My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 139 - Sangat Bersyukur



Dan disinilah akhirnya Diah berada, dikamar lain bersama Haura, Sarah dan Aida.


Sementara Adam bersama Zahra dan semua pria menunggu di kamar yang tadi.


"Ada apa Dok? kenapa kami semua disuruh berkumpul disini?" tanya Sarah, penasaran.


"Tuan Adam tidak bisa berdekatan dengan wanita manapun kecuali Nyonya Haura dan Nyonya Zahra, jadi sebaiknya kita disini. Saya juga ingin menjelaskan sesuatu."


Mendengar jawaban dokter Diah itu, ketiga wanita ini sontak membulatkan matanya dengan pikiran yang berbeda-beda.


"Apa mas Adam sakit parah Dok?" tanya Haura, sungguh cemas. Ia bahkan sudah lemas dan kuat berdiri karena dibantu oleh Aida dan Sarah.


"Sabar Mbak, mas Adam pasti baik-baik saja," Aida coba menenangkan sang kakak ipar, meskipun kedua matanya sendiri sudah berkaca-kaca.


Dilihat oleh ketiganya, dokter Diah yang malah tersenyum.


"Tuan Adam baik-baik saja Nyonya, beliau juga tidak perlu dilakukan pemeriksaan. Yang seharusnya diperiksa adalah Anda," jawab Diah akhirnya, berucap pada Haura.


Dan tak hanya Haura, Aida dan Sarah pun bingung apa maksudnya.


"Kenapa saya yang diperiksa Dok?"


"Mungkin, Nyonya Haura hamil, dan Tuan Adam lah yang mengalami gejalanya. Untuk lebih pastinya, sebaiknya sekarang Nyonya memeriksakan diri, menggunakan testpack," jawab Diah rinci, ia bahkan langsung mengambil beberapa testpak di dalam tas pengobatannya.


Diah mengeluarkan 10 testpack, yang bisa Nyonya Adam Malik itu gunakan.


Mendengar penjelasan dan testpack itu, lagi-lagi ketiga pasang mata wanita-wanita ini membola. Dengan pikirannya masing-masing.


Haura sungguh tak menyangka, namun juga merasa bahagia jika ini semua benar.


Dan Aida, ia menelan salivanya sendiri dengan susah payah. Tak hanya bahagia atas kehamilan sang kakak ipar, namun ia juga merasa sedih atas dirinya sendiri. Karena hingga kini, baik ia ataupun suaminya tak pernah mengalami morning sickness.


Sementara Sarah, iapun bahagia jika Haura benar-benar hamil. Tapi sebenarnya, ia juga hamil pula.


"Em Dok, bolehkah saya dan Aida juga ikut periksa?" tanya Sarah, ragu-ragu. Ia sangat tahu jika adik iparnya itu sangat menunggu-nunggu tentang berita kehamilan.


Sarah berpikir, tak ada salahnya jika mereka bertiga sama-sama memeriksakan diri menggunakan testpack itu.


Diah tersenyum, dan menganggukkan kepalanya antusias.


"Tentu saja Nyonya, Anda, Nyonya Aida dan Nyonya Haura, bisa sama-sama memeriksakan diri."


Glek! lagi-lagi Aida menelan salivanya dengan susah payah. Diantara rasa takut, kembali kecewa dan keingintahuan.


"Aida, apapun hasilnya, kita serahkan semuanya kepada Allah ya, kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu," ucap Sarah, ketika melihat wajah Aida yang nampak ragu.


Pelan, Haura pun mengelus pundak sang adik ipar dengan sayang.


"Bismilah, ayo," ajak Haura dan Aida pun mengangguk.


Hingga tak berselang lama kemudian, akhirnya mereka semua telah usai urusan di kamar mandi.


Kembali duduk di sofa kamar itu dan bersiap-siap mendengarkan hasilnya yang akan dibacakan oleh dokter Diah.


Mereka bertiga sama-sama gugup, sama-sama berharap, dan sama-sama saling menguatkan.


Dengan tangan yang sama-sama dingin itu. Mereka saling menggenggam erat.


Mereka, bisa melihat dengan jelas, Dokter Diah yang nampak tersenyum. Mengisyaratkan jika dokter Diah akan mengatakan berita baik.


Tapi semuanya masih belum pasti, sebelum dokter Diah benar-benar berucap.


"Selamat Nyonya Haura, Anda hamil," jelas Diah.


Haura hanya tersenyum, tak mungkin pula ia bersorak sorai saat hasil kedua saudaranya dibacakan.


"Dan untuk Nyonya sarah, selamat, Anda juga hamil."


Sarah memejamkan matanya sejenak, bersyukur. Akhirnya, ia kembali dipercaya untuk memiliki anak.


Haura dan Sarah, belum merasa bahagia yang utuh. Disaat mereka belum mengetahui hasil milik Aida.


"Bagaimana dengan saya Dok?" tanya Aida, lirih.


Ia bahkan nyaris menangis, membayangkan jika kini pasti ia gagal lagi.


Sarah yang duduk diantara Haura dan Aida pun langsung memeluk Aida erat.


lalu Haura pindah disebelah sana dan juga ikut memeluk Aida.


Saat itu juga, air mata Aida jatuh.


"Nyonya Aida, selamat, Anda juga hamil."


"Apa?"


"Anda Hamil."


AAAA!!!! ketiga wanita ini sontak bersorak sorai, mereka bahkan langsung bangkit dari duduknya dan memeluk erat seraya berputar-butar.


"Aku hamil! masya Allah aku hamil!" teriak Aida, diantara pelukannya pada kedua kakak ipar.


"Iya! kita Hamil!" teriak sarah pula.


Haura tak mengatakan apapun, hanya senyumnya yang semakin lebar. Sangat bersyukur.


Mereka, masih terus saling memeluk erat.