
Siang menjelang sore kala itu, Aida dan Yuda berpergian bersama Labih dan Nanjan.
Mereka juga menjemput Azzam dan Azzura untuk ikut bersama mereka.
Membeli beberapa perlengkapan baju Labih dan Nanjan untuk keseharian dan juga beberapa keperluan mereka untuk kuliah nanti.
“Hati-hati ya,” pesan Haura pada semua orang, ia mengantar kedua anaknya hingga sampai di teras rumah.
“Iya Mbak,” jawab Aida, mewakili semuanya.
Lalu Azzam dan Azzura melambai pada sang ibu saat mobil milik tantenya itu mulai melaju. 1 mobil berisi penuh keluarga Malik, dan 1 mobil lagi mengekor berisi 4 bodyguard yang akan menjaga mereka semua saat berada di pusat perbelanjaan nanti.
“Tumben Aida sangat pengertian padaku,” ucap Adam, seraya memeluk tubuh sang istri dari arah belakang. Mereka, masih berdiri di teras rumah itu, memperhatikan mobil Aida yang semakin lama semakin menjauh.
“Maksud Mas?” tanya Haura yang masih belum mengerti apa maksud ucapan sang suami.
Dan Adam semakin memeluk erat tubuh istrinya itu sebagai jawaban.
Hingga membuat Haura tersenyum, kala menyadari satu hal. Aida, memberi kesempatan mereka untuk berdua. Menikmati, beberapa hari menjadi pengantin baru.
Pelan, Haura memukul lengan suaminya, merasa geli sendiri ketika sudah sadar maksud sang suami.
Dan Adam hanya terkekeh, dengan sesekali menciumi pipi sang istri.
Tak sampai lama mereka di sana, Adam dan Haura lalu memutuskan untuk masuk.
Tadi, Adam juga sudah kembali menghubungi Luna, meminta Asistennya itu untuk memilih penulis terbaik yang akan membuat buku tentang istrinya.
Dengan tersenyum, Luna pun menjawabpinya patuh.
Luna merasa sangat bahagia perihal sang Nyonya yang telah menyetujui ini. Luna akan membuat sang Nyonya di hormati oleh seluruh penduduk negeri, dikenal sebagai wanita yang tangguh.
Tak hanya berdiri diatas harta yang bergelimang, namun juga dengan iman yang kuat.
Karena itulah, kini, Haura menjadi sosok seorang istri seorang Adam Malik. Istri yang begitu dicintai oleh sang tuan..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berhenti di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Jakarta, kedatangan keluarga Malik itupun sontak mencuri perhatian semua orang. Makin dibuat heran lagi, saat mereka melihat ada dua wajah baru, Labih dan Nanjan yang belum mereka kenal.
Mereka adalah para penggemar Azzura di dunia maya. Meskipun gadis kecil bernama Azzura ini tak pernah memposting tentang kesehariannya, namun diam-diam Arrabela bahkan membuat fansclub untuk sang sepupu.
Bahkan sesekali Arrabela mengambil foto candid Azzura saat berada di sekolah dan di-posting di laman instagramnya.
Tanpa Azzura tahu, sudah sejak lama ia menjadi seorang bintang. Tepatnya, sesaat setelah teater musikal sekolahnya kala itu.
Azzura yang namanya dipanggil pun sontak menoleh, dan betapa terkejutnya ia, saat melihat banyak orang yang menatapnya dengan senyum lebar.
Kikuk, Azzura pun mendekat pada sang kakak, Azzam yang berada disebelahnya.
“Azzam!!” pekik mereka pula, merasa gemas sendiri kala melihat si kembar keluarga Malik.
Yuda dan Aida saling pandang, tak menyangka jika keponakan mereka telah menjelma menjadi seorang artis, yang memiliki banyak penggemar.
“Untung kita bawa pengamanan,” bisik Aida pada suaminya itu dan Yuda mengangguk dengan setuju.
“Zura, sini gendong Om saja ya, dan Abang Azzam pegang tangan tante Aida, jangan sampai lepas,” ucap Yuda, tak ingin sesuatu hal buruk terjadi, ia memutuskan untuk menjaga Azzam dan Azzura dengan lebih ketat.
“Om, biar aku yang gendong Azzura,” ucap Labih menawarkan diri, ia pun tak tega jika harus melihat om Yuda kelelahan menggendong Azzura kelak. Labih, yang paling tahu betapa beratnya Azzura, namun biasa bekerja berat, itu bukanlah hal yang sulit bagi Labih.
“Azzam biar bersamaku Om,” timpal Nanjan pula.
Yuda tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya Yuda, hanya menggenggam erat tangan sang istri agar setia berada di sampingnya.
Kala itu, para penggemar Azzura terus mengikuti kemanapun mereka pergi, namun dengan tegas para bodyguard meminta orang-orang itu untuk tidak mengambil foto.
Aida, dengan ceketan pun mulai memilih dan membeli semua kebutuhan Labih dan Nanjan. Mulai dari baju, tas, sepatu, ponsel baru dan sebuah leptop.
Labih dan Nanjan sampai merasa tak enak hati sendiri.
Namun Sifat Aida yang pemaksa membuat mereka tak bisa menolaknya.
Menjelang magrib kala itu, mereka semua baru memutuskan untuk pulang.
Gerimis turun dan Azzura pun sudah tertidur pulas di gendongan Labih.