My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 119 - Ide Cemerlang



Minggu siang.


Adam dan Haura memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Pagi tadi mereka berdua sudah berpamitan pada warga desa, termasuk pak Ammar dan ibu Ririn, juga kedua orang tua Nanjan.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam di atas awan sana, kini Adam dan Haura sudah berada di atap gedung Malik Kingdom.


Angin berhembus kencang diatas sini, dan Adam langsung memeluk tubuh sang istri memberikan kenyamanan.


Di Sana, Luna sudah menyambut dengan beberapa orang lain yang juga berseragam seperti Luna. Pakaian hitam lengkap dari atas sampai bawah, rambut diikat rapi dan tak ada yang tergerai asal.


Luna sengaja semakin memperketat keamanan keluarga sang Tuan, mengingat beberapa jam lalu ia baru saja membuat Darius murka.


Tak ingin kecolongan, Luna langsung menambahkan pengamanan.


“Luna, ikutlah kami pulang, aku ingin memberimu oleh-oleh,” ucap Haura pada asisten pribadi suaminya itu.


“Baik Nyonya,” jawab Luna patuh, seperti biasa, ia selalu menundukkan kepalanya, hormat.


Mereka semua turun ke lobby perusahaan itu, lagi-lagi Adam melewati ruangannya. Merasa bukan waktu yang tepat untuk mengajak sang istri untuk berkunjung kesana.


Tak sampai lama, akhirnya mereka semua sampai di rumah Adam.


Adam dan Haura turun, diikuti oleh beberapa pengawal. Sementara Luna masih melaju, untuk menjemput tuan dan nona kecil di rumah nyonya Zahra dan juga menjemput nenek aminah pula.


“Kenapa banyak bodyguard Mas, apa semuanya baik-baik saja?” tanya Haura, jujur saja, ia malah sedikit cemas ketika banyak orang yang melindungi mereka seperti ini, seolah ada bahaya yang sedang mengintai mereka.


“Tidak ada yang terjadi sayang, semuanya baik-baik saja, Aku hanya ingin memastikan semua keluargaku aman, hanya itu,” jawab Adam, ia bahkan memeluk pinggang sang istri erat, tak ingin istrinya itu merasa cemas yang berlebihan.


Mereka berdua segera menuju dapur dan meletakkan semua barang bawaan yang mereka bawa. Para pelayan di rumah itupun langsung mengambilnya dan mulai membenahi.


“Pak, tolong dibereskan saja ya, nanti biar aku yang memasak jamurnya,” ucap Haura pada koki di rumah itu, Roland, pria paruh baya yang sudah lama bekerja di keluarga Malik. Tak hanya menjadi koki, Roland juga adalah kepala asisten rumah tangga di rumah ini.


“Baik Nyonya,” jawab Roland patuh, ia senang sekali tiap kali bertemu dengan majikannya yang baru ini. Haura sangat lembut, dan sifat keibuanya begitu ketara. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa nyaman.


Drt drt drt


Seketika, kedua netra Haura membola. Ia tahu, sang suami tidak akan menyukai panggilan ini.


“Siapa?” tanya Adam seraya menatap lekat wajah terkejut sang istri.


Haura tak menjawab, ia langsung saja menunjukkan Layar ponselnya pada sang suami, nampaklah nama Abang Shakir di sana.


“Angkatlah, mungkin tentang perkebunan,” ucap Adam, susah payah ia meredam kecemburuan. Ia tak ingin dibutakan oleh cinta hingga membuat hidup Haura terkekang. Adam sadar, mereka tak bisa hanya hidup berdua, mereka masih membutuhkan orang lain juga.


Mendengar itu, Haura pun tersenyum merasa lega, jujur saja, ia akan sangat tak enak hati jika harus mengabaikan panggilan ini.


Shakir, memang memiliki ruang di hidupnya, sebagai seorang kakak, tidak lebih.


“Assalamualaikum Bang,” jawab Haura langsung, saat nyaris saja Shakir menyerah atas panggilan itu.


Diujung sana, Shakir pun langsung menjawab salam Haura. Lalu mengatakan jika kini ia sedang berada di rumah om jodi.


Tahu Labih dan Nanjan tidak lagi mengurus perkebunan, maka Shakir kembali berhubungan dengan Haura tentang perkebunan itu.


“Abang datang saja kesini, aku akan kirim alamat rumah mas Adam,” jawab Haura setelah Shakir menyelesaikan ucapannya.


“Baiklah,” jawab Shakir singkat, dan setelah itu panggilannya terputus.


“Kenapa? Apa ada sesuatu yang penting?”


Haura tak langsung menjawab pertanyaan suaminya itu, Haura malah menarik tangan suaminya untuk mulai meninggalkan dapur. Haura tak ingin pembicaraannya dengan sang suami didengar oleh para pelayan di sana.


“Labih dan Nanjan kan tidak mengurus perkebunan lagi Mas, di desa juga tidak ada yang tahu tentang manajemen perkebunan itu. Jadi Bang Shakir kembali berurusan denganku untuk semuanya,” jelas Haura apa adanya.


Dan mendengar itu entah kenapa Adam tak suka, bahkan ia langsung memikirkan bagaimana caranya untuk memisahkan sang istri dengan pria dari negeri Jiran itu.


Hingga akhirnya Adam tersenyum,saat sebuah ide cemerlang muncul.


Luna. Batin Adam dengan senyumnya yang terkembang.