh ria, lalu menunggu jawaban itu sampai ia dewasa. Sementara Azzam si anak genius pun hanya mampu mengedikkan bahu.


Entah apa yang ayah bicarakan. Batin Azzam.