My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 132 - Mulai Membalas



Kedua netra Luna membola, saat melihat kepala tuan Edgar terantuk oleh meja di teras rumahnya.


Dengan cepat pula ia kembali merengkuh tubuh pria yang baru saja ia banting sekuat tenaga.


"Tuan Ed, apa anda baik-baik saja?" tanya Luna, cemas. Baru kini ia sadar, jika ia telah membanting seorang tuan Muda.


Anak dari salah satu keluarga terhormat di kota Jakarta, keluarga Suryo.


Saking cemas dan takutnya, Luna bahkan sampai mendekap erat kepada Edgar yang berada di atas pangkuannya.


Dengan teliti, Luna memeriksa kepala Edgar itu. Mencari adakah luka yang mengeluarkan darah di sana.


Berulang kali, Luna menyisir rambut Edgar menggunakan jari-jarinya itu. Tak ingin ada sedikit pun celah yang terlewat dari pengawasannya.


Dan untunglah, tak ada luka parah di sana, hanya sedikit memar di ujung dahi.


Saat cemas seperti itu, Luna malah melihat Edgar yang tersenyum kecil.


Jujur saja, melihat Luna yang mencemaskannya, Edgar merasa sangat bahagia.


Edgar bahkan rela dibanting lagi, jika Luna terus memperhatikannya seperti ini.


"Jangan tersenyum seperti itu, saya terganggu melihatnya," ucap Luna, jujur. Dan Edgar malah terkekeh.


Kesal, Luna hendak bangkit dan kembali mengacuhkan tubuh pria yang sudah terkapar di atas lantai ini.


Namun lagi-lagi niatnya terhenti, saat Edgar kembali mencegahnya pergi.


Edgar bangkit dan duduk diatas lantai itu dengan satu kakinya yang setengah terlipat.


Ia menatap lekat kedua netra Luna. Wanita yang kini bersimpuh tempat dihadapannya.


"Bukankah kamu bisa melihat kejujuran seseorang dari matanya?" tanya Edgar, tanpa melepaskan tatapan itu.


Seketika Luna membeku, kala menyadari ucapan Edgar itu memang benar adanya.


Luna, tak hanya ahli dalam bela diri. Namun ia pun mampu memahami orang hanya dari sorot matanya.


"Jika kamu tidak percaya ucapanku, coba bacalah mataku," ucap Edgar lagi.


Ia menatap Luna dengan tatapan yang begitu dalam, penuh dengan cinta yang selama ini ia pendam.


Mata yang mengatakan jika ia begitu mencintai Luna.


Perlahan, Edgar menggerakkan tangan kanannya. Menyentuh dagu Luna dan mengangkatnya pelan, hingga tatapan keduanya kembali bertemu.


"Aku mencintaimu Luna, percayalah," ucap Edgar sekali lagi.


Cinta yang ia rasa sejak pandangan pertama.


Saat itu, adalah hari pertama Luna menjadi asisten pribadi Adam Malik. Luna ikut dalam pertemuan pengusaha muda.


Di ballroom yang super mewah itu, Luna adalah satu-satunya wanita yang menggunakan pakaian serba hitam, tertutup dengan begitu rapi.


Namun dimata Edgar, Luna jauh lebih menawan daripada semua wanita yang berada di sana.


Semenjak saat itu cinta Edgar mulai tumbuh, dan makin membesar hingga saat ini.


Mendengar kata cinta itu lagi, Luna bergeming. Selama ini ia memang tahu, jika Edgar tak pernah dekat dengan siapapun.


Bahkan tidak terlibat satupun skandal dengan wanita manapun.


Tapi rasanya, sungguh mustahil jika Edgar mencintai dirinya. Meskipun hatinya selalu menghangat, tiap kali Edgar memperlakukannya dengan baik.


"Maaf Tuan, anggaplah saya bodoh. Tapi saya tetap tidak mempercayai itu," jawab Luna apa adanya.


Ia memang bisa membaca ketulusan dari mata Edgar, namun tetap saja, akal sehatnya menolak itu.


"Kamu tahu, bagaimana caranya orang dewasa mengerti tentang isi hatinya sendiri?" tanya Edgar.


Sebuah pertanyaan yang membuat Luna bingung.


"Tutup matamu dan lihatlah, ada aku atau tidak di hatimu," timpal Edgar lagi.


Lalu dengan perlahan, ia kembali mengecup bibir ranum wanita ini. Bahkan Edgar pun menahan tengkuk Luna agar tetap berada ditempat yang sama.


Kali ini Luna menuruti keinginan Edgar, ia menutup matanya dan seketika wajah Edgar yang terbayang.


Ciuman yang awalnya hanya diberikan Edgar, kini Luna pun mulai membalasnya.