
Sampai di mansion nenek Zahra, mereka semua langsung disambut antusias oleh Aida.
Azzam dan Azzura bahkan langsung memeluk tantenya itu erat-erat.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
Ternyata, Agra dan Sarah beserta Arrabela juga sedang berkunjung ke rumah nenek Zahra.
Jadilah, minggu ini suasana riuh memenuhi mansion ini.
Para anak-anak bermain di play ground dengan didampingi para pelayan.
Sementara para orang tua berkumpul di ruang keluarga.
"Labih dan Nanjan tidak bisa datang, mereka ikut seminar," ucap Aida. Ketika Haura menanyakan kedua remaja itu pada Aida.
Aida, memang sudah mengatakan pada semua orang jika ialah yang akan bertanggung jawab pada Labih dan Nanjan.
"Huwek!" Adam, tiba-tiba ingin muntah, hingga mengejutkan semua orang.
Haura bahkan langsung menyentuh bahu suaminya itu dengan cemas.
"Kamu sakit Dam?" tanya Zahra, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sang anak.
"Tidak Bu, aku baik-baik saja, tapi entah kenapa sekarang tiba-tiba mual," jawab Adam apa adanya.
"Mungkin masuk angin, ayo aku kerokin," tawar Haura. Itulah satu-satunya cara yang ia taku untuk meredakan masuk angin.
Aida dan Sarah mendekat, namun dengan cepat pula Adam mencegah kedua wanita itu mendekat.
"Stop!" ucap Adam lantang, dengan satu tangannya yang menutupi mulut.
"Maaf, tapi sepertinya gara-gara parfum kalian aku jadi mual begini," ucap Adam, jujur.
Sarah dan Aida saling pandang, lalu menciumi tubuhnya masing-masing.
Mereka berdua tidak pernah menggunakan parfum, dan hanya mandi menggunakan aroma terapi yang menenangkan. Bahkan aroma itu masih tetap melekat hingga beberapa jam.
"Aku tidak mencium apapun Mas, kenapa mas jadi sensitif begini?" tanya Haura, lirih.
Ia semakin tak tega melihat suaminya itu saat dahi Adam banyak mengeluarkan peluh.
"Aku akan panggil dokter Diah Bu." Yuda, buka suara. Berinisiatif untuk memanggil dokter keluarga mereka.
Dan Zahra pun setuju.
Lalu Arga membantu saudaranya itu untuk bangkit dan menuju kamar Adam di mansion ini untuk beristirahat.
"Memangnya apa salah kami?" Aida, tidak terima. Pun sarah yang juga menatap curiga.
"Entahlah, pokoknya jangan dekat-dekat denganku."
Agra dan Yuda hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Baru kali ini mereka melihat Adam yang nampak aneh seperti itu. Tidak ingin didekati oleh Aida dan Sarah, dan hanya terus berpegangan pada lengan istrinya itu.
Zahra pun bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lama berpikir, ia pun tak menemukan jawaban apapun.
15 menit kemudian.
Dokter Diah datang, baru selangkah ia masuk ke dalam kamar itu. Adam sudah memintanya berhenti.
Adam tidak ingin, Diah menghampiri dirinya, apalagi sampai menyentuh untuk memeriksa keadaanya.
"Adam! jangan seperti anak kecil. Sopan lah kepada dokter Diah, beliau sudah jauh-jauh datang kesini, kamu malah menolaknya." Zahra, sedikit marah.
Melihat sang anak sulung yang berprilaku aneh. Tadi tidak ingin didekati adik dan iparnya. Kini tidak ingin didekati Dokter Diah.
"Dokter Diah, kemari lah, periksa Adam, jangan pedulikan penolakan dia," titah Zahra, seraya melambai.
Ragu-ragu, Diah pun maju, namun betapa terkejutnya semua orang saat Adam malah memuntahkan isi perutnya tanpa bisa dicegah.
Melihat Diah mendekat, membuat Adam semakin mual.
Sontak Diah pun mundur, membiarkan Agra dan Yuda yang maju dan mendekati Adam.
"Ya Allah Mas, kita ke rumah sakit saja Bu," pinta Agra.
Adam benar-benar muntah, ada cairan bening seperti air putih yang keluar dari muntahannya disisi ranjang.
"Baiklah," putus Zahra.
Lalu ada satu pelayan wanita yang hendak mendekat dan membersihkan muntahan itu.
Namun lagi-lagi Adam mencegah.
Sungguh, ia begitu mual ketika melihat banyak wanita selain istri dan ibunya.
Diah yang sedari tadi mengamati, akhirnya menemukan sebuah kesimpulan.
Nyonya Haura, hamil.