
Haura, menatap tak percaya pada baju pemberian sang adik ipar. Ia bahkan merasa geli sendiri kala mengangkat tinggi kain transparan itu.
Rasa-rasanya, Haura malah lebih nyaman menggunakan handuk ini.
Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya, Haura memutuskan untuk keluar dari dalam kamar mandi.
Memilih menggunakan handuk yang menutup setengah tubuhnya.
Haura sadar, kini ia adalah seorang istri. Dan Adam memiliki hak penuh untuk melihat tubuhnya. Sekuat tenaga, Haura membuang jauh rasa malu. Bahkan jika Adam memintanya untuk melepas handuk ini, Haura akan menurut.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, dan Haura keluar dengan ragu-ragu dan wajah menunduk.
Adam yang melihat sang istri kembali, hanya terpana ditempatnya berdiri. Selama ini, Haura selalu tampil tertutup, bahkan menutup rapat-rapat mahkota diatas kepalanya.
Namun malam ini, Haura hanya menggunakan handuk berwarna putih yang meliliti setengah tubuhnya. Pundak dan kedua kaki jenjangnya terekspose begitu nyata.
Belum lagi rambutnya yang setengah basah dan tergerai asal
Glek! Adam hanya mampu menelan ludah. Sekuat tenaga menahan hasrat, agar tak kembali menerkam Haura dengan begitu ganas.
"Kenapa tidak memakai baju pemberian Aida?" tanya Adam, yang ingin menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
Adam tidak tahu, jika Aida memberikan Haura sebuah Lingerie, dipikirnya itu adalah baju tidur biasa, sama seperti miliknya.
Adam pun mendekat, ingin Haura tahu, bahwa ia merasa baik-baik saja saat melihat penampilan Haura yang seperti ini.
Haura tak langsung menjawab, juga tak mengangkat kepalanya untuk menatap sang suami yang kini sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Haura," panggil Adam sekali lagi, karena istrinya itu hanya bergeming.
Mau tidak mau, Haura pun akhirnya mulai mengangkat wajahnya dan menatap kedua netra sang suami. Membiarkan suaminya itu melihat kedua pipinya yang sudah merona.
"Cantik," ucap Adam tanpa sadar.
Ia bahkan menggerakkan tangannya dan membelai lembut wajah sang istri yang terasa dingin.
Adam, menatap lekat wajah itu. Dua mata yang bersinar indah, dengan bulu mata lentik yang begitu menawan.
Hidung kecil dan mancung, lalu bibir yang nampak basah dan merah merekah. Tangan Adam, berhenti dibibir itu, membelainya lembut.
Perlahan, Adam kembali menggerakkan tangannya. Kini tak hanya satu, kedua tangan besar dan hangat Adam menyentuh kedua pundak Haura yang terbuka.
"Haura, maukah kamu melakukannya?" tanya Adam lirih, menatap dengan kedua mata yang sudah sayu dan berkabut.
Dan Haura, hanya mampu menganggukkan kepalanya kecil sebagai jawaban.
Perlahan, Adam menarik handuk sang istri hingga tertanggal sempurna, jatuh begitu saja diatas lantai.
Dan Haura hanya bergeming, meski tubuhnya sudah bergetar begitu hebat.
Adam, memang telah berhak atas semua ini.
Dan malam itu, Adam kembali merengkuh semua milik Haura. Memasuki inti terdalam hingga ia tenggelam sempurna.
Namun ada yang sangat berbeda. Kini, Adam tak lagi mendengar isak tangis wanita cantik ini.
Malam ini, Haura mendesah diantara namanya yang disebut.
Waktu terus berlalu, berjalan seirama dengan hentakan demi hentakan yang mereka ciptakan. Hingga saat dini hari. Barulah keduanya terbaring dengan saling memeluk erat.
"Mas Adam tadi mandi dimana?" tanya Haura setelah napasnya kembali normal, ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher sang suami.
Saat Haura keluar dari dalam kamar mandi, ternyata ia melihat sang suami yang sudah mandi pula. Mereka sama-sama menggunakan handuk yang meliliti setengah tubuh.
"Aku mandi di kamar sebelah, semua kamar di lantai ini sudah ku pesan," jawab Adam, lalu mencium pucuk kepala sang istri dengan sayang.
Haura yang lelah sudah tak mampu menjawab lagi.
Dan entah dimenit keberapa, akhirnya mereka berdua terlelap.
Hingga waktu pagi menjelang, keduanya masih saling memeluk erat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aida : Yah, Lingeri pemberianku nggak dipake, tapi tetep Vote dan kasih Hadiah ya 😘😘😘
Salam, Aida Malik 👩🎤