
Pagi menjelang.
Haura membantu kedua anaknya untuk mandi dan menggunakan baju hangat.
Sementara Adam kembali menambah kayu di perapian mereka, dengan hidungnya yang terasa mampet.
Tak biasa dengan udara dingin di hutan membuat Adam merasa tak enak badan.
"Hidung ayah merah," ucap Zura, setelah menggunakan baju hangatnya, ia dan sang kakak menghampiri sang ayah.
Duduk dipinggir perapian mencari kehangatan.
Sementara ibunya menuju dapur, membuat sup jamur untuk sarapan semua orang pagi ini.
"Ayah pilek, jangan dekat-dekat," jawan Adam, membuat kedua anaknya malah terkekeh.
"Ayah tidak ingin keluar?" tanya Azam pula, daripada hanya duduk disini, rasanya Azam lebih memilih lari-larian diluar sana.
"Tidak, ayah dingin sekali. Apa kalian ingin keluar? biar amang Kris yang mengawasi."
Azam dan Azzura langsung mengganggukkan kepalanya dengan antusias.
Adam tersenyum kecil, lalu bangkit dan mulai mengajak kedua anaknya ini untuk keluar. Memanggil Kris di pos 1 dan memerintahkannya untuk menjaga anak-anak.
Kris mengangguk patug dan Adam segera kembali lagi masuk ke dalam rumah.
Diantara langkahnya yang sedikit berlari menuju rumah itu, ia sudah mendengar tawa kedua anaknya yang renyah. Membuat hati Adam merasa sangat bahagia.
Sampai di dalam, Adam tidak duduk diperapian. Melainkan terus berjalan nenuju dapur untuk menemui sang istri.
Mencari kehangatan dengan versinya sendiri.
"Sayang," panggil Adam seraya memeluk sang istri dari belakang. Tangan panjangnya masih mampu melingkar meski perut sang istri sudah membuncit.
"Dingin," ucap Adam lagi, lalu mengecup sekilas pipi sang istri.
"Mas duduk saja di samping perapian, biar tubuhnya hangat," saran Haura, semua bumbu sudah masuk, hanya tinggal menunggu sup itu matang.
Sedangkan nasinya sudah matang sedari tadi.
"Tapi aku ingin mencari kehangatan darimu, itu lebih cepat membuat tubuhku panas," jawab Adam dengan suaranya yanh sensual. Ia bahkab berucap persis didekat telinga Haura, membuat ibu hamil ini meremang.
"Mas, ada anak-anak," bisik Haura, saat kedua telapak tangan dingin sang suami masuk kedalam bra nya. Menyetuhnya memberikan sensasi dingin yang membuatnya merinding. Haura bahkan sedikit mengaga, merasakan kedua tangan itu mulai bergerak.
"Anak-anak bersama Kris, pintunya juga sudah ku kunci," bela Adam, ia terus meremaas kedua gundukan sintal itu dengan satu tangannya yang turun kebawah sana.
Menyerang sang istri dari atas dsn bawah. Haura tak pernah menolak sentuhan sang suami, karena baginya ini adalah kewajiban. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendesaah, mengeluarkan suaranya yang ingin didengar oleh sang suami.
"Mas," lirih Haura saat gelombang itu nyaris datang, kedua tangan Haura bahkan langsung berpegangan pada meja pantry. Ternyata ini alasan suaminya meminta ia menggunakan baju dan rok yang terpisah, bukan baju terusan seperti biasanya. Agar sang suami, bisa memasukinya dengan mudah.
Belum sempat gelombang Haura datang, Adam sudah menyentaknya dari arah belakang, menyatukan inti keduanya dan memberikan sentuhan yang lebih besar dari jari.
Membuat Haura langsung menganga merasakab nikmat.
"Apa perutmu sakit sayang?" tanya Adam, dia belum bergerak.
"Tidak Mass," jawab Haura yang terdengar seperti melenguh.
Mendengar itu, Adam seperti melihat lampu hijau yang menyala, hingga membuatnya kembali melaju dengan kecepetan yang berangsur. Pelan-pelan dan terus nenambah ritmenya.
Haura, makin mendesaah, saat jari-jari suaminya kembali bermain diatas intinya yang menegang, seraya terus memberikan hentakan.
Di dalam rumah itu, keduanya saling bersahutan dengan suara kenikmatan. Sementara diluar sana kedua anaknya saling mengejar dengan diiringi tawa riang.
"Zura! aku akan menangkapmu!" teriak azam seraya terus mengejar, Azzura berlari, berteriak ketakutan dan mencari-cari perlindungan.
"Amang Kris tangkap aku!" teriak Azura, ia berlari dengan merentangkan kedua tangannya menuju Kris.
Dengan senyumnya yang lebar, Kris pun berjongkok dan menangkap nona mudanya itu.
lalu mangangkat Azura tinggi agar tidak bisa ditangkap Azam.
Kedua bocah ini terus tertawa dengan riangnya. Tak bosan dan tidak ada capeknya terus bermain.
Hingga akhirnya Kris yang meminta kedua anak ini untuk diam, minum dulu.
Saat Kris masuk untuk mengambil minum di pos nya, Azam dan Azura duduk diakar pohon yang menyembul keluar.
"Besok aku akan mengajak Arra kesini," ucap Azura, dengan penuh semangat.
"Arnold dan Julian juga," timpal Azam, tak kalah antusias.
"Haruka juga."
"Ryu juga, nanti saat kita sudah dewasa, kita akan kesini bersama teman-teman kita," putus Azam hingga membuat Azura makin tersenyum riang.
"Janji?" tanya Azura dengan menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji!" jawab Azam yakin. Ia pun menjulurkan jari kelingking itu dan melilitnya pada kelingking sang adik.
Selesai bersepakat, Kris datang dengan membawa 2 gelas air putih.
"Amang, yang satu ini untuk amang saja, aku dan abang akan minum dalam satu gelas," ucap Azzura.
Membuat Kris tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa mengelus pucuk kepala Azura dengan sayang. Saat dewasa nanti, Azura akan tumbuh menjadi gadis cantik dan baik hati.
Tak lama setelah itu, mereka semua sarapan bersama di teras rumah.
Adam dan Haura pun sudah kembali rapi setelah percintaan panas mereka didapur. Meskipun hingga kini, Haura masih merasakan denyutan sisa senjata suaminya itu.
Pun Adam yang masih merasa terhimpit.
Andaikan dunia ini isinya mereka berdua, pasti Adam tidak akan membiarkan istrinya untuk keluar dari dalam kamar.
"Selamat makan," ucap Adam menggema, lalu disusul dengan Bismilah yang bersamaan.
Dibawah langit cerah pagi itu, mereka semua sarapan bersama-sama.
Menikmati detik-detik akhir mereka di hutan ini. Karena setelah sarapan, mereka akan kembali ke desa.
Lalu pulang ke Jakarta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di desa.
Pagi ini, Sanja baru sempat membuka 2 kado pemberian Haura dan Luna.
Sanja duduk disisi ranjang dengan rambutnya yang masih basah.
Sementara sang suami, masih mengambil baju ganti di dalam lemari.
Dengan pelan, Sanja membuka kado itu dan mengeluarkannya langsung. Dua-duanya sekaligus.
Ia menatap heran, bingung benda apa ini namanya.
"Apa isinya sayang?" tanya Shakir seraya mendekat.
"Tidak tahu Bang, ini apa ya?" tanya Sanja pula, polos. Tinggal di desa dab sibuk dengan pelajaran medisnya membuat ia tak paham benda ini.
Senbuah kain tipis, untuk apa?
Mendengar pertanyaan sang istri, Shakir langsung terkekeh. Bahkan dengan gemas mecubit pipi istrinya itu.
"Ini namanya lingeri, pakaian sayang."
"Hii, mana ada pakaian seperti ini, ini sama saja tidak memakai baju Bang," sanggah Sanja cepat, hanya membayangkan menggunakan baju ini saja Sanja sudah risih.
Shakir, makin terkekeh.
"Tapi sayang, kalau istri pakai ini, suami jadi senang," bela Shakir pula membuat Sanja berpikir.
"Jadi, kalau aku pakai ini Abang akan senang?"
Shakir, langsung mengangguk dengan cepat.
Dan pagi itu, Sanja langsung mencoba salah satu lingeri. Membuat hasrat Shakir yang sudah disiram air dingin kembali bangkit.
Membuat rambut basah Sanja kembali tercampur dengan keringat.
Diantara desaahnya, yang ah..