
Sebelum pulang ke Jakarta.
"Ya, saya adalah suami Monica," ucap Darius menjawabi pertanyaan bude Soimah saat itu.
Membuat Monica terdiam seribu bahasa dengan banyaknya pertanyaan yang berterbangan di kepalanya.
Kenapa Darius ada disini?
Kenapa Darius menemuinya?
Kenapa Darius mengatakan jika dia adalah suaminya?
Semuanya pertanyaan itu tidak mampu Monica utarakan, semuanya tertahan di ujung lidah karena pikirannya terlalu gamang.
Sampai akhirnya ia merasa tubuhnya yang kurus tertarik masuk ke dalam dekapan Darius. Pelukan hangat dan erat itu membuat air matanya mengalir dengan sendirinya.
Seseorang yang ada di masa lalunya datang kesini dan memberikan sebuah pelukan.
Hati yang selama ini terasa dingin perlahan mencair, kembali hangat dengan perasaan yang entah.
Pelan-pelan, Monica mendorong dada Darius. Melerai pelukan itu. Sementara Soimah kembali masuk ke dalam toko memberi kesempatan sepasang suami istri itu menyelesaikan masalahnya.
Begitulah yang di yakini Soimah.
"Ayo kita pulang," ajak Darius langsung setelah pelukan itu terlerai, namun ia tak benar-benar melepas. Ia masih menggenggam erat kedua tangan Monica. Tidak membiarkan gadis ini lari. Meskipun berulang kali Monica berusaha menarik tangannya, Darius tidak peduli.
"Lepaskan tanganku, rumahku disini," jawab Monica dengan suaranya yang dingin.
Hubungan mereka di masa lalu bukanlah hubungan yang baik. Bahkan Monica masih mengingat dengan jelas bagaimana Darius mengusirnya kala itu.
Mengabaikan dirinya.
Bahkan ketika kembali teringat dadanya mendadak sesak.
Tapi Darius bukanlah pria yang bermurah hati, meski Monica menolak. Namun ia tetap menarik gadis ini untuk masuk ke dalam mobilnya.
Mengunci pintu mobil itu dan membiarkan mereka berdua terkunci di dalamnya.
"Apa yang kamu lakukan! buka pintunya!" bentak Monica, sedari tadi ia meronta namun tidak menghasilkan apa-apa. Dia kalah tenaga dan berakhir duduk di sini dengan pria yang selama ini ia yakini sebagai pria brengsek.
"Diam, dengarkan aku bicara dulu," pinta Darius.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kedatangan mu kesini malah mengganggu hidupku yang damai," jawab Monica dengan suaranya yang makin tinggi.
Namun sungguh, Darius tetap merasa berdebar tiap kali mendengar amarah Monica itu. Ia rindu makian Monica. Wanita yang selama 5 tahun ini memenuhi isi kepalanya.
Semenjak pergi dari Jakarta, Darius jadi teringat akan Monica. Merasa bersalah karena waktu dia mampu dia tidak membantu Monica saat itu.
Perasaan bersalah yang membuatnya tidak pernah sekalipun melupakan Monica dari pikirannya.
Hingga tanpa sadar, cinta itu tumbuh meski hanya melalui pikiran. Bahkan karena Monica lah Darius benar-benar bertobat dan ingin segera kembali ke Jakarta.
Mengambil kembali posisinya di Atmajaya Group dan menjemput gadis ini disini.
"Buka pintunya!" bentak Monica sekali lagi.
Dan tanpa aba-aba, Darius segera menarik tubuh kecil Monica dan membawanya mendekat, menahan tengkuknya lalu melabuhkan sebuah ciuman diatas bibir ranum itu.
Kedua netra Monica membola. Darius memang benar-benar pria brengsek, pikirnya.
Namun seketika ia membatu saat merasakan sentuhan Darius yang begitu lembut menyapu dirinya. Bahkan dulu Adam tidak pernah memperlakukannya seperti ini.
Monica meronta bahkan berulang kali memukul dada Darius, namun Darius tetap menahan. Hingga akhirnya ciuman panjang itu tercipta, menciptakan suara decapan merdu di dalam mobil BMW berwarna hitam ini.