My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 167 - Agatha Malik



Selasa, 9 November 2021.


Beberapa jam kemudian.


Tangisan seorang bayi terdengar memenuhi lantai 1 di rumah keluarga Adam Malik.


Bahkan air mata pun mengalir dari sosok pria tangguh yang sedari tadi mendampingi sang istri melakukan proses persalinan.


Adam, langsung menggendong sang anak yang masih belum dibersihkan, bahkan beberapa noda darah masih membercak ditubuh mungil itu.


Adam, mendekapnya.


Membuat Haura pun meneteskan air mata, dengan senyum yang terukir dibibir.


Sang nenek, Zahra dan Aminah pun langsung masuk. Melihat pemandangan indah yang membuat keduanya haru.


"Biar saya bersihkan lebih dulu Tuan," ucap Sanja, dan di jawabpi dengan sebuah anggukan oleh Adam.


Dan 15 menit kemudian, saat anak dan ibu sudah bersih.


Adam, langsung melantunkan Adzan tepat ditelinga kanan sang anak.


Membuat Haura lagi-lagi menangis, kala mendengar suara bergetar suaminya.


Dulu, Haura bercerita bahwa yang memberi nama kedua anaknya adalah nenek Aminah.


Maka untuk anaknya yang ketiga ini, Haura mengatakan kepada sang suami, biarlah nenek Zahra yang memberikannya nama.


Azam setuju, setelah ia selesai mengadzani. Azam, memberikan anak ketiganya kepada sang ibu seraya meminta ibunya itu untuk memberikan sebuah nama.


Dengan menangis baru, Zahra menggendong cucu ketiganya itu. Lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Nenek, akan memberi nama Agatha, yang berarti perempuan yang memiliki kebaikan hati. Agatha Malik," ucapannya, membuat semua orang tersenyum lebar.


Termasuk Azam dan Azura yang kini berdiri disisi kiri dan kanan ibunya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam harinya.


Zahra pun menginap di rumah Adam. Ia pun ingin merawat menantu dan cucunya sekaligus.


Jadilah, malam itu kamar Adam jadi sangat ramai. Karena semua orang ingin tidur di sana.


Sampai-sampai dia hanya kebagian tidur di sofa.


Tepat jam 2 malam, baby Agatha bangun, kencing dan merasa lapar sekaligus.


"Biar aku saja Zahra," ucap Aminah, yang merasa tak enak hati jika melihat Zahra membersihkan pipis bayi mungil ini, biar dia saja.


"Jangan Mbak, biar aku saja," tolak Zahra pula, ia bahkan mengambil tempat lebih dulu dan mulai membersihkan di jabang bayi.


Aminah dan Zahra lantas tersenyum, membersihkan pipis Agatha saja mereka sampai berebut.


"Nenek, Ibu, padahal aku sudah menyiapkan 3 babysitter untuk Agatha, tapi kenapa malah nenek dan ibu yang repot." Adam buka suara, seraya mendekati kedua wanita paruh baya ini.


"Siapa suruh menyiapkan 3 babysitter sekaligus, nenek bisa merawatnya sendiri." Aminah yang menjawab, membuat Zahra semakin tersenyum lebar.


"Mbak, sebentar lagi Aida juga melahirkan, aku tidak bisa lama-lama disini. Maafkan aku ya?" tanya Zahra, dengan tak enak hati, ia tidak bisa berhari-hari disini untuk membantu mengurus baby Agatha, karena anak bungsunya pun sebentar lagi akan melahirkan.


"Tenang saja Zahra, serahkan saja semuanya padaku," balas Aminah.


Kedua wanita ini terus berbincang, mengabaikan ayah dari si anak yang sedang mereka urus.


Setelah bersih, Haura pun mulai menyusui anaknya. Haura sudah lebih ahli, tidak merasa kerepotan seperti saat pertama menyusui dulu.


Bahkan tangannya sudah lihai, tidak kaku-kaku lagi.


"Adam, duduklah sini, jangan dilihat terus anakmu yang sedang menyusu itu," panggil Zahra seraya menepuk tempat duduk kosong disebelahnya.


Zahra khawatir, bukan anaknya yang dilihat, tapi kedua dada menantunya yang semakin membesar.


"Ingat, masa nifas istrimu itu ada 40 hari. Selama itu, jangan gauli istrimu."


"Iya Bu, aku tau," jawab Adam, dengan kepala yang mengangguk.


Dan malam pertama kelahiran Agatha itu, jadi malam panjang bagi semua orang.


Dan keesokan harinya, saat pulang ke mansion, Zahra membawa kedua cucunya untuk ikut.


Azam dan Azura, akan tidur di mansion Zahra, sampai Aida melahirkan. Saat itu kira-kira, Haura pun sudah pulih.


Tidak jauh-jauh, mereka hanya duduk di balkon kamar mereka.


"Sayang, maafkan aku ya? anak kita yang ketiga lagi-lagi mirip denganku," ucap Adam, membuat Haura mencebik, bahkan sampai mengerucutkan bibirnya.


Tidak adil memang, dia yang mengandung selama 9 bulan, dia yang melahirkan dan dia pula yang menyusui, tapi si anak malah mirip sang ayah.


"Kata ibu Zahra, jika ingin anak yang mirip denganmu, kita harus buat lagi."


Plak!


Haura, langsung memukul lengan suaminya itu.


Sakit mengeluarkan Agatha masih terbayang-bayang, dan kini sudah membicarakan anak lagi.


Dipukul seperti itu, Adam malah terkekeh.


Lalu mengikis jarak, duduk menempel pada istrinya dan memagut bibir yang sedang mengerucut itu.


Dibawah sinar matahari pagi ini, Adam terus melumaat bibir istrinya dengan lembut. Menunjukkan secara langsung terima kasihnya pada sang istri.


Yang telah berjuang diantara hidup dan mati melahirkan anak-anaknya.


Haura tak tinggal diam, ia pun membuka mulut seraya menggerakkan bibirnya secara perlahan. Membalas ciuman sang suami.


Cukup lama keduanya berpaut, hingga suara deheman memutuskan pagutan itu.


Mendadak kikuk, saat melihat nenek Aminah datang dengan membawa segelas susu.


Haura menunduk, merasa malu.


Sementara Adam, dengan percaya dirinya menerima uluran gelas susu itu.


"Terima kasih Nek," ucap Adam, dengan suaranya yang mendayu. Lalu meletakkan gelas susu itu dimeja dihadapan mereka. Tangannya yang lain terus mendekap baby Agatha yang sedang terlelap.


"Adam, ingat pesan ibu Zahra semalam," ucap Aminah, mengingatkan.


Adam terkekeh, merasa lucu sendiri.


"Iya Nek, iya," jawab Adam pula, namun Aminah tetap saja menatapnya tajam.


"Haura, susunya diminum sampai habis."


"Iya Nek," jawab Haura, masih dengan menunduk. Persis seperti anak gadis yang baru saja ketahuan berbuat mesum.


Melihat tingkah Haura itu, membuat Aminah akhirnya mengulum senyum. Lalu memutuskan untuk keluar dan memberikan kesempatan pada anak-anaknya untuk kembali berciuman.


Menikmati indahnya memiliki keluarga yang harmonis.


"Sayang, nenek Aminah sudah pergi," ucap Adam, membuat Haura kembali memukul lengannya pelan.


"Mas sih, sudah tahu pintu tidak ditutup malah cium-cium_"


Gerutuan Haura terhenti, saat Adam kembali memagut bibirnya. Bahkan lebih dalam dari yang tadi.


Hingga membuat Haura tertarik dengan lidahnya yang terbelit.


Suara lenguhan pelan Haura terdengar, membuat Adam akhirnya melepaskan pagutan itu.


"Terima kasih sayang, karena perjuanganmu kini hidupku semakin lengkap, ada Azam, Azura dan juga Agatha."


Haura tersenyum, kala mendengar ucapan suaminya itu. Ia tak butuh kata terima kasih, namun tetap saja hatinya merasa haru saat mendengarnya.


"Aku mencintaimu," pungkas Adam, membuat senyum Haura semakin lebar.


Apalagi saat melihat sang suami yang menatapnya penuh cinta.


"Jangan menggodaku, masa nifas tetap 40 hari," ucap Haura.


Membuat Adam akhirnya tergelak, hingga tanpa sadar membangunkan baby Agatha yang sedari tadi terlelap.


Tawa Adam langsung senyap, diganti dengan tangis Agatha yang begitu memekikkan.


Oek Oek!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : tutup kuping!