My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 107 - Permintaan Aminah



Adzan shalat magrib sudah berkumandang, Haura dan Adam mulai keluar dari dalam kamarnya, disusul pula dengan Azzam, Azzura dan nenek Aminah yang kamarnya juga berada di lantai 2.


Mereka semua lantas menuju mushola, tempat khusus untuk shalat yang sudah tersedia di rumah mewah itu.


Dan Adam, memimpin secara langsung sebagai imam.


Para pelayan yang tidak sengaja melewati mushola itu dan melihat Tuannya tengah beribadah, seketika menghentikan langkahnya. Tersenyum dengan perasaan yang menghangat.


Semenjak berpisah dengan Monica, Adam, sudah lebih banyak berubah. Ia tak lagi berwajah dingin seperti dulu kala.


Bahkan sesekali Adam sudi untuk menyapa para pelayan di rumah itu.


Dan hari ini, saat melihat keluarga kecil Adam Malik berkumpul, para pelayan pun ikut merasakan kebahagiaan yang sama.


Sedikit banyak, mereka semua sudah tahu tentang wanita yang kini menyandang status istri sang Tuan, Haura. Seorang gadis pengantar bunga yang tiba-tiba terseret dalam lingkaran keluarga Adam malik, dan melahirkan seorang pewaris.


Tapi Haura bukanlah wanita yang lemah, bahkan tanpa campur tangan Adam Haura bisa berdiri dengan kakinya sendiri, membesarkan dan merawat kedua anaknya dengan baik.


Ya, kini, Haura sudah menjelma menjadi seorang panutan bagi para wanita.


Selesai mengucapkan salam, Azzam dan Azzura lantas mencium punggung tangan kanan kedua orang tua dan juga neneknya.


Juga Haura dan Adam yang mencium punggung tangan kanan nenek Aminah takzim.


“Adam, bolehkan nenek meminta satu hal padamu?” tanya Aminah, sesaat setelah Adam melepaskan tangannya.


Adam tersenyum hangat, seraya menganggukkan kepalanya, “ Katakan Nek, apapun itu sebisa mungkin akan aku penuhi,” jawab Adam kemudian.


Sebelum kembali berucap, Aminah pun ikut tersenyum pula, “ Nenek hanya minta satu hal padamu, jaga keluargamu baik-baik, sebagai pemimpin keluarga kamu memegang kendali penuh untuk melindungi istri dan juga anak-anakmu. Nenek sadar satu hal, bersamamu Haura, Azzam dan Azzura akan dikenal banyak orang, bertemu dengan orang-orang baru yang bukan dari kalangan mereka sebelumnya. Haura masih harus banyak belajar untuk mengimbangi kamu Dam, jadi nenek mohon, bersabarlah, dan bimbing terus Haura.” Ucap Aminah, belum surut pula senyum di bibirnya.


Mendengar itu, seketika Haura pun menunduk, entah kenapa setetes air bening itu jatuh dari pelupuk matanya. Sesak yang mendatanginya tiba-tiba.


Aminah, sudah seperti ibu baginya, dan ucapan Aminah itu membuatnya merasa haru. Bahkan tanpa Aminah mengucapkan kata cinta pun, Haura sudah bisa merasakan tulusnya kasih sayang Aminah pada dirinya dan juga


kedua anaknya.


“Insya Allah Nek, insya Allah,” jawab Adam, seraya memeluk istri dan kedua anaknya sekaligus.


Adam, hanya ingin Haura dan kedua anaknya percaya, bahwa ia sangat menyayangi mereka. Bahwa ia akan melakukan segala cara untuk membahagiakan mereka. Menebus semua waktu yang telah hilang selama ini.


Subuh pagi itu, Aminah pun merasa lega, rasa-rasanya ia pun sudah ikhlas jika harus meninggalkan dunia ini.


Haura, seorang wanita muda yang tiba-tiba datang kepadanya dan memberikan arti sebuah kelaurga. Sejak saat itu pula, Aminah pun merasakan penderitaan yang dialami oleh Haura. Aminah pun tahu, jika dulu Haura sering menangis dalam diam.


Namun kini, seolah semua penderitaan itu sudah terbayar lunas.


Adam, tidak seperti yang ada dibayanganya dan Haura dulu kala. Nyatanya Adam adalah pria yang bertanggung jawab.


Bahkan kini, Adam pun mencintai Haura dan menyayangi kedua anaknya dengan tulus.


Alhamdulilah ya Allah, terima kasih. Batin Aminah penuh syukur.