My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 88 - Niat Terselubung



"Maaf Nyonya, saya bersikap terlalu kasar tadi," ucap Luna, ia menundukkan kepalanya didepan Haura ketika sudah kembali ke toko. Berdiri disebelah Haura yang tengah duduk di sofa ruang tunggu, bersama dengan Aminah dan Jodi pula.


"Kamu tidak salah Luna, Om malah berterima kasih atas bantuan mu." Jodi menjawab lebih dulu, sebelum Haura sempat menjawab.


Di dalam sana pun Jodi kembali menjelaskan duduk masalahnya kepada sang keponakan.


Menceritakan semua tanpa ada yang ditutup-tutupi, tentang ayah, ibunya dan juga Hasan sang kakak. Sebagai seorang ibu, ibu Haura ingin kedua anaknya hidup rukun tanpa ada pembeda diantara keduanya. Karena itulah, ia selalu mengatakan pada kedua anaknya jika mereka adalah saudara kandung.


Hasan dan Haura hanya terpaut usia 4 tahun, karena itulah ibu Haura berpikir, Hasan pun tidak akan mengerti perihal statusnya yang berbeda ayah.


Sejak Haura dan Hasan masih kecil, ayah Haura pun sudah merasa jika Hasan tak menyukai bidadari kecilnya itu.


Demi menghargai sang istri, iapun hanya diam.


Hal itu terus berlangsung hingga Haura dan Hasan menginjak usia dewasa, lalu sang ibu meninggal dan tak lama ayah mereka meninggal.


Ayah Haura, memberikan semua hartanya kepada Haura. Lengkap pula dengan pernyataan jika Haura adalah anak satu-satunya.


Namun dengan tega, Hasan merebut itu semua. Memutar balikkan fakta dan mengatakan kepada Haura jika semua jatuh ke tangannya.


Sejak kecil terbiasa selalu percaya pada ucapan sang kakak, Haura pun hanya bisa menurut, tanpa berani menuntut.


"Mulai sekarang, belajarlah mengabaikan Hasan. Sama seperti yang dia lakukan selama ini padamu. Om hanya tidak ingin dia terus menyakitimu Haura," pinta Jodi dengan sungguh-sungguh.


Dan Haura hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kamu tidak perlu restu Hasan untuk menikah dengan Adam Nak. Dia bukan walimu, yang akan menjadi walimu kelak adalah Om," timpal Jodi lagi.


"Sebaiknya sekarang kamu pulang, biar Luna yang mengantarmu." Final Jodi.


Haura menurut, ia akhirnya pulang dan diantar oleh Luna.


Kedua wanita ini kini sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju. Luna membawa mobil itu pelan. Ingin sang Nyonya merasa aman.


"Apa mas Adam juga tahu tentang kebenaran ini Luna?" tanya Haura memecah keheningan.


Dapat pertanyaan itu, Luna berada diambang kebingungan. Takut salah menjawab, namun ia tak bisa membohongi sang Nyonya.


"Iya Nyonya, Tuan sudah tahu sejak lama. Tapi saya rasa, Tuan diam karena belum menemukan waktu yang tepat untuk memberi tahu anda tentang kebenaran ini," jawab Luna seraya menjelaskan panjang kali lebar.


Tak ingin Haura salah paham pada Tuannya.


Mendengar penjelasan Luna itu, Haura tersenyum tipis. Jadi teringat wajah Adam kala dulu ia mengatakan untuk menikah setelah menemui sang kakak.


Haura sadar, Adam menutupi itu semua hanya karena Adam tak ingin ia terluka. Namun sebuah kebenaran, pasti akan terungkap pula.


Drt drt drt


Ponsel Haura di dalam tas bergetar, wanita cantik ini segera merogohnya dan melihat siapa yang memanggil.


Ternyata Adam Malik, pria yang baru saja ia bicarakan dengan Luna. Tanpa mengulur waktu, Haura segera menjawab panggilan itu. Saling mengucap salam, dan Haura mengulum senyumnya lebar, kala mendengar suara Adam yang terdengar cemas.


Meski berada di luar negeri sana, Adam tahu apa yang telah dialami oleh Haura beberapa saat lalu.


Adam pun sampai meradang di buatnya.


"Aku baik-baik saja Mas, lagipula ada Luna yang melindungiku," jawab Haura, setelah Adam mencercanya dengan banyak kata.


"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus Haura, aku ingin kamu selalu berada disisiku, berada dalam perlindunganku, bukan Luna lagi," terang Adam menggebu.


Dan Haura hanya mampu mengulum senyum.


"Mas, jangan bilang Mas mau pernikahan kita dipercepat?" tebak Haura dengan sedikit terkekeh. Tahu niat terselubung ayah anak-anaknya ini.


"Bagaimana kamu tahu, apa sekarang kamu sudah bisa membaca pikiranku?" jawab Adam dengan balik bertanya pula.


"Bisa dipercepat, setelah Azzam dan Azzura ujian, kita bisa langsung menikah. Itu artinya hanya tinggal 2 minggu lagi kan?" balas Haura seraya menghitung-hitung hari. Itu bukanlah waktu yang lama.


Dan diujung sana, Adam mendesah pelan. Baginya, itu tetap saja lama.


"Percayalah Mas, kita akan bersama di waktu yang tepat," ucap Haura dan Adam tak bisa berkata apa-apa lagi.


"Baiklah, kalau begitu katakan kamu mencintaiku," balas Adam, seolah ia sedang marah dan hanya ingin Haura mengucapkan kata cinta untuk meredam itu semua.


"Kenapa diam? kamu malu dengan Luna?" tebak Adam yang senyumnya mulai kembali.


"Aku mencintaimu Haura," timpal Adam lagi, semakin menggoda.


Dan kini malah Haura yang tidak bisa berkata-kata.


"Aku akan menunggu mas pulang," jawab Haura cepat, lalu memutus panggilan itu dengan kedua pipinya yang merona.


Diseberang sana Adam terbahak, sementara Luna, yang melihat tingkah sang Nyonya hanya mampu mengulum senyum.