
sore itu, saat Azzam dan Azzura sedang mandi di kamarnya masing-masing.
Haura mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar miliknya, kamar yang akan menjadi kamar Adam pula di rumah ini.
Baru menutup pintu, Adam kembali memeluk tubuh istrinya erat, dari Arah belakang. Lalu menelisik setiap sisi sudut kamar sang istri ini.
Ruangan yang tidak begitu besar, dan tidak pula terlihat kecil. Di cat putih bersih, tanpa ada satupun hiasan yang menempel di dinding. Hanya ada satu jam dinding saja yang menempel disana.
Satu yang mencuri perhatian Adam, ada satu rak buku yang terisi penuh oleh buku-buku bacaan.
Penasaran, Adam pun melangkahkan kakinya, hingga Haura mengikuti. Karena Adam begitu enggan melepaskan pelukannya itu.
“Ini semua buku-buku mu?” tanya Adam, ia sedikit menunduk dan melihat wajah sang istri yang hanya berjarak beberapa centi dari hidungnya.
Bahkan saat Haura menoleh, hidung mereka saling bersentuhan.
“Iya Mas,” jawab Haura dengan tersipu, ia bahkan dengan cepat kembali mengalihkan wajahnya, kembali menatap buku-buku dihadapannya itu.
Adam mengambil satu buku, dan membaca judulnya, “Menjadi Petani Cabai,” ucap Adam mengikuti judul buku.
Lalu ia kembali meletakkannya didalam rak dan kembali mengambil buku yang lainnya, ternyata semua buku itu adalah buku-buku tentang menjadi seorang petani sekaligus pengusaha yang hebat.
Adam tersenyum, kala menyadari satu hal. Haura, mau belajar untuk memperdalam ilmunya dan mengembangkan perkebunan itu.
“Aku sangat bangga padamu,” ucap Adam pelan, ia semakin memeluk erat tubuh sang istri, bahkan berulang kali menciumi ceruk leher Haura.
Sementara Haura, memegang dengan sayang kedua tangan sang suami yang melingkar diperutnya.
Hingga Akhirnya Adam membalik tubuh istrinya itu dan melabuhkan sebuah ciuman hangat di kening sang istri. Menciumnya dalam, penuh dengan cinta dan kasih ayang.
“sebaiknya kita mandi, sebentar lagi pasti Azzam dan
Azzura akan mencari kita,” ucap Haura ketika Adam sudah melepaskan ciumannya.
Adam tersenyum, seraya mengangguk. Setuju dengan ucapan istrinya itu. Sebelum Azzam dan Azzura kemari, sebaiknya mereka segera mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Desa Parupay.
Menjelang magrib, pak Amar beserta yang lainnya sudah sampai di desa Parupay. Pak Ammar segera mengajak Aida dan Yuda untuk beristirahat di rumahnya.
Namun Aida yang terlalu antusias tak ingin diam, ia malah meminta Labih dan Nanjan untuk mengajaknya berkeliling desa, melihat perkebunan sang kakak ipar juga rumah yang selama ini ditempati oleh Haura dan
kedua keponakannya.
“Ya Pak Ya, izinkan Aida dan mas Yuda berkeliling sebentar, kan masih ada waktu setengah jam lagi sebelum magrib. “ pinta Aida dengan wajahnya yang memelas.
“Memangnya Nak Aida tidak capek? Kenapa tidak besok saja keliling desanya?” Ririn yang menjawab.
“sebentar aja Bu, Pak,” mohon Yuda pula, yang tidak tega melihat wajah memelas istrinya itu.
Ammar hanya mampu menghembuskan napasnya pelan, bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin Aida dan Yuda nanti kelelahan. Namun melihat kesungguhan sepasang suami istri ini akhirnya Ammar mengizinkan. Ammar juga
memberikan Labih dan Nanjan dua senter dan 4 jas hujan untuk mereka semua, takut jika tiba-tiba hujan turun.
Mendapat izin pak Ammar dan ibu Ririn, Aida langsung bersorak senang, ia bahkan langsung memeluk Ririn, mengucapkan terima kasih.
Tak ingin mengulur waktu, akhirnya Aida, Yuda, Labih dan Nanjan mulai pergi.
Aida dan Yuda menyapa semua warga desa yang ditemuinya dengan ramah, bahkan tak segan Aida memperkenalkan dirinya sebagai adik ipar Haura.
Hingga sampailah mereka diperkebunan milik Haura. Perkebunan yang sangat luas, dipenuhi dengan berbagai macam tanaman sayuran.
Bahkan di sebagian sisi ada beberapa gazebo yang digunakan untuk para pariwisata.
“Ini milik mbak Haura?” tanya Aida, tak percaya sekaligus takjub.
Dan Labih beserta Nanjan menganggukkan kepalanya dengan bangga.
“Wah, kalau hanya demi harta, tidak perlu menikah dengan mas Adam mbak Haura sudah bisa hidup enak,” ucap Aida, hingga membuat Yuda mencubit pipi istrinya itu, gemas.
Aida tertawa, dan yang lainnya pun ikut tersenyum pula.
Puas melihat perkebunan, mereka buru-buru menuju rumah Haura, rumah yang ada di ujung desa. Namun kini dapat mereka tempuh dengan lebih cepat, karena jalanan desa sudah menjadi aspal, bukan lagi jalan tanah
seperti dulu.
“Ini rumah Mbak Haura?” tanya Aida lagi, tak percaya. Rumah kayu yang nampak begitu sempit.
“Iya tante, ibu Haura dan nenek Aminah tidak ingin merenovasi rumah ini, mereka mengatakan jika rumah ini banyak menyimpan kenangan untuk mereka. Karena itulah, mereka tidak ingin melupakan kenangan itu
dengan merenovasi rumah ini.” Jelas Labih panjang lebar.
Hingga membuat Aida dan Yuda makin mengangumi sosok kakak iparnya itu. ternyata Harta, tidak membuat Haura kehilangan jati dirinya.
“Aida, bagaimana jika malam ini kita tidur disini? Berani
tidak?” tantang Yuda pada sang istri.
“Siapa takut!” balas Aida lantang.
Labih dan Nanjan tersenyum terus menyaksikan keduanya.
Akhirnya setelah itu Labih dan Nanjan hanya pulang berdua, sementara Aida dan Yuda tinggal di rumah Haura. Rumah yang kuncinya disimpan dibawah salah satu pot bunga.