My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 125 - Perasaan Tak Nyaman



Atmajaya Group.


Menggunakan pakaian karyawan bagian survey, Darius keluar dari gedung tinggi itu.


Tak ada mobil mewah, tak ada sang asisten yang selama ini melayaninya, dan tak ada sapaan hormat dari semua orang.


Semuanya itu sudah hilang, dalam semalam.


Ia menatap lurus kearah jalanan yang dipenuhi kendaraan. Riuh kota Jakarta yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


Tatapannya kosong, merasakan dada yang terasa begitu sesak. Ucapan terakhir sang ayah masih terekam jelas di ingatannya.


Jadi benar, inisal DA yang dulu Adam sebutkan dalam konferensi pers pernikahannya itu adalah dirimu?


Ya Allah Darius Darius, berapa kali ayah bilang berhentilah mengusik Adam! Berhenti! Karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan dia!


Meskipun kamu bersekongkol dengan Monica sekaligus!


Adam itu berbeda denganmu!


Adam tahu caranya menghargai kerja keras, sementara dirimu? Yang bisa kamu lakukan hanya terus berpoya-poya! Sadar lah Darius, Sadar!


Saat itu sang ayah terus membentaknya tanpa ampun.


Karena kebodohanmu, nyaris saja perusahaan keluarga kita hilang. Jadi ayah mohon, sekali ini saja, sekali ini saja jadilah berguna.


Pergilah dari rumah ini dan jalankan hukumannya itu, agar kamu mengerti betapa susahnya orang merintis usaha dari bawah. Agar kamu bisa menghargai apa yang kamu miliki tanpa melihat apa yang orang lain punya.  


Ayah tidak akan memberikanmu fasilitas apapun, selama 5 tahun ini kamu hanyalah seorang Darius, tidak ada lagi nama Atmajaya di belakang namamu.


Darius, mengepalkan kedua tangannya kuat. Ia tak bisa melakukan apapun, bahkan memberi sedikit perlawanan pun ia tak mampu.


Tak ada satu pun orang yang mau menolongnya.


Disaat seperti ini, ia teringat akan seseorang, Monica yang beberapa saat lalu mendatangi dirinya untuk meminta bantuan, namun dengan sombongnya ia malah mengusir wanita itu.


Teringat itu, Darius tersenyum getir. Ternyata kini, iapun merasakan hal yang sama. Merasakan apa yang dirasakan oleh Monica dan Haura dulu, terbuang dan tersisihkan.


Dengan langkahnya yang pelan-pelan, Darius mulai melangkahkan kakinya.


Melambai pada satu taksi yang lewat.


Mensurvey harga dan kepuasan konsumen akan produk perusahaannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ting!


Satu foto masuk ke dalam ponsel Adam.


Saat itu Adam baru saja sampai di ruang kerjanya, duduk di kursi kebesarannya, kuri CEO Malik Kingdom.


Mengira pemberitahuan itu dari sang istri, Adam pun segera membuka ponselnya. Ia tak ingin Haura menunggu terlalu lama.


Namun setelah melihat pesan itu, Adam malah menghembuskan napasnya pelan, kecewa.


Ternyata itu bukanlah pesan dari sang istri, melainkan dari salah satu anak buahnya.


Mengirim sebuah foto seorang pria yang begitu ia kenal, Darius yang berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, duduk di kursi tunggu yang akan membawanya ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh.


Melihat itu, Adam tersenyum kecil.


Namun entah kenapa, kesenangan yang ia dapat tak seperti apa yang ia bayangkan selama ini.


Adam pikir, setelah melihat Darius hancur dan Monica yang mendapatkan ganjarannya. Ia akan merasa sangat bahagia dan puas. Namun nyatanya tidak seperti itu.  Ia masih saja merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


“Kris,” panggil Adam pada sang asisten pribadi barunya.


Sedari tadi, Kris sudah berada di ruangan ini. Berdiri dan menunggu perintah dari sang tuan.


“Ya Tuan,” jawab Kris, seraya menundukkan kepalanya sejenak, memberi hormat.


“Darius dan Monica sudah hancur, tapi kenapa hatiku masih merasa tak nyaman. Seolah beban itu masih belum menghilang dari hatiku,” ucap Adam lagi, seraya menerawang hatinya sendiri.


Kris tak langsung menjawab.


Ia pun tahu permasalahan yang telah dihadapi oleh Tuannya itu. Luna sudah banyak memberikan informasi padanya.


“Maaf Tuan, setahu saya, orang akan merasa lega ketika sudah memaafkan musuhnya, bukan saat membalas mereka.”