
Sebelum magrib datang, semua keluarga Malik memutuskan untuk pulang. Saat itu keluarga pak Ammar menginap di rumah Haura, pulang bersama Aminah dan Jodi.
Berkat ada Labih dan Nanjan pula, akhirnya Azzam dan Azzura bersedia ikut pulang dan tidak mengganggu kedua orang tuanya.
Nenek Zahra mengatakan jika ayah Adam dan ibu Haura masih memiliki sedikit urusan, karena itulah mereka masih belum bisa pulang dan tinggal di hotel.
Jadi kini, di kamar hotel mewah itu hanya menyisahkan sepasang pengantin baru, Adam dan Haura.
"Ehem!" Adam berdehem, entah kenapa semenjak keluarganya pergi, mendadak suasana di kamar ini jadi canggung, kikuk.
Mereka berdua masih menggunakan baju akad tadi, belum memiliki kesempatan untuk berganti baju dan membersihkan diri.
Mereka bahkan masih duduk ditempat yang sama saat berkumpul bersama para keluarga.
"Em, Mas, a-apa malam ini kita tidur disini?" tanya Haura dengan suaranya yang putus-putus, gugup.
Adam yang duduk disampingnya langsung menoleh, namun dilihatnya sang istri malah menunduk.
"Tidak," jawab Adam kemudian hingga membuat Haura perlahan mengangkat wajah dan membalas tatapan Adam.
"Lalu?" tanya Haura kemudian.
Adam tak langsung menjawab, ia tersenyum lalu bangkit dari duduknya. Mengambil dua paper bag berisi baju gantinya dan juga milik Haura. Baju yang sudah dipersiapkan oleh Aida.
Lalu Adam mengulurkan tangannya yang kosong, meminta Haura untuk menyambut itu.
Menelan ludah, Haura lalu menerima uluran tangan Adam hingga kini tangan keduanya saling menggenggam.
Haura bangkit, mengikuti Adam yang entah akan membawanya kemana. Berjalan pelan-pelan, terhalang oleh kain jarik yang masih mereka gunakan.
"Kita mau kemana Mas?" tanya Haura setelah mereka keluar dari dalam kamar itu, lalu melewati lorong hotel yang nampak sepi.
"Apa kamu ingat? dulu aku menarikmu di lorong ini," ucap Adam seraya semakin mengeratkan genggamannya pada tangan sang istri.
Ia menghentikan langkahnya sejenak hingga Haura pun ikut berhenti.
Adam lalu menata Haura dengan tatapan dalam, Sungguh, Adam ingin menghapus semua kenangan buruk itu dan menggantinya dengan kenangan yang jauh lebih indah.
Haura terpaku, tatapan Adam selalu membuatnya tak berdaya. Di dalam hati Haura ia sudah tak memperdulikan lagi kenangan buruk itu. Adam sudah berhasil membuatnya tenang, menjadikan kenangan dimasa lalu mereka adalah sebuah awal hubungan ini ada.
Di suasana yang hening.
Perlahan, Adam mulai mengikis jarak, menahan tengkuk Haura dan mencium bibir ranum itu. Bibir yang selalu ingin ia sesap rasa manisnya.
Ciuman lembut yang menuntut.
Bahkan mereka berdua sampai bisa mendengar dengan jelas decepan indah yang tercipta.
Cukup lama untuk membuat kedua bibir itu saling melepas, menyisahkan deru napas yang saling memburu.
Adam, lalu menghapus sisa-sisa salivanya dibibir sang istri. Sementara Haura, hanya tersipu malu.
Belum apa-apa, namun darah keduanya sudah mendidih.
Selesai dengan itu, Adam kembali menggenggam erat tangan Haura dan membawanya menuju sebuah kamar, kamar 4021.
Haura, dapat mengingat dengan jelas nomor kamar itu. Kamar saat pertama kali Adam menyentuhnya.
Tanpa ada keraguan sedikitpun, Haura mengikuti langkah Adam untuk masuk kesana. Terus berjalan, hingga mereka sampai disebuah kamar.
Kamar yang sudah dihias layaknya kamar pengantin baru, dengan kelopak bunga mawar merah yang berserak dimana-mana.
kecil, Haura tersenyum. Entah harus terharu atau marah sekaligus. Sebagai wanita penjual bunga, ia tahu betul berapa mahalnya kelopak bunga mawar segar ini.
Rasanya, begitu mubazir.
"Aida memberikan kita baju ganti, bersihkanlah dirimu lebih dulu," ucap Adam, seraya memberikan paper bag milik Haura.
Haura menganggukkan kepala seraya menerima uluran paper bag itu. Lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
Melepas semua baju sempit gang melekat ditubuhnya dan mengguyur badan menggunakan air hangat.
Sungguh menyegarkan.
Menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya, Haura berdiri di kaca westafel kamar mandi, mulai membuka paper bag pemberian Aida.
Seketika kedua netra Haura membola, saat ia melihat isi papar bag itu.
"Lingerie?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aida : Suka kan sama pemberianku? hihihi, ayo dong kasih Vote dan Bunga 💕
Salam Aida Malik 👩🎤