My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 104 - Sebuah Ucapan Yang Memberi Semangat



Selesai shalat subuh berjamaah, Adam dan keluarga kecilnya masih duduk bersimpuh diatas sajadah. Mereka masih enggan untuk


bangkit, memilih berbincang disana.


“Jadi, nanti kita pindah ke rumah ayah Bu?” tanya Azzam setelah sang ibu bercerita tentang kepindahan mereka kelak, ke rumah sang


ayah. Yang letaknya tidak jauh dari sini.


Haura mengatakan, jika ia, Azzam, Azzura dan nenek Aminah, nanti akan pindah ke rumah sang ayah. Sementara om Jodi, abang Labih dan


abang Nanjan yang akan menempati rumah ini.


“Iya sayang, setelah tante Aida, om Yuda dan Abang labih abang Nanjan kembali dari Parupay, kita akan pindah ke rumah ayah. Mungkin


nanti sore,” jawab Haura, sedikit menjelaskan lagi.


“ Zura kira kita akan tinggal sama-sama dengan abang Labih dan abang Nanjan.” Kini Azzura buka suara pula, dengan raut wajahnya yang


nampak sedikit kecewa.


“Jadi Zura lebih memilih tinggal bersama abang Labih dan abang Nanjan  daripada tinggal


bersama dengan ayah?” Adam yang menjawab. Lengkap dengan wajahnya yang dibuat


memelas, hingga membuat Haura tersenyum kecil.


“Bukan seperti itu Yah,” sanggah Azzura cepat.


“Maksud Zura, kita semua tinggal sama-sama, ayah disini dan abang Labih dan abang Nanjan juga tinggal disini.” Azzura mencoba memberikan penjelasan pada ayahnya itu, ia berlagak seperti orang dewasa dan terlihat sangat menggemaskan. Apalagi saat ia menggunakan mukenah kecil itu.


Adam tak kuasa untuk tidak menciumi pipi anaknya.


“Tidak bisa sayang, nanti kalau kita tinggal


sama-sama, abang Labih dan abang Nanjan tidur dimana? Kan di rumah ini kamarnya sudah terpakai semua.” Balas Adam lagi, setelah melepaskan ciumannya pada sang anak.


Ia mencoba memberikan pengertian yang mungkin bisa dipahami oleh Azzura.


Mendengar itu, gadis kecil ini nampak berpikir, ia


bahkan menatap langit-lngit kamar, berpikir.


Hingga Azzam menarik hidungnya untuk turun.


Azzam terkekeh, ia tak menanggapi apapun, Azzam  malah memeluk ibunya erat.


“Iya juga ya Yah, nanti abang Labih sama abang


Nanjan tidur dimana? Kalau Zura sama abang pindah ke rumah ayah kan nanti abang Labih sama abang Nanjan bisa tidur dikamar Zura dan abang,” ucap Azzura setelah cukup lama berpikir.


Adam langsung menganggukkan kepalanya antusias, membenarkan pemikiran sang putri.


Setelah bersepakat, akhirnya mereka semua berkemas. Bahkan pagi itu juga sudah ada beberapa orang yang mulai merombak kamar Azzam dan Azzura untuk diubah menjadi kamar anak laki-laki dewasa, bukan lagi kamar yang


diperuntukkan anak kecil.


Hingga saat siang tiba, semuanya sudah beres.


Kamar Azzam dan Azzura dulu, kini sudah disulap


menjadi kamar Labih dan Nanjan nanti.


Aminah akan ikut mereka, sementara Jodi akan tinggal bersama Labih dan Nanjan, ada pula Upik pembantu rumah tangga disini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Turun dari helikopter di atap Malik Kingdom, meski sudah kedua kalinya bagi Labih dan Nanjan, mereka masih saja merasa kagum.


Mereka berdua bahkan terus memperhatikan sekitar.


Masuk ke gedung MK dan bertemu dengan para karyawan yang menggunakan baju rapi, dan nampak bersih.


Sementara mereka, hanya menggunakan baju seadanya dan kulit nampak lebih gelap.


Yuda yang mengetahui bahwa Labih dan Nanjan merasa berbeda pun langsung menepuk pundak kedua remaja ini. Bahkan langsung memeluknya kiri dan kanan.


“Kalian harus belajar dengan rajin, nanti, kalian akan menjadi salah satu diantara mereka, atau bahkan akan menjadi lebih,” ucap Yuda.


Sebuah ucapan yang membuat Labih dan Nanjan kembali bersemangat.


Aida yang mendengar itupun, ikut tersenyum.


Mereka terus berjalan menyusuri lobby setelah keluar dari dalam lift.


Berpapasan dengan para karyawan MK yang menundukkan kepalanya hormat.