
Promo novel author Lunoxs, jika berkenan mampir ya ❤
Promo salah satu bab :
🌻🌻🌻
Setelah lama berdebat di halte bus, akhirnya Gala mengajak Giselle untuk kembali lagi ke sekolah .
Siang itu untuk pertama kalinya setelah 2 tahun lebih Giselle mengejar Gala, akhirnya Giselle pulang sekolah diantar oleh Gala menggunakan sepeda motornya.
Karena Gala hanya membawa satu helm akhirnya Gala memberikan helm itu untuk Giselle, sementara dia sendiri tidak memakai pelindung kepala itu.
Membuat Gisel ragu antara tetap pulang diantar Gala atau minta jemput sang Ayah saja.
"Aku minta jemput ayah sajalah, mana bisa hanya aku saja yang menggunakan helm, nanti kita malah kena tilang," ucap Giselle ragu, dia bahkan menghindar saat Gala hendak memakaikan helm itu di kepalanya.
"Kamu tenang saja, kita tidak akan melewati jalan utama. Aku tahu jalan pintas menuju rumahmu," jawab Gala. Dia kembali memakaikan helm itu di kepala Giselle dan kali ini sang gadis tidak menolaknya.
"Beneran?"
"Iya."
Gala lebih dulu naik ke atas motor matic itu dan kemudian disusul oleh Giselle yang naik dengan hati-hati. Mendadak gugup saat tubuh keduanya berada di jarak yang dekat seperti ini.
Bahkan lebih dekat daripada saat mereka pergi ke Bogor dan duduk berdampingan selama di dalam Bus.
Kini keringat dingin pun mulai muncul di kedua tangannya ketika membayangkan dia akan memeluk Gala dari arah belakang.
Hih mesum, batin Giselle, ia menggelengkan kepalanya keras berusaha mengembalikan kesadarannya agar tidak membayangkan yang bukan-bukan. Membayangkan dadanya menyentuh punggung Gala.
"Pegangan, aku tidak mau kamu jatuh," ucap Gala membuat Giselle tersadar dari lamunan mesumnya.
"I-iya" jawab Giselle gugup, bukan melingkarkan satu tangannya di pinggang Gala, Giselle malah memegang besi di bawah pangkuannya. Memegangnya erat agar tidak jatuh.
Sementara Gala yang sedang menunggu Giselle memeluknya pun mendadak bingung, kenapa Giselle tidak segera memeluknya. Padahal sudah jelas Gala mendengar tadi Giselle menjawab Iya.
Gala menoleh kebelakang, melihat apa yang dilakukan Giselle.
Dan dia menatap tidak percaya melihat kelakuan bocah tengil ini.
"Kenapa memegang besi itu? pegang pinggangku," keluh Gala. Dengan segera dia menarik tangan Giselle dan melingkarkannya sendiri di pinggangnya. Menahannya sesat kemudian mulai melajukan motornya.
Jantung Giselle degub-degub, Bahkan ia bisa melihat dengan jelas tengkuk Gala dari jarak sedekat ini. Membuatnya semakin memeluk Gala erat, meyakinkan hati jika ini bukan mimpi.
Gala mulai membelokkan motornya masuk ke dalam sebuah Gang, jalan yang Giselle pun tidak tahu jika ini bisa menuju ke rumahnya.
Tak lama kemudian Gala kembali lagi membawa mereka ke jalan raya dan menghentikan motornya di sebuah toko.
"Kenapa berhenti?" tanya Giselle penasaran, dia bahkan sedikit mendekatkan wajahnya ke arah Gala saat bicara itu. Agar suaranya mampu Gala dengar diantara riuh suara kendaraan yang lain.
"Ayo turun, kita beli helm untukmu."
Ya, Gala memang menghentikan motornya di sebuah toko helm. Helm yang berjajar hingga diluar toko itu.
"Tapi aku nggak punya uang," sanggah Giselle cepat. Dia bahkan tidak punya cita-cita untuk membeli helm, karena selama ini selalu naik Bus dan sesekali di antar jemput sang ayah menggunakan mobil dinas.
"Aku yang akan membelikan mu."
"Mana bisa seperti itu, aku tidak mau menghabiskan uangmu."
"Uangku tidak akan habis hanya untuk membeli helm."
"Ya sudah beli yang murah saja."
"Itu mahal, harganya 250 ribuan kan?" tanya Giselle karena helm Gala itu sama dengan milik sang kakak karena itulah Giselle bisa tahu harganya.
Gala menganggukkan kepala, lalu menggandeng tangan Giselle untuk segera masuk ke dalam toko itu.
Helm yang berjajar di luar ini tipe Bogo, sementara dia sedang mencari merk J-King.
Milik Gala berwarna hitam dan dia pun membelikan Giselle warna yang sama.
Giselle sungguh merasa tidak enak hati, dia merasa sudah memanfaatkan Gala untuk di belanjakan ini itu, meski ini baru yang pertama kali. Giselle tetap saja merasa harusnya tidak seperti ini.
Gala mulai membayar helm itu di kasir dan harganya malah lebih tinggi dari 250 ribu.
Giselle sempat melihat isi dompet Gala, untuk seumuran mereka isi dompet Gala itu terlalu banyak. Bahkan masih ada beberapa lembaran merah lagi disana setelah Gala membayar helm itu.
"Besok aku akan mengganti uangmu," ucap Giselle setelah mereka keluar dari toko itu dengan membawa helm baru. Kini mereka sudah berdiri di samping motor Gala.
"Kenapa? aku memberikan helm ini untuk my future wife, agar dia selalu ingat denganku dan tidak berpaling dengan yang lain," jawab Gala dengan senyum terukir di bibirnya.
Dan hal itu berhasil membuat Gisele terdiam, dengan perasaan yang campur aduk. Antara sedang dan tidak enak hati. Dia hanya pasrah saat Gala memasangkan helm baru itu di kepalanya.
"Mulai sekarang, aku yang akan menjemput dan mengantarmu pulang sekolah. Sampai kita lulus nanti," ucap Gala.
Sebuah ucapan yang lagi-lagi membuat Giselle terdiam. Karena dia mencium aroma perpisahan di sana.
"Kalau begitu aku tidak mau lulus, biar kita bisa pulang sama-sama terus."
Cletak! Gala langsung menjitak helm Giselle hingga gadis ini gaduh dan cemberut.
"Kita harus segera lulus, kuliah, dan memiliki pekerjaan agar bisa segera menikah," balas Gala.
Mendengar itu Giselle pun tersenyum, nyaris saja dia kembali oleng. Yang hanya memikirkan tantang cinta-cintaan dan melupakan masa depan.
Setelah Gala melihat Giselle yang mengangguk, dia pun memasangkan helm untuknya sendiri. Lalu kembali mengajak Giselle untuk kembali naik ke atas motor dan pulang.
Kini tanpa diminta pun Giselle langsung memeluk erat Gala dengan satu tangannya.
Perjalanan indah itu berakhir saat kini Gala menghentikan motornya di depan rumah Giselle.
Di depan gerbang berwarna putih dengan tinggi se dagu mereka. Ada sebuah pohon rindang didekat gerbang itu hingga membuat keduanya tidak kepanasan dari teriknya matahari siang menjelang sore kali ini.
"Besok pagi aku akan menjemputmu," ucap Gala setelah Giselle turun.
"Apa tidak terlalu repot, lebih baik kita pulang sama-sama saja, berangkatnya biar aku sama ayah," balas Giselle yang tidak ingin membuat Gala repot.
Dulu Gala begitu acuh kepadanya, tidak menyangka jika kini Gala mencurahkan semua perhatian itu untuknya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan berangkat dengan Arumi saja."
Plak! kini Giliran Giselle yang memukul lengan Gala. Tapi bukannya gaduh kesakitan Gala malah terkekeh.
"Sebelum jam 7 aku akan menjemputmu, jadi biasakan bangun pagi-pagi. Setelah shalat subuh jangan tidur lagi," ucap Gala, dia tersenyum.
Senyum yang membuat Giselle sampai terpana.
"Aku pulang."
"Tidak boleh!" sahut Giselle cepat, membuat keduanya terkekeh karena membenci perpisahan ini.
"Aku pulang."
"Hum, hati-hati ya."