
“Tidak perlu melakukan tes DNA Luna, Om yang akan menjelaskan semuanya pada Haura,” jelas Jodi, hingga mencuri perhatian semua orang.
Haura menatap gamang pada sang paman, sementara Hasan makin terbelalak, masih bersimpuh diatas Lantai dengan Luna yang mengunci kuat kedua tangannya dipunggung. Hasan bahkan berulang kali menggeleng, meminta jika Jodi tak sampai menceritakan semuanya.
“Haura, apa yang dikatakan oleh Luna itu benar Nak. Hasan bukanlah kakak kandungmu, kalian 1 ibu namun beda ayah,” timpal Jodi lagi, seraya mengambil jarak lebih dekat dengan sang keponakan dan menatap dalam mata Haura, mata yang sudah nampak berembun.
Kepingan-kepingan masa kecilnya dimasa lalu mulai muncul dengan sendirinya. Haura dapat mengingat dengan jelas, bagaimana
perlakukan sang kakak padanya dulu. Hasan, yang secara terang-terangan mengatakan
tak suka akan keberadaannya di dunia ini.
Bahkan Hasan tak peduli, saat Haura kecil berlari mengejarnya hanya untuk main bersama, lalu jatuh dan Hasan mengabaikannya
begitu saja.
Dengan lutut kaki yang terluka Haura kecil pulang. dan saat di rumah, Hasan mengatakan kepada sang ayah, jika diluar sana Haura bukanlah anak yang baik, semua teman-teman membencinya dan meminta sang ayah untuk mengurung Haura kecil di rumah.
Setetes air mata bening jatuh dari kedua pelupuk mata Haura.
Kini, semua itu terasa masuk akal.
“Tidak Haura! Jangan percaya, aku adalah kakak kandungmu. Berulang kali ibu bilang seperti itu kan?” sanggah Hasan cepat, ia
mencoba terlepas dari cengkraman Luna, namun usahanya sia-sia. Luna, terlalu
kuat untuk ia lawan.
Pelan, Haura menggeleng.
Sebelum sang ayah meninggal, ayah Haura mengatakan, jika sebaiknya ia ikut dengan om Jodi dan bukan dengan sang kakak, Hasan.
Mengingat pesan itu, kini Haura tau alasannya kenapa.
“Cukup Mas, aku sudah lelah untuk selalu jadi tempat pelampiasan amarah mas Hasan,” jelas Haura kemudian, setelah cukup lama ia terdiam dan sibuk sendiri dengan pikirannya.
“Mas selalu menyalahkan aku, bahkan sampai detik ini Mas masih juga tidak berubah. Yang Mas lihat hidupku selalu enak, apa Mas tahu apa yang sudah aku alami selama 6 tahun terakhir ini? Apa Mas tahu!” pekik Haura dengan derai air mata yang semakin deras mengalir.
Aminah sungguh tak sanggup melihat air mata itu, ia langsung mendekati Haura dan memeluk bahunya erat.
“Istigfar Haura,” lirih Aminah, hingga membuat Haura menggigit kuat bibir bawahnya. Menahan sesak yang terasa mencekik di lehernya.
Melihat kemarahan sang adik, Hasan tergugu.
“Aku sudah berniat untuk menemui Mas, mengenalkan kedua anakku dengan layak pada pamannya. Tapi-tapii,” Haura tak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya, hatinya begitu sakit bak diiris sembilu.
“Cukup Haura, cukup. Sekarang saatnya kamu bahagia Nak, jangan pedulikan siapapun yang menyakitimu,” jelas Jodi, ia bahkan mengelus pundak Haura memberikan ketenangan.
Luna, tak bisa tinggal diam melihat majikannya diperlakukan seperti itu.
Dengan lantang pun dia menceritakan semua kebusukan Hasan, tentang mengambil alih semua harta warisan Haura dan tentang niatnya yang hendak membuang Haura setelah mendapatkan warisan itu.
Untunglah, sebelum itu terjadi, Jodi lebih dulu meminta Haura untuk menemuinya di Jakarta.
Saat itu Haura hanya bergeming, dan Jodi lah dengan lantang mengusir Hasan untuk pergi dari hadapan mereka. Bahkan mengancam akan memenjarakan Hasan, jika ia masih berani menunjukkan batang hidungnya.
Mendengar titah Jodi itu, Luna segera menarik tubuh Hasan untuk bangkit. Lalu menariknya jauh masuk ke dalam sebuah gang sepi, hingga tak nampak lagi dari toko bunga itu.
Brug!
Luna, melempar begitu saja tubuh Hasan di jalanan yang nampak begitu
kotor.
Luna berdecih, menatap hina pada pria itu.
“Anda, sudah berurusan dengan orang yang salah. Sekarang Nyonya Haura tidak sendiri lagi, ada tuan Adam Malik dibelakang beliau, menghancurkan anda itu hanya perkara kecil. Tapi kami masih memberi anda kesempatan, jadi jangan pernah ganggu Nyoya Haura lagi!” ancam Luna dengan tatapannya yang bengis.
Setelah mengatakan itupun, Luna segara berlalu meninggalkan Hasan begitu saja.
Diperlakukan sehina itu, Hasan hanya mampu menarik dan menghembuskan napasnya kasar.
Dengan susah payah ia bangkit, merasakan tubuhnya yang terasa sakit semua. Dengan langkah besar, ia segera mencari Salma.
Salma, yang melihat Hasan datang dengan tatapan tajam pun merasa ketakutan, hingga ia memutuskan untuk lari dan kabur.
Namun ternyata, Hasan pun mengejarnya, di gang sempit itu mereka terus saling mengejar.
Dan tak butuh waktu lama, Hasan berhasil menangkap Salma dan menjambak kuat rambut wanita itu. Hingga membuat Salma memekik merasa kesakitan.
Plak!
Satu tamparan hasan berikan di wajah Salma, tamparan
yang begitu keras.
Plak!
Dua tamparan.
Plak!
Tiga tamparan.
“Rasakan!” ucap Hasan ketika melihat Salma sudah tersungkur diatas tanah.
Salma lah yang sudah memprovokasinya untuk melawan Haura,
namun apa yang ia dapatkan, ternyata hanyalah sebuah hinaan.
“Sebelum bertindak, pikirkan dulu dengan otakmu itu! Dasar wanita bodooh!” bentak Hasan geram.
Setelah mengatakan itu, ia pun pergi begitu saja. Meninggalkan Salma yang sudah terkulai lemas.