
Kemarin, rencananya pernikahan Luna akan diadakan saat kehamilan Haura masih menginjak usia 3 bulan. Tapi mundur, karena Edgar baru tahu kondisi Adam yang tidak bisa bertemu banyak orang.
Tak ingin Adam sampai tak datang di pernikahannya, akhirnya pernikahan Luna mundur 1 bulan. Menunggu saat usia kehamilan Haura masuk ke 4 bulan.
Menurut dokter kandungan Haura, gejala mual yang dialami oleh Adam akan berkurang atau bahkan menghilang ketika kehamilan Haura masuk ke trisemester kedua.
Dan ternyata, ucapan dokter Diah itu benar. Masuk ke trisemester kedua, Adam sudah tak merasa mual-mual lagi.
Tapi, karena ia masih ingin bermanja-manja dengan sang istri. Adam terkadang sesekali berbohong, lalu menarik istrinya untuk menjauh dari keramaian dan mulai melumaati bibir istrinya itu.
Seperti saat ini.
"Bagaimana Mas? apa masih mual?" tanya Haura setelah pagutan keduanya terlepas. Kini mereka sudah berada di pernikahan Luna dan Edgar. Selesai ijab kabul, Adam malah menarik Haura ke salah satu kamar hotel di sana.
Beralasan mual, padahal karena Adam tak ingin Haura ikut berebut bunga pengantin yang akan dilemparkan oleh Luna.
"Sudah lebih baik sayang," jawab Adam, masih dengan memeluk erat sang istri.
"Setelah memberi ucapan selamat pada Luna, kita pulang ya?" pinta Adam, pelan-pelan ia mulai melepaskan dekapannya, lalu menatap kedua netra sang istri.
Dilihatnya, Haura mengangguk.
Mereka berdua akhirnya keluar dari kamar itu dan kembali ke ballroom hotel, tempat diadakannya pesta pernikahan Luna dan Edgar.
Azzam dan Azzura duduk bersama nenek Zahra dan keluarga Malik lainnya yang ikut datang.
Adam dan Haura kembali bergabung ke sana, lalu mengajak semua keluarga untuk mulai memberi ucapan selamat pada sang pengantin dan setelah itu pulang.
Tapi, baru hendak beranjak, ternyata Luna dan Edgar sudah lebih dulu mendatangi mereka semua.
Sepasang pengantin baru ini turun dari atas pelaminan dan khusus menghampiri meja ini.
Haura, memeluk Luna erat, pun Luna yang memeluk sang majikan erat pula.
Hubungan keduanya memang sudah terjalin semakin dekat, apalagi saat Luna sudah menjadi asisten Haura. Haura, bahkan meminta Luna untuk menganggapnya sebagai kakak saja, bukan sebagai majikan.
"Selamat Luna," bisik Haura, dan Luna menjawabnya dengan sebuah anggukan. Luna terus tersenyum lebar, merasakan kebahagiaan membuncah hingga tak bisa banyak berkata.
"Aku hanya bisa memberikan ini," ucap Haura lagi seraya memberikan paper bag yang tertutup rapi.
Luna, menerima itu dengan antusias.
"Terima kasih Nyonya, kapan anda membeli ini?" tanya Luna penasaran, setiap saat ia selalu mengikuti kemanapun Nyonyanya itu pergi, tapi ia tak sekalipun melihat sang nyonya berbelanja.
Haura tak langsung menjawab, ia malah tersenyum lebar pula seperti Luna.
"Rahasia," bisik Haura lalu terkekeh.
Sementara Luna langsung menyipitkan matanya, menatap curiga.
Setelah berpamitan, semua keluarga Malik pulang. Meninggalkan Luna di sana bersama keluarga Suryo.
Hingga malam menjelang, gelaran acara pernikahan itu usia.
Kini, sepasang pengantin itu bahkan sudah berada di dalam kamar mereka.
Kamar pengantin yang sudah dipenuhi banyak kelopak bunga mawar merah.
Saat ini, Luna sedang membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Namun lupa membawa baju ganti, ia teringat akan pemberian nyonya Haura yang ia bawa masuk ke dalam kamar ini.
Berniat memakai baju itu saja, daripada baju di dalam lemari. Tadi, Luna sempat melihat baju ganti yang sudah tersedia untuknya di dalam lemari. Namun ternyata, semua isinya adalah gaun malam.
Luna enggan memakainya, karena merasa malu.
Lebih baik memakai baju pemberian nyonya Haura ketimbang baju-baju malam itu. Luna yakin, nyonya Haura akan memberinya baju yang tertutup.
"Lingerie?" pekik Luna dengan suaranya yang tertahan. Tadi, ia sudah melongok dan meminta pada suaminya untuk memberikan paper bag ini.
Saking terkejutnya Luna melihat isi paper bag itu, Luna sampai menjatuhkan handuknya sendiri.
Jatuh dan basah hingga tak bisa dipakai.
"Astagfirulahalazim!" ucap Luna, sangat terkejut.
Buru-buru mengambil handuknya, namun tetap saja handuk itu sudah basah.
Menghela napas, seraya menggelengkan kepalanya frustasi.
Ia tak punya pilihan lain selain menggunakan lingerie berwarna merah maroon ini. Lingerie tipis tanpa ada pakaian dalamnya.
"Ya Allah, apa benar aku harus memakai ini?" gumam Luna, seolah ingin menangis. Rasanya ia lebih baik tidak memakai apapun daripada harus memakai baju ini.
"Nyonya Haura jahat," keluh Luna pula.
Sadar tak mungkin ia keluar tanpa sehelai benang pun, akhirnya Luna tetap memakai lingerie itu. Dengan tubuhnya yang tinggi, lingerie itu makin terlihat pendek di tubuhnya. Sedikit membungkuk, maka kedua bongkahan pantatnya akan langsung terlihat.
Ragu-ragu, Luna mulai membuka pintu kamar mandi itu secara perlahan. Ia mengintip sedikit, namu naas karena tiba-tiba tatapannya langsung bertemu dengan sang suami.
Deg!
Seketika, jantung Luna seperti mau copot.
Merasa cemas, Edgar pun langsung bangkit dan menghampiri istrinya.
"Tidak usah kesini!" pekik Luna, lalu buru-buru keluar.
Saat itu juga kedua netra Edgar langsung membola. Kala melihat penampilan sang istri yang diluar ekspektasinya.
Luna, memakai lingerie.
Jadi itu yang membuatmu sangat lama di dalam sana. Batin Edgar, lalu mengulum senyum.
Dilihatnya, Luna yang berjalan pelan-pelan menghampiri dirinya, hingga berdiri tepat dihadapannya.
Luna sedikit menunduk, merasa malu. Ia tak sadar, jika dengan menunduk seperti itu membuat Edgar lebih leluasa untuk menatapi tubuh indahnya. Bahu yang terbuka, kedua dada yang tercetak jelas, bahkan pucuknya pun tampak menyembul. Belum lagi kedua kakinya yang tanpa alas. Makin membuat pikiran Edgar semakin liar.
"Luna," panggil Edgar pelan.
Luna memejamkan matanya sejenak, benar-benar gugup. Mau tidak mau, ia pun mulai mengangkat kepalanya dan membalas tatapan Edgar. Tatapan dalam yang begitu menenangkan.
"Siapa aku?" tanya Edgar lagi, ia maju selangkah dan mengikis jarak. Sementara Luna terpaku, merasakan pinggangnya yang dipeluk erat oleh sang suami.
"Ka-kamu Mas Edgar," jawab Luna, mendadak gagap.
"Siapa aku?" tanya Edgar lagi, membuat Luna jadi semakin bingung.
Hingga akhirnya Luna menyadari apa yang ingin didengar oleh Edgar. Ia menelan salivanya sebelum menjawab.
"Suamiku," desis Luna, sebuah jawaban yang membuat Edgar akhirnya tersenyum.
"Benar, dan kamu adalah istriku," balas Edgar. Tangan kiri Edgar naik dan menahan tengkuk sang istri. Lalu mengikis jarak dan segera menyatukan bibir keduanya.
Sentuhan lembut yang membuat Luna menutup matanya, terbuai.
Luna tak menolak, ia bahkan hanya mencengkram baju sang suami saat tangan kanan Edgar mulai bergerilya masuk ke dalam lingerie nya. Membelai lembut kedua bokongnya dan terus naik ke atas punggung. Lalu berpindah ke depan dengan meremasi kedua dadanya. Tangan besar dan hangat itu terus memberikan sentuhan yang memabukkan.
Tubuhnya bergetar, namun ia tak bisa berlari, Luna sadar inilah kewajibannya sebagai istri dan memberikan hak sang suami atas tubuhnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa Vote 👰🤵