
45 menit berlalu.
Dan Darius telah menyelesaikan presentasi proposal yang ia ajukan untuk menarik para investor.
Kini tinggallah sesi tanya jawab, Darius akan menjawab dan menjelaskan semua pertanyaan yang akan diajukan oleh investor.
Sesi itu sengaja di buat agar tidak ada keraguan sedikitpun pada para investor yang akan menanamkan modal di perusahaan Darius kelak.
Beberapa orang sudah mulai bertanya, dan Darius pun menjawab seapik mungkin.
Namun disebelah sana, ada sepasang ayah dan anak yang tersenyum menyeringai. Merasa lucu sendiri.
Keduanya berpikir hal yang sama, ini para investornya yang menutup mata akan kejanggalan itu, atau Darius yang terlalu percaya diri dengan kebohongannya.
“Apa ada yang bertanya lagi?” tanya Darius.
Darius memang memimpin sendiri acara pertemuan ini, bahkan sang Asisten Yosep hanya berdiri dibelakangnya, memperhatikan berjalannya acara.
Kedua netra Darius menyipit saat melihat seorang anak laki-laki kecil mengangkat salah satu tangannya tinggi.
Darius tahu betul siapa anak itu, Azzam Malik. Anak pertama Adam Malik. Pria yang sangat dibencinya, karena Adam selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan, kesuksesan dan kehormatan sekaligus.
Darius berdecih pelan, decihan yang tak disadari oleh semua orang.
Mau apa bocah ingusan ini, pikirnya dengan perasaan kesal yang membuncah. Mengganggap jika Azzam hanya akan membuang buang waktunya.
“Azzam, apa yang ingin kamu tanyakan Nak?” tanya Darius kemudian, hingga membuat seluruh peserta acara pertemuan itu menghadap ke arah Azzam, anak kecil yang rupanya begitu mirip dengan Adam. Duduk tepat di sebelah sang ayah.
Darius bertanya selembut mungkin, menarik simpati semua orang. Meskipun dalam hatinya ia terus mengumpat.
Sebelumnya, Azzam sudah berbisik pada sang ayah, tentang kejanggalan yang ia temukan. Lalu meminta izin untuk menginterupsi nya,
dan Adam mengangguk, memberi izin.
Maka kinilah, saatnya Azzam akan buka suara.
“Paman, kenapa jumlah modal yang tertera dilayar awal berbeda dengan yang di akhir? Apa aku salah lihat?” tanya Azzam polos, ia
bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, seolah menerka-nerka atas pertanyaannya sendiri.
Mendengar itu, Darius langsung mencengkram kedua tangannya erat. Sumpah demi apapun, kini ia ingin sekali mencekik anak ingusan itu.
Satu pertanyaan Azzam, sudah menghancurkan semua rencananya.
Diawal, angka itu dibuat 6, sementara di akhir angka itu berubah jadi 9.
Darius memang sengaja merubah angka itu, untuk keuntungannya sendiri. Dan siapa sangka, bocah ingusan itu malah menghancurkan semuanya.
Sial! Batin Darius dengan kekesalan yang membuncah.
Seketika suasana ruangan itu kembali riuh, para investor butuh penjelasan untuk itu semua. Jika Salah ketik, maka mana yang
salah? 6 atau 9? Jika 6 mereka akan mendapatkan keuntungan, namun jika 9, bisa
dipastikan mereka akan merugi besar.
“Tuan Darius, tolong jelaskan kembali, mana yang benar?” tanya salah satu investor, menuntut. Bahkan wajahnya sudah
memperlihatkan raut wajah tak suka, seolah pertemuan ini hanyalah main-main
saja, angka yang penting dibuat sebuah permainan.
Ya, Darius, memang seperti itu, suka mempermainkan hidup orang lain, hanya untuk kepentingannya sendiri.
Sama, seperti hidup Adam yang ia permainkan dulu.
“Maaf, saya akan mengklarifikasi,” jawab Darius akhirnya, tak ingin kehilangan muka didepan penanam modal luar negeri. Akhirnya sekuat tenaga Darius meredam emosi.
Lalu mengatakan jika angka yang benar adalah 6, dan angka 9 itu hanyalah kekeliruan.
Mendengar itu Adam terkekeh, tawa yang dimata Darius seolah sedang mengejeknya.
Sial! Sial! Umpat Darius di dalam hati.
Bukannya untung yang ia dapatkan, Darius malah rugi besar. Para investor setuju dengan angka 6 itu, bahkan langsung menandatangani kontrak kerja sama.
Mereka semua bahkan berterima kasih kepada Azzam, karena berkat bocah kecil ini, mereka terlepas dari kerugian besar.
“Anak anda sangat teliti Tuan, padahal dia masih sangat kecil,” ucap Salah satu investor, kagum.
Setelah menandatangani kontrak, kini semua investor berkerumun melingkari Adam dan kedua anaknya.
Seolah Adam adalah tuan rumah disini.
Sementara Darius, mengeram kesal didepan podium sana.