My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 172 - Asegaf Junior



Malaysia.


Sanja, kini menjadi ibu rumah tangga. Saat sang suami menawari Sanja untuk menjadi bidan di salah satu rumah sakit, Sanja menolak.


Ia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dan segera memiliki anak.


Mendengar jawaban itu, Shakir sangat bahagia. Tak habis-habisnya dia mengucapkan kata syukur.


Cukuplah, Sanja menjadi bidan pribadinya seumur hidup.


Pagi ini, rutinitas Sanja seperti biasa. Memasak dan menyiapkan sarapan untuk sang suami. Shakir, bekerja di perusahaannya sendiri. Perusahaan ekspor-impor produk pertanian.


"Abang, dari semalam wajahmu pucat, kamu juga mengeluh perutnya sakit. Lebih baik istirahat saja dulu di rumah, tidak usah ke kantor, ya?" ucap Sanja sekaligus memohon pada sang suami, seraya menyerahkan teh hangat dihadapan suaminya itu, yang kini sedang duduk di meja makan.


"Sebentar saja sayang, sebelum jam 12 aku pulang."


Sanja, langsung cemberut. Perhatiannya tidak dipedulikan.


Hingga dering ponsel milik Sanja mengalihkan perhatian keduanya, Shakir yang berada dekat dengan ponsel itu lantas melihat siapa yang memanggil, ternyata Haura.


"Haura sayang, angkatlah," ucap Shakir, ja mendekatkan ponsel istrinya itu pada sang pemilik. dan tanpa mengulur waktu Sanja langsung menjawabnya.


"Assalamualaikum Haura," jawab Sanja dan di Indonesia sana pun Haura membalas salam itu.


Saat Sanja bertanya ada apa, Haura langsung menceritakan tentang kegundahannya, sudah beberapa kali melakukan hubungan suami istri namun belum melakukan KB.


Dengan tersenyum, Sanja pun memberi saran. Untuk bulan ini jangan melakukan hubungan badan dulu, lalu bulan depan diperiksa dan jika Haura tidak hamil maka bisa langsung melakukan KB.


Adam yang ikut mendengar percakapan Haura dan Sanja pun sontak langsung berubah murung. Malah jadi dia yang rugi, pikirnya.


"Baiklah Sanja, terima kasih ya."


"Sama-sama Haura," balas Sanja dan panggilan itupun terputus.


Sanja, langsung menatap suaminya dengan tatapan yang entah. Sampai-sampai Shakir merasa takut.


Jangan-jangan Haura mengatakan sesuatu yang buruk tentangnya, pikir Shakir mendadak cemas.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Shakir akhirnya, ia pun mulai meminum teh buatan sang istri. lalu meletakkannya kembali di atas meja.


"Apa abang masih mual?" jawab Sanja, membalas dengan pertanyaan pula.


"Iya, masih. Perutku memang rasanya mual tapi aku tidak merasa pusing," jelas Shakir.


"Jangan-jangan aku hamil Bang, terus yang ngidam Abang. Sama seperti Haura dan Tuan Adam. Haura yang hamil tapi tuan Adam yang mual," jelas Sanja panjang lebar, sehabis menerima panggilan Haura, ia jadi teringat peristiwa langka itu.


Shakir, langsung tergelak. selama ini, Shakir selalu mengumpat Adam dari belakang. Mengatakan jika itu hanyalah akal-akalan Adam saja agar bisa bermanja-manja dengan Haura.


Mana ada di dunia nyata seperti itu.


"Tidak mungkin sayang, Adam itu hanya membohongi Haura saja," balas Shakir setelah tawanya mereda.


Tapi Sanja tidak langsung percaya.


Dia lebih mempercayai instingnya.


"Coba aku periksa dulu menggunakan tespack, kalau aku benar hamil berarti Abang yang ngidam." jelas Sanja.


dan Shakir mengangguk dengan antusias.


"Silahkan," jawab Shakir dengan percaya diri. Tidak mungkin ia seperti Adam.


Sekitar 10 menit Sanja pergi, akhirnya ia kembali menghampiri sang suami di meja makan. Senyumnya terkembang dengan membawa tespack di tangan.


Hasilnya sudah nampak jelas di sana.


"Bagaimana? belum hamil kan?" tebak Shakir, dengan kepercayaan diri penuh.


"Maaf, tapi aku hamil dan yang ngidam Abang," jelas Sanja seraya menunjukkan 2 garis merah di testpack miliknya.


Sanja tergelak, melihat wajah sang suami yang pias.


Lalu menghentikan tawanya dan memeluk sang suami erat.


"Aku hamil," lirih Sanja, dan rupanya Shakir meneteskan air mata di pelukan istrinya itu.


"Alhamdulilah," ucap Shakir penuh syukur. Seraya membalas pelukan sang istri tak kalah eratnya.


mulai sekarang, Shakir yang akan ngidam. Menyambut Asegaf Junior.