
Lima hari berlalu, hingga tiba saatnya Teater musikal Azzura digelar di Aula AIG School.
Kabar bahwa salah satu penerus Malik Kingdom mengambil peran dalam teater itu, makin banyak pula media yang meliput.
Mereka semua ingin melihat, bagaimana kemampuan salah satu sang pewaris.
Jika dulu Azzam Malik bisa memenangkan Olimpiade, maka apa yang bisa dilakukan oleh Azzura malik?
Semua berita mulai bergulir tak bisa dikendalikan.
Saat itu Adam dan Haura datang bersama, lengkap pula dengan Zahra dan Aida. Ada juga ayah dan ibu Arrabela, Agra dan Sarah.
Sebelum memasuki Aula, Agra dan Sarah lebih dulu berkenalan dengan Haura.
Sumpah demi apapun, ia tak pernah menyangka jika semua keluarga Adam akan menerimanya dengan tangan terbuka seperti ini.
Bahkan Sarah lebih dulu memeluk Haura, mengucapkan kata maaf lalu mengatakan jika kini mereka adalah keluarga.
Mendengar itu, Haura terus mengucapkan syukur didalam hati, bersyukur tiada henti. Karena terlalu bahagianya, ia bahkan lebih dulu memegang lengan Adam saat hendak memasuki Aula sekolah.
Diperlakukan seperti itu, Adam sudah melayang hingga ke langit. Adam lalu menyentuh tangan Haura itu, lengkap pula dengan tatapannya yang begitu dalam.
Kedekatan Adam dan Haura sontak menjadi pusat perhatian, namun tim keamanan Adam dengan segera mengahalau semua kamera yang hendak merekam.
Adam hanya ingin, kini semua mata tertuju pada sang anak, Azzura. Dan bukan dirinya.
Setelah semua orang duduk sempurna didalam Aula, barulah teater itu dimulai. Azzam pun ikut menyaksikan penampilan sang adik, duduk diantara kedua orang tuanya.
Teater musikal yang bertema "The Lion King Circle of Life", tentang kerajaan hewan di Afrika. Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja hutan yang bernama Mufasa dan anaknya Simba yang akan menjadi penerus raja hutan berikutnya di kerajaan Pride Land.
Kisah The Lion King Circle of Life ini mempunyai banyak pesan moral, yaitu kebenaran akan selalu menemukan jalannya, yang benar akan tetap benar, dan yang salah akan tetap salah.
1 jam, para penonton disuguhkan penampilan apik dari para anak-anak mereka. Penampilan Azzura dan Arrabela seketika mencuri perhatian semua orang.
Arrabela begitu menghayati dalam peran sementara nyanyian Azzura hingga menghipnotis semua orang. Suara merdunya, membuat semua orang hanyut dalam cerita yang mereka bawa.
Hingga saat cerita itu usai, semua penonton berdiri seraya memberikan tepuk tangan yang begitu meriah.
Bahkan Zahra sampai menangis, kala melihat teater itu. Ia tak menyangka, jika sang cucu Azzura memiliki suara yang sangat indah. Seperti kicauan burung yang menghanyutkan.
Gema tepuk tangan itu mereda, saat anak-anak sudah berlalu menuju belakang panggung. Dibelakang sana Luna sudah menunggu, menjemput Azzura dan Arrabela untuk menemui keluarga mereka.
Dengan senang hati, Azzura dan Arrabela mengikuti langkah tante Luna. Ketiganya berjalan beriringan keluar dari panggung, lalu berjalan menuju kursi penonton menemui ayah dan ibu serta nenek dan tante mereka.
Melihat kedua cucunya datang, Zahra langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya lebar, menyambut dengan perasaan bangga yang begitu membuncah.
"Masya Allah, kalian hebat sekali sayang," puji Zahra sungguh-sungguh, Azzura dan Arrabela adalah magnet dalam teater itu, hingga membuat semuanya menjadi menarik.
Dipuji sang nenek, Azzura dan Arrabela hanya mampu tersenyum, senyum yang sangat lebar hingga gigi-giginya pun nampak.
Belum puas mereka melepas kekaguman, para awak media mulai menyerang. Dunia maya pun begitu tertarik dengan kemampuan Azzura dan Arrabela.
Teater musikal itu disiarkan langsung oleh tv nasional, seketika nama Azzura Malik dan Arrabela Malik menjadi pembicaraan hingga menjadi tranding topic.
Dalam sekejab saja, semua orang mengenal kedua anak itu.
Bahkan akun media sosial Arrabela langsung mendapatkan banyak pengikut. Sedangkan Azzura, tidak memiliki akun media sosial.
Tertutupnya sikap Azzura itu makin membuat semua orang menaruh perhatian pada sang anak. Merasa jika Azzura memiliki sifat seperti sang ayah, yang begitu tertutup dengan kehidupan pribadinya.
Berbagai macam pertanyaan sudah dilontarkan oleh para wartawan, para bodyguard Adam pun langsung bertindak cepat untuk menghalau.
Dengan sabar, Zahra menanggapi semua pertanyaan wartawan. Namun dalam kesempatan kali itu, Zahra hanya menjawab perihal Azzura dan Arrabela.
Tentang bersyukurnya dia, memiliki cucu-cucu yang sangat pintar dan berbakat, Zahra bahkan tak segan untuk memeluk ketiga cucunya sekaligus, Azzam, Azzura dan juga Arrabela.
"Mereka adalah cucu-cucuku," ucap Zahra dengan bangga.
Dibalik tubuh Adam, Haura meneteskan air matanya. Air mata haru kala melihat Zahra begitu menyayangi kedua anaknya.
Memperlihatkan kepada dunia, bahwa ia begitu tulus menyayangi mereka.
Adam yang mendengar tangis pelan Haura pun menoleh, namun dengan cepat Haura menahan wajah Adam agar tak melihat kearahnya, ia malu.
"Jangan lihat," bisik Haura dan Adam hanya mampu mengulum senyumnya.
Adam tak menjawab apapun, hanya menarik salah satu tangan Haura untuk digenggamnya erat, memberikan ketenangan.
Hingga saat sesi wawancara itu disudahi oleh Zahra, namun para wartawan masih belum puas mengulik semua berita.
Tapi untunglah para Bodyguard keluarga Malik bertidak dengan tepat, mereka semua menghalau wartawan, dan memberi akses jalan untuk keluarga Malik keluar dari Aula AIG School.
Kala itu para orang tua pulang, sementara para anak murid masih tinggal. Teater diadakan jam 8 pagi, hingga kini masih berada di jam sekolah.
Zahra dan Aida pulang ke mansionnya, pun Agra dan juga Sarah yang pulang ke mansionnya sendiri. Sedangkan Adam, mengantarkan Haura untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalanannya pulang itu, Adam menunjukkan rumahnya pada Haura. Rumah yang tak jauh dari rumah Haura dan AIG School.
"Jadi Mas tinggal disitu? kenapa tidak bilang, ku pikir Mas tinggal bersama ibu Zahra," ucap Haura sesuai yang ada dibenaknya.
Jujur saja ia terkejut, tak menyangka jika sebenarnya mereka tinggal sedekat ini. Hanya butuh waktu 10 menit menggunakan kendaraan mereka akan bisa bertemu.
"Aku memang baru pindah ke rumah itu, sengaja agar lebih dekat dengan kalian," jawab Adam jujur.
Dan Haura tercenung, setiap hari Adam selalu menunjukkan kasih sayangnya pada ia dan juga kedua buah hatinya, jujur saja, hati Haura mulai merasakan ketulusan itu.
Hingga saat mobil Adam sudah sampai di halaman rumah Haura. Mereka kembali saling tatap dengan tatapan yang dalam, belum hendak turun dari sana.
"Menikahlah denganku Haura," ucap Adam yang berhasil membuat kedua netra Haura membola. Di keadaan yang hening, kalimat itulah yang pertama diucapkan oleh Adam.
Membuat debaran jantung Haura benar-benar tak seperti biasanya.
"Kenapa Mas ingin menikahiku? apa karena Mas ingin menepati janji Mas enam tahun silam?" tanya Haura, mencoba memperjelas semuanya. Anggaplah ia egois, namun ia mengharapkan cinta yang tulus dari Adam.
Enam tahun hatinya membeku, ia sungguh rindu kasih sayang.
Dan Adam menggelengkan kepalanya pelan, lalu menggenggam erat kedua tangan Haura.
"Jika hanya karena janji, aku akan berhenti memperjuangkanmu saat pertama kali kamu menolakku," jelas Adam.
Ia lalu menarik tangan Haura dan membawanya untuk menyentuh dada, memberi tahu Haura bahwa kini jantungnya berdetak tak beraturan.
"Aku mencintaimu Haura, bahkan aku sudah mencintaimu sebelum aku berhasil menemukan kalian." jelas Adam jujur dan membuat kedua netra Haura berkaca-kaca.
"Jangan menyiksaku lebih lama lagi, aku mohon terimalah lamaranku Haura," pinta Adam sungguh-sungguh.
Hingga membuat air mata Haura kembali jatuh.
Dan dengan perlahan, Haura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.