
"Haura!"
"Haura!"
Teriak Adam yang kesekian kalinya. Ia terus melangkah semakin masuk ke dalam hutan, kakinya terus berjalan dengan kepala yang terus berputar, kesana kesini, mencari dimanakah sosok Haura berada.
Banyak rumput liar yang membelit kakinya, namun sekuat tenaga pula Adam melepaskan diri.
30 menit waktu yang harus Adam gunakan untuk menemukan Haura, jika lebih dari itu, ia pasti akan lebih kesulitan untuk mencari, karena 30 menit lagi, malam menjelang.
"Haura!"
Teriaknya sekali lagi, hingga menciptakan suara yang menggema. Tak kalah besarnya dengan suara hujan dan petir kala itu. Hujan masih terus turun dengan begitu lebatnya. Seluruh tubuh Adam sudah basah, payung yang ia bawa tersangkut di ranting dan sobek. Hingga kini, ia tak berpelindung, derasnya air hujan langsung menerpa tubuhnya begitu saja.
Namun jauh melangkah, Adam tetap tak menemukan siapapun.
Tapi bukan Adam namanya jika ia menyerah, dengan keyakinan yang bulat, ia terus mencari Haura.
"Haura!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, setelah Adam masuk ke dalam hutan. Luna langsung bertanya pada Labih dimana rumah kepala desa, untuk meminta bantuan para warga.
Labih memberi penunjuk jalan, mengarah ke rumahnya sendiri.
Luna pergi untuk mencari bala bantuan, setelah menemui kepala desa, Luna segera menuju helikopternya dan memanggil tim sar di Krayan.
Sementara Labih berjaga disini. Mendengar adakah suara pistol dari dalam hutan.
Namun kedua mata Labih langsung membola, saat dilihatnya ada seseorang yang keluar dari dalam hutan sana, menggunakan jas hujan berwarna biru dengan membawa 2 kantong plastik.
Labih begitu menghapal, siapa orang itu, Acil Haura.
"Acil!" teriak Labih seraya berlari kearah Haura.
Melihat Labih ada disini, Haura mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu disini? hujan lebat begini harusnya kamu di rumah," tanya Haura yang terdengar marah.
"Ayo cepat pulang!" titah Haura lagi, bahkan ia langsung saja menarik tangan Labih untuk mengikuti langkahnya.
"Acil, tunggu dulu, dengarkan dulu penjelasanku Acil," ucap Labih yang tubuhnya sudah ditarik-tarik.
Terpaksa, Haura pun menghentikan langkahnya, ia menoleh dan menatap Labih yang juga menatapnya dengan tatapan cemas.
"Ada seorang pria yang mencari Acil, dia masuk ke dalam hutan," jelas Labih langsung hingga membuat kedua mata Haura membola.
"Apa maksudmu? pria siapa? masuk ke dalam hutan?" tanya Haura bertubi, masuk ke dalam hutan dalam cuaca seperti ini bukanlah hal yang baik. Haura pun merasa cemas, meski tak tahu siapa pria yang dimaksud Labih.
"Aku tidak tahu siapa pria itu Acil, tapi wajahnya mirip sekali dengan Azzam dan Azzura."
Deg!
Seketika itu juga, seolah dunia berhenti berputar bagi Haura.
Seorang pria yang memiliki rupa seperti kedua anaknya hanya ada satu orang, yaitu Adam Malik, ayah anak-anak.
Setelah mengatakan itu, Labih langsung melanjutkan ceritanya. Bahwa pria itu tidak hanya datang seorang diri, melainkan bersama seorang wanita yang nampak seperti bawahannya.
Si pria masuk ke dalam hutan untuk mencari Haura, sementara sang wanita mencari bantuan, memanggil tim SAR untuk ikut masuk ke dalam hutan.
Bahkan Labih pun menceritakan, tentang si pria yang akan menembakkan pistol ketika sudah menemukan Haura.
Selesai Labih bercerita, Haura langsung saja hendak kembali masuk ke dalam hutan. Namun dengan cepat, Labih menahan lengan sang Acik.
"Apa dia orang baik Acil?" tanya Labih, yang merasa ragu jika Haura harus kembali masuk ke dalam hutan dan mencari orang itu. Kata-kata pistol terus terngiang diingatannya.
"Dia adalah ayah Azzam dan Azzura Labih, Acil harus mencarinya," jelas Haura, dan seketika cengkraman Labih pada tangan Haura melemah.
Lalu membiarkan begitu saja, Haura yang kembali berlari memasuki hutan, meninggalkan 2 kantong plastik bawaannya disana.
"Ayah Azzam dan Azzura?" gumam Labih yang gamang.
Setelah kesadarannya kembali, Haura sudah tak ada lagi disana. Akhirnya Labih pun berlari, untuk meminta bantuan pada warga yang tinggal didekat hutan itu.
Meminta untuk memberi tahu para warga yang sudah menghapal hutan ini untuk ikut masuk ke dalam hutan pula.
Akhirnya, menjelang malam itu. 10 warga desa masuk ke dalam hutan untuk mencari Haura dan seorang pria yang memiliki wajah persis seperti Azzam dan Azzura.
Sementara tim SAR dan Luna belum juga kembali kesini, mereka masih membutuhkan waktu karena jaraknya yang terlalu jauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hati kecilnya mengatakan, jika itu adalah jejak kaki Adam.
Maka, mulai berjalanlah Haura menyusuri jejak kaki itu.
Hingga akhirnya malam menjelang, hutan jadi tempat yang lebih dulu gelap dibandingkan tempat manapun.
Hujan lebat pun sudah berubah jadi gerimis.
Beberapa kunang-kunang bahkan mulai bermunculan, seolah terus membimbing Haura agar tak berhenti melangkah.
Hingga sayup-sayup, ia mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya.
Haura.
Haura.
"Adam!" balas Haura dengan berteriak pula, sekuat tenaga ia memanggil nama pria itu, agar suaranya terdengar.
Hening cukup lama, setelah gema suaranya mereda.
Hingga terdengar lagi, Adam yang memanggil namanya.
"Haura!" teriak Adam, ia berlari menuju arah suara Haura yang baru saja terdengar.
Hingga samar-samar, dilihatnya seseorang diantara kunang-kunang, Haura berdiri di sana.
Brug!
Adam terjatuh, kakinya tersangkut akar pohon. Haura yang mendengar suara itupun bergegas mendatanginya, dan dilihatnya Adam yang tersungkur diatas tanah.
"Adam," panggil Haura cemas.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Haura lagi seraya membantu Adam untuk berdiri.
Sesaat keduanya hanya terdiam, dengan Haura yang memapah lengan Adam. Malam membuat mereka kesulitan untuk menentukan arah, apalagi tak ada penerangan sedikitpun.
Hanya ada beberapa kunang, yang masih setia menemani mereka.
"Aku ada ponsel," ucap Adam, sengaja ia tak menggunakan ponsel itu sedari tadi, sengaja untuk menyimpan dayanya, dan hanya akan digunakan untuk penerangan ketika ia sudah menemukan Haura.
Adam lalu mengambil ponselnya dan mulai menyalakan senter. Ponsel yang tidak akan rusak meski terkena air hujan.
"Berikan padaku," pinta Haura.
"Tidak, biar aku yang memimpin jalan," tolak Adam.
"Aku lebih tahu tempat ini dibanding kamu," balas Haura lagi.
Dan Adam tak bisa menjawab apapun, karena sejujurnya, ia pun tak tahu kemana arah jalan pulang.
Namun saat hendak melangkah, tiba-tiba senter ponsel Adam mati. Ternyata dayanya lemah, batre ponsel itu hanya tersisa 5 persen.
"Maaf Haura, aku tidak memeriksa dayanya," ucap Adam penuh penyesalan.
Haura lalu mengambil ranting di bawah kakinya, kemudian menangkap beberapa kunang dan meletakkannya diranting itu.
Kunang-kunang itu menurut, seolah mengerti perintah Haura.
Menjadikan ranting kunang itu sebagai penerangan darurat untuk mereka.
"Kita terlalu jauh untuk kembali, apalagi dalam keadaan gelap gulita seperti ini. Sebaiknya kita berteduh dulu. Aku akan membawamu ke goa, menunggu bantuan datang," jelas Haura, saat melihat Adam yang sudah nampak tak memungkinkan untuk memaksanya kembali. Kakinya terkilir, dengan napas terengah khas orang kelelahan.
Adam tercengang, tak hanya menghapal seisi hutan, bahkan Haura pun seolah memiliki hubungan yang baik dengan para hewan.
"Apa kamu seorang dewi hutan?" tanya Adam saat mereka sudah mulai berjalan.
"Anggap saja seperti itu," jawab Haura singkat, terus membantu Adam untuk berjalan.
Adam tersenyum kecil, lalu satu tangannya mengambil pistol di salah satu saku celana. Mengambil pelurunya dan membuang pistol itu asal.
Kemudian kembali mengantongi peluru itu.
Ia berharap, Luna tak bisa menemukan mereka malam ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa Like dan Komen sebanyak-banyaknya yaa, Hadiah dan juga Vote😄
Salam AH (Adam&Haura) 💕 juga baby AzRa (Azzam dan Azzura) 🙆♂️🙆♀️