My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 101 - Tawa Renyah



Jam setengah 1 siang.


Adam dan Haura keluar dari dalam kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Bahkan Adam terus memeluk tubuh Haura dari arah belakang, berjalan pelan-pelan menuju ranjang yang sudah acak-acakkan.


“Luna sudah mengirim kita baju ganti, pakailah baju ini dan kita pulang.” Ucap Adam, ia mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang, tercium aroma vanilla yang masih begitu melekat.


Dilihat oleh Haura ada dua paper bag berukuran besar diatas ranjang itu, Haura membukanya satu per satu. Yang pertama berisi pakaian sang suami dan kedua berisi baju untuknya. Beberapa saat lalu Luna datang untuk menyerahkan dua paper bag itu.


“Bagaimana aku bisa ganti baju kalau Mas terus memelukku seperti ini,” jawab Haura, ia menoleh ke samping dan langsung bertemu dengan wajah sang suami, Adam menyandarkan kepalanya dipundak Haura.


Dan sebuah kecupan singkat langsung Adam labuhkan dibibir ranum itu, Haura hanya mampu tersenyum, seraya tersipu malu.


“Aku akan membantumu menggunakan baju itu,” titah Adam tak ingin dibantah.


Bahkan tanpa persetujuan sang istri, Adam kembali menanggalkan handuk istrinya itu, lalu mendudukkan Haura disisi ranjang.


Satu per satu, Adam mulai memasangkan baju sang istri.


Dan seperti anak kecil, Haura hanya bisa menurut. Membiarkan sang suami melakukan apapun pada tubuhnya. ia bahkan tetap menurut ketika Adam memintanya untuk mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.


Hingga akhirnya, Haura menggunakan baju itu dengan sempurna. Baju terusan berwarna cream yang nampak begitu cantik. Bahkan begitu pas ditubuh indahnya, sebuah hijab panjang pun tersedia di sana.


Selesai menggunakan baju sang istri, Adam kembali meraup bibir ranum itu dalam, bahkan ia sempat memainkan lidahnya didalam sana.


“Terima kasih bayarannya,” ucap Adam menggoda, dan Haura tak bisa berkata apa-apa. Hanya mendorong dada sang suami agar menjauh.


Jika tidak, mungkin baju ini akan kembali


tertanggal.


Tepat jam 2 siang, Adam dan Haura sudah sampai di rumah. Kali ini mereka pulang ke rumah Haura, karena di sana masih ada pak Ammar dan ibu Ririn.


Rencananya, keluarga pak Ammar akan pulang ke desa Parupay saat jam 4 sore. Setelah shalat Ashar.


Turun dari dalam mobil, dan Adam langsung memeluk erat pinggang sang istri. Membawanya mendekat dan berjalan beriringan menuju pintu rumah itu.


Haura tak pernah menolak setiap sentuhan sang suami, karena iapun begitu menyukainya.


Tak lama setelah Adam menekan bell rumah, pintu itu akhirnya terbuka. Upik membukakan pintu untuk mereka.


Pengantin baru ini masuk dan disambut oleh semua orang di ruang keluarga.


Haura bahkan langsung berjalan cepat menghampiri ibu Ririn dan memeluknya erat, seketika keharuan itu kembali muncul. Bahkan Ririn sampai kembali meneteskan air matanya.


Ririn sangat bersyukur, ia masih biasa menyaksikan Haura merasakan kebahagiaan seperti ini. Tak hanya menemukan ayah kedua anaknya, namun ia juga mendapatkan cinta yang tulus dari Adam, beserta cinta dari seluruh keluarga Adam.


“Bu, jangan menangis,” pinta Haura setelah pelukan itu terlerai, Ririn mengangguk seraya menghapus air matanya sendiri dengan cepat. dan mulai tersenyum.


Siang itu, mereka semua berkumpul disana. Zahra, Aida dan Yuda sudah pulang sebelum zuhur datang.


“Jadi Aida dan Yuda akan ikut pak Ammar ke Parupay nanti sore?” tanya Adam pada pak Ammar, mereka duduk bersebelahan dan mulai membicarakan tentang Labih dan Nanjan.


“Iya Dam, Aida akan ikut menjelaskan pada kedua orang tua Nanjan di sana, jika Labih dan Nanjan akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta,” jawab Ammar apa adanya, tadi pun ia sudah bersepakat dengan nenek Zahra, jika Aida dan Yuda akan ikut pulang ke desa Parupay, lalu keesokan harinya akan kembali pulang ke Jakarta bersama dengan Labih dan Nanjan.


Adam mengangguk, kala mendengarkan cerita pak Ammar itu.


Dan sesuai rencana.


Setelah waktu Ashar terlewat, Aida dan Yuda kembali datang ke rumah Haura. Bersama 3 mobil yang mengantar mereka.


Saat itu juga, keluarga pak Ammar segera pamit pada semua orang. Pak Ammar bahkan berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Adam dan menitipkan salam pada nenek Zahra.


Aida yang paling antusias diantara orang-orang itu, ia sungguh ingin tahu dimana sang kakak ipar dan kedua keponakannya selama ini tinggal.


Selesai berpamitan, Akhirnya Aida, Yuda, pak Ammar dan semua keluarganya pergi. Mereka menuju Malik Kingdom, karena helikopter yang akan mereka tumpangi berdada diatap gedung pencakar langit itu.


Tinggallah keluarga Haura yang tinggal di halaman rumah ini.


Mereka semua kembali masuk  ke dalam rumah dengan senyum yang terukir


dibibir semua orang. Adam bahkan menggendong Azzam dan Azzura sekaligus, lalu berulang kali menciumi pipi kedua anaknya ini secara bergantian.


Azzura yang merasa kegelian pun sampai tertawa dibuatnya.


Tawa renyah yang menular ke semua orang.