My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 153 - Perbuatan Dimasa Lalu



Kini, Hasan sudah membawa sang adik untuk masuk ke dalam rumahnya. Duduk di kursi plastik yang tersedia di sana.


Rini, ikut duduk bersama suaminya itu, mereka duduk bersebelahan. Sementara ketiga anaknya masih asik menonton televisi di ruang tengah, dan tak peduli siapa yang datang.


“Haura?” tanya Rini, coba memastikan. Sedari tadi ia masih belum yakin jika yang dilihatnya ini adalah adik iparnya.


Haura, nampak berbeda. Dimatanya, Haura dulu terlihat lebih kurus, tidak berisi seperti saat ini, kulitnya pun nampak sedikit gelap, tidak seputih sekarang.


Rasanya-rasanya, ini bukanlah Haura. Wanita cantik ini nampak begitu berkelas, layaknya seorang bangsawan. Sementara Haura dulu, lebih mirip seorang pelayan.


Kecil, Ririn tersenyum miring. Bukan, ini bukan Haura, batinnya sangat yakin.


“Iya Rin, dia adalah Haura, harus berapa kali aku mengatakannya. Lebih baik sekarang kamu panggil anak-anak. Mereka harus menyapa buleknya.” Hasan yang menjawab, sekaligus memerintah istrinya itu.


“Mas jangan bohong, mana mungkin dia Haura. Walaupun dia jadi pelacuur dia tidak akan bisa berubah sedrastis ini,” jawab Rini sarkas. Hingga membuat hati Haura terasa pilu.


Haura hendak menyangkal semua tuduhan itu, namun belum sempat ia bicara. Hasan lebih dulu menetap tajam sang istri seraya menjawab tak kalah kasarnya.


“Jaga bicaramu! Yang pelacuur itu Salma, bukan Haura,” jawab Hasan pula, karena hasutan Salma dulu itulah, kini Rini masih menganggap jika Haura adalah seorang pelacuur di ibu kota.


“Haura datang kesini baik-baik, jadi aku mohon, bersikaplah yang sopan. Jika kamu tidak bisa menyambut Haura dengan baik, lebih baik kamu masuk, jangan perlihatkan dirimu.”


Rini terdiam, dengan dadanya yang terasa sesak. Dimarahi oleh suami sendiri dihadapan orang lain sungguh membuatnya bersedih.


Tahu jika kini Hasan benar-benar marah, akhirnya Rini tak berani membantah, akhirnya ia hanya duduk di sana dengan diam, setia mendengarkan Hasan dan Haura yang saling bertukar cerita.


Hasan menceritakan semua yang telah terjadi dengan hidupnya hingga jadi begini. Gara-gara Rini memintanya untuk berjudi, mereka jadi bangkrut.


Selesai bercerita, Hasan pun meminta sang adik untuk bercerita pula. Tentang masa-masa Haura hidup di kalimantan.


Berulang kali Hasan mengucapkan kata maaf, karena selama itu ia acuh, meski sudah banyak orang yang mendatanginya mencari tahu tentang keberadaan Haura.


Haura juga mengatakan jika 2 bulan lalu ia telah menikah dengan Adam, juga tentang kedua anaknya Azzam dan Azzura.


Mendengar itu semua, Rini lagi-lagi tersenyum kecil. Jika kini Haura telah kaya, pasti ia akan membantu perekonomian kakaknya.


Rini sangat berharap, Haura akan memberi mereka uang.


Dan benar saja, baru hatinya berucap. Dilihatnya Haura yang mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas hitamnya.


Amplop coklat yang terlihat tebal, penuh dengan uang. Rini tak tahu pastinya, tapi ia yakin itu 100 juta lebih.


“Mas, terima ini, ini uangku sendiri, bukan milik mas Adam, aku sengaja menyimpannya untuk Sari, Nia dan Repi,” jelas Haura, Sari, Nia, Repi adalah ketiga anak kakaknya.


Kedua netra Rini berbinar, ia bahkan hendak langsung mengambil uang itu.


Namun dengan cepat, Hasan mencekal tangan sang istri.


Lalu mengembalikan uang yang telah Haura letakkan diatas meja.


“Ambil ini, aku tidak akan menerima sepeserpun uang pemberianmu. Aku sudah terlalu banyak mengambil hak mu Haura,” jawab Hasan, yakin.


Ia sungguh malu jika harus menerima uang itu juga.


“Mas, kamu apa-apaan sih! Haura kan memberi bukan kita yang meminta,” ucap Rini yang sungguh kesal dengan penolakan suaminya itu.


Tapi Hasan tak peduli, ia malah menarik tangan kanan istrinya dan melepas cincin emas yang dikenakan oleh Rini.


“Mas! Jangan!” Rini meronta, namun akhirnya cincin itu terlepas juga.


Hasan, lalu memberikan cincin itu kepada Haura.


“Ini, adalah peninggalan terakhir ibu, simpanlah,” ucap Hasan, seraya memaksa Haura untuk menggenggam cincin itu.


Dihadapkan dalam keadaan seperti ini,. Tiba-tiba air mata Haura tumpah.


Ia bahkan bersusah payah untuk menghapus air mata itu, namun nyatanya tetap keluar.


“Bukannya untung malah buntung, bikin rugi saja datang kesini,” gerutu Rini. Baik Hasan ataupun Haura sama-sama mendengar dengan jelas ucapan rini itu.


Lagi-lagi Hasan meminta maaf.


Haura mengangguk, sedari dulu kakak iparnya itu memang tak menyukai dirinya.


Tak sampai lama, akhirnya Haura pamit, ia juga mengatakan kepada sang kakak jika ia akan mengunjungi makam kedua orang tua mereka.


Lagi, Hasan meminta maaf, karena ia tak bisa menemani. Hasan harus kembali pergi untuk menjual semua sayur miliknya.


Meski tak tega, Haura hanya mengangguk. Tak ingin kembali melukai harga diri sang kakak jika ia membantu dengan memberi uang.


Dengan wajah sembabnya, Haura masuk ke dalam mobil sang suami yang sedari tadi menunggunya.


Adam, langsung tersentak ketika melihat wajah istrinya  yang basah, habis menangis.


“Apa dia kembali menyakitimu, akan ku balas dia!” geram Adam, ia bahkan langsung hendak turun dan menghampiri kakak iparnya itu.


Namun dengan cepat, Haura menahan tubuh sang suami.


“Aku menangis karena ini Mas, bukan karena mas Hasan,” jawab Haura buru-buru, seraya menunjukkan cincin emas yang berada digenggaman tangan kirinya.


Melihat Adam diam, Haura pun mulai menjelaskan semuanya pada sang suami. Jika cincin ini, adalah peninggalan terakhir ibunya yang masih tertinggal di mas Hasan. Karena yang lainnya sudah habis terjual.


Melihat kedua netra Haura yang kembali berkaca-kaca, Adam segera memeluk tubuh istrinya itu. Dan memerintahkan Kris untuk segera melaju.


Menuju tempat pemakaman umum dimana ayah dan ibu Haura dikebumikan.


Hanya butuh waktu 5 menit, akhirnya mereka sampai. Kris pun ikut turun, membawa beberapa bunga yang tadi sempat disiapkan oleh sang nyonya.


Mereka berjalan melewati beberapa makam, hingga akhirnya sampai di makam kedua orang tua Haura.


Dua makam berdampingan, ayah dan ibunya.


Saat itu, Adam langsung berjongkok dan mulai mendoakan kedua mertuanya. Sementara Haura terus mengamini.


Hingga terakhir, Kris menyerahkan 2 kotak berisikan bunga-bunga makam kepada nyonyanya itu.


“Mas Hasan, menolak pemberianku Mas, bagiamana caranya agar aku bisa membantu dia?” tanya Haura lirih, kepada sang suami.


Mereka masih berjongkok di samping kedua makam itu. Makin melihat batu nisannya, makin membuat Haura teringat akan sang kakak.


Adam, menelan salivanya dengan susah payah, tiba-tiba teringat akan perbuatanya di masa lalu.


Bahwa dialah, orang yang telah membuat Hasan bangkrut. Saat itu Hasan masih jahat, mana tau dia jika kini Hasan sudah bertobat.


“Sayang, sebenarnya, sebenarnya ...” ucap Adam bingung, baru kali inilah ia nampak seperti orang bodoh, dan Hanya Haura dan Kris yang beruntung melihatnya.


“Sebenarnya apa?” tanya Haura, yang tak tahu maksud ucapan suaminya itu.


“Sebenarnya, aku yang membeli rumah dan toko elektronik kalian, aku ikut andil dalam kebangkrutan mas Hasan.” Jawab Adam jujur.


Dan Haura hanya melebarkan kedua matanya, tak menyangka.


“Benarkah? Kenapa?”


“Karena dulu mereka mengabaikan mu,” jawab Adam jujur pula, sejak awal menemui Hasan bersama Luna dulu, Adam langung memerintahkan asisten perempuannya itu untuk membuat Hasan semakin bangkrut.


Haura menarik dan mengembuskan napasnya pelan, lega jika orang itu adalah Adam, bukan orang lain. Dengan begitu semua peninggalan kedua orang tuanya tak benar-benar hilang.


“Aku akan mengembalikannya lagi pada mereka,” jelas Adam, mengakhiri ceritanya.


Dan itu berhasil, membuat Haura kembali tersenyum.