
Sore itu, setelah Azzam dan Azzura bangun dari tidur siangnya, Adam mengantarkan Haura dan kedua anaknya untuk pulang.
Sebelum mereka semua turun, Adam mengatakan jika dua hari kedepan ia akan pergi ke Singapura, memenuhi undangan rekan bisnisnya, George.
Beberapa waktu lalu George sudah mendatangi Adam. Rasanya sungguh tidak sopan jika kini ia tidak datang memenuhi undangan rekanya itu.
Kali ini Adam pergi sendiri, mengatakan kepada Haura jika Luna akan tinggal. Kelak jika ada masalah apapun selama ia pergi, Luna lah yang akan membantunya.
Haura hanya menganggukkan kepalanya, patuh. Meskipun rasanya, ia masih mempu menghadapi masalah apapun tanpa Luna.
"Aku ingin ikut Yah," rengek Azzam, tumben sekali anak sulungnya ini merengek sampai seperti itu. Tak biasa pula Azzam bermanja-manja.
"Sayang, Abang sama Ading kan 1 minggu lagi ujian. Mana boleh izin-izin," Haura yang menjawab.
Kini mereka semua sudah turun dari dalam mobil, namun masih berdiri di sebelah mobil itu. Azzam dan Azzura masih enggan meninggalkan sang ayah.
Adam nampak berpikir, rasanya begitu tidak tega melihat wajah Azzam dan Azzura yang memohon seperti itu.
"Bagaimana ya..." ucap Adam menggantung, melirik Haura, dan malah Haura menatapnya tajam.
"Sebenarnya sih tidak apa-apa Abang sama Ading ikut ayah, tapi_"
"Mas!" potong Haura cepat, sungguh ia tak mau memanjakan kedua anaknya itu, menuruti semua keinginannya yang tak masuk akal. Pasalnya kini mereka harus rajin belajar untuk menghadapi ujian. Bukan sekolah seperti hari-hari biasa.
"Kalian masuk dulu ya, biar ayah bicara dengan ibu," ucap Adam kemudian, pada kedua anaknya. Lengkap dengan kode rahasia, yang hanya dimengerti oleh Adam dan kedua anaknya.
Ayah akan membujuk ibu, begitulah kira-kira bunyi kode Adam, Dan kedua anaknya pun mengedipkan matanya.
Setelah kedua anaknya masuk, Adam mulai beraksi. Pertama, menggenggam salah satu tangan Haura, agar wanitanya ini tenang.
Kedua, menatapnya dalam.
Lalu ketiga, bicara dengan lembut.
"Ibu Haura, Ibu tahu kan, Azzam itu anak yang sangat pintar, bahkan sebenarnya ia tidak perlu sekolah dasar, bisa langsung ke jenjang berikutnya_"
"Aku tahu Mas, tapi aku hanya ingin, Azzam bersekolah sesuai umurnya, memiliki banyak teman sebaya dia, seperti Arra, Julian dan Arnold," terang Haura, ia memang mengetahui ketiga sahabat anaknya itu.
"Iya sayang, kamu benar. Tapi kamu lihat sendirikan tadi, Azzam dan Azzura sangat ingin ikut denganku besok. Bagaimana jika mereka boleh ikut, tapi nanti Azzam membantu Azzura belajar untuk ujiannya," pinta Adam lagi, penuh harap.
Haura menghela napas, sebelum akhirnya mengangguk kecil. Azzam memang tak pernah banyak meminta, bahkan mungkin ini adalah permintaan pertamanya.
"Baiklah," jawab Haura kemudian, hingga Adam tersenyum lebar.
Lalu menarik wanitanya itu untuk didekapnya sejenak.
"Ayo masuk," ajak Adam, kemudian menarik Haura untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
Mengatakan kepada kedua anaknya, jika besok mereka boleh ikut ke Singapura. Dengan syarat, Azzam kelak harus membantu adiknya belajar untuk menghadapi ujian.
Azzam dan Azzura langsung bersorak senang, bahkan membuat gerakan hormat, menyetujui syarat itu.
Akhirnya, Azzam dan azzura kembali ikut pulang kerumah ayahnya. Besok pagi, mereka akan terbang ke negeri singa, Singapura.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu saat malam hari menjelang, Shakir yang tengah patah hati menenangkan dirinya disebuah Bar, seorang diri.
Cukup lama ia duduk disana, namun hanya meminum jus buah saja. Hingga tak sengaja, matanya menatap sesosok pria yang dikenalnya dengan baik Edgar, datang seorang diri pula.
Shakir melambai, memanggil Edgar untuk mendekat.
Hingga akhirnya, kedua pria ini duduk bersama. Membicarakan banyak Hal, dan berakhir membicarakan Luna.
"Apa Anda mengenal Luna dengan baik?" tanya Edgar.
Di tanya seperti itu, Shakir mengeryit bingung. Luna yang mana? pikirnya.
"Luna?" ulang Shakir dengan nada bertanya.
"Iya, Asisten Tuan Adam," jelas Edgar dan Shakir ber Oh ria.
"Tidak, aku tidak mengenalnya dengan baik. Hanya saja, aku sering bertemu dengan dia," jelas Shakir jujur.
Dan mendengar itu, Edgar bernapas lega.