
Setelah bersepakat, akhirnya Haura dan penulis Anna akan memulai kerja sama mereka satu minggu lagi, tepatnya saat hari minggu.
Nanti, Anna yang akan datang ke rumah Haura.
Saat ini, mereka sudah saling berpamitan. Lalu sama-sama turun dari lantai 6 menuju lobby hotel.
Haura dan Anna memimpin jalan, dengan terus saling berbincang. Baru pertama kali bertemu, keduanya sudah merasa akrab.
Sedangkan dibelakang, Luna menggenggam tangan Azzam dan berjalan beriringan, sementara Azzura berada di gendongan Edgar.
Edgar, sungguh gemas tiap kali melihat nona muda keluarga Malik ini. Azzura makin terlihat menggemaskan, dengan rambutnya yang dikepang 2.
"Amang, eh Om," ucap Azzura, bingung.
Masih belum terbiasa dengan panggilan-panggilan yang umum di gunakan di kota Jakarta. Namun sebisa mungkin, Azzura mengikutinya.
"Maaf Om," pinta Azzura, yang sudah salah sebut. Ia meminta maaf, takut om Edgar tak suka ketika dipanggil Amang.
Edgar tak langsung menjawabpi, dengan senyumnya yang lebar ia menarik hidung Azzura pelan, gemas.
"Panggil Amang juga tidak apa-apa, tapi sebagai gantinya, panggil tante Luna dengan sebutan Acil juga," jawab Edgar akhirnya, hingga membuat Azzura tersenyum lebar.
Amang dan Acil memang lebih mudah ia lafalkan ketimbang Om dan Tante.
Namun Luna yang namanya disebut, hanya melebarkan netranya sejenak. Tapi memilih tidak memberi tanggapan apapun.
Diam-diam, Azzam tersenyum kecil. Mulai mengerti jika amang tampan yang satu ini menyukai sang asisten pribadi ibunya.
Alasannya cukup jelas, pertama, seorang tuan Edgar rela datang kesini meskipun dia tidak memiliki urusan penting. Kedua, tadi saat duduk bersama tante Luna, tuan Ed nampak lebih ceria, wajahnya berseri. Dan ketiga, meminta Azzura untuk memanggilnya Amang sekaligus memanggil tante Luna dengan sebutan acil, mengisyaratkan jika mereka adalah pasangan, acil dan amang.
Selesai menganalisa, Azzam terkekeh pelan. Tapi sayangnya, Luna mendengar kekehan itu.
Luna bahkan sampai menunduk kepalanya dan menoleh kearah sang tuan muda.
"Ada apa Tuan Muda? apa ada yang mengusik Anda?" tanya Luna pelan, tak ingin semua orang dengar jika ada masalah. Kekehan Azzam, lebih terdengar suara berdesis di telinganya.
Dengan wajahnya yang sudah kembali datar, Azzam menggelengkan kepalanya, " Tidak ada apa-apa tante," jawab Azzam, sebiasa mungkin. Tak ingin tante Luna mencemaskan nya.
Lagi, Luna menatap lurus dan terus berjalan.
Kembali teringat saat di rumah kemarin, saat melihat tante Luna yang duduk disebelah amang Shakir.
Bukan hanya Azzam, tapi semua orang pun sampai dibuatnya terkejut. Tapi dari sana, Azzam bisa mengerti, jika tante Luna dan amang Shakir memiliki hubungan yang tak biasa.
Tapi entah hubungan apa.
Azzam, menganggukkan kapalanya sekilas. Lagi-lagi membenarkan pikirannya.
Lalu, jika disuruh memilih, tante Luna pilih siapa ya? amang Shakir atau om Edgar?" batin Azzam, bertanya-tanya.
Tapi sepertinya, tante Luna pun tidak menyadari itu, tentang perasaan om Edgar dan amang. Putus Azzam lagi, lalu mengedikkan bahu.
Hubungan orang dewasa, memang selalu rumit untuk dipamahami. pikir Azzam lagi.
Hingga tak terasa, kini mereka semua sudah berada di lobby hotel.
Edgar menurunkan Azzura dan kembali mengucapkan salam perpisahan di sana.
Anna dan Edgar masih berdiri, menyaksikan Nyonya Adam Malik pergi lebih dulu.
"Permisi Tuan Edgar, penulis Anna," pamit Luna, untuk yang terakhir.
Kedua orang itupun menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Dan Luna segera masuk ke dalam mobil dan berlalu dari sana.
"Bagaimana Tuan Ed? apa hari ini membantu?" tanya Anna pada rekannya ini.
Dalam buku yang ditulis Anna tentang Edgar Suryo, Edgar menyebutkan satu nama seorang wanita yang sejak lama ada dihatinya, Luna.
Edgar meminta kepada Anna untuk tidak membuat buku itu berakhir dulu, sebelum ia mengatakan cintanya dan mendapatkan jawaban dari Luna.
Iya atau tidak.
Jika jawabannya iya, maka buku tentang Edgar yang ditulis Anna akan berakhir happy ending.
Namun jika jawabannya tidak, maka bisa dipastikan, jika buku itu akan berakhir sad ending.
"Entahlah, Luna selalu susah untuk ku gapai," jawab Edgar, seraya menghembuskan napasnya pelan.