
Sore harinya, setelah melaksanakan shalat Ashar di mansion itu. Adam, mengantarkan Haura beserta kedua anaknya untuk pulang.
Azzam dan Azzura belum bisa menginap, karena mereka masih harus rajin belajar untuk menghadapi ujian tengah semester.
Dan kini, mereka semua sudah berada di dalam mobil, mobil yang melaju di tengah-tengah jalanan kota Jakarta.
Adam sendiri yang mengemudikan mobil itu, namun ada pula mobil anak buahnya yang mengekor di belakang.
"Mas, apa tidak apa-apa, pernikahan kita ibu semua yang urus, bahkan dokumen-dokumennya juga," ucap Haura, memecah keheningan.
Ia duduk di depan, disebelah Adam. Sementara Azzam dan Azzura sudah terlelap diatas pangkuan dua babysister mereka di kursi belakang.
Dua pengasuh yang sudah disediakan oleh Zahra.
Azzam dan Azzura kelelahan, sehabis bermain hingga puas di playroom mansion sang nenek.
Adam tak langsung menjawab, ia terlebih dulu mengulurkan tangannya, meminta Haura untuk menggenggam itu.
Dan Haura menerimanya dengan tangan terbuka, berakhir keduanya saling menggenggam erat.
Hingga membuat kedua babysister dibelakang saling pandang, lalu sama-sama mengulum senyum.
Seorang Adam Malik yang mereka kenal dingin dan bengis, nyatanya dapat pula bersikap romantis. Seperti saat ini.
"Jika kita menolaknya, ibu pasti akan semakin sedih," jawab Adam kemudian.
Dan disudut hati Haura, ia membenarkan akan hal itu. Begitulah memang orang tua, akan selalu memberikan yang terbaik untuk semua anaknya. Namun tetap saja, Haura merasa tak enak hati.
Zahra, sudah begitu baik kepada dirinya.
Namun kini, yang bisa Haura lakukan untuk membalas itu semua hanya satu. Menyayangi Zahra dengan tulus, seperti ibu kandungnya sendiri.
Mengingat seorang ibu, Haura lantas teringat akan ibunya sendiri, lalu mengingat pula sang ayah. Kedua orang tuanya yang telah tiada.
"Mas."
"Hem?"
"Nanti, saat kita menemui mas Hasan, kita ziarah juga ya ke makan ibu dan bapakku."
"Iya sayang," balas Adam, ia semakin erat menggenggam tangan Haura.
Hingga membuat wanitanya ini tersenyum semakin lebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu.
Hingga saatnya tiba dimana hari keputusan tentang kasus Monica yang dicabut tuntutannya oleh Adam.
Membebaskan Monica dengan membayar ganti rugi. Saat sidang keputusan perceraiannya dulu, Hotman juga meminta Monica untuk menandatangi sebuah surat pernjanjian, tentang kesepakatan untuk mencabut kasus ini dengan membayar ganti rugi.
Monica yang saat itu sedang diselimuti kebahagiaan tak memperpanjang semuanya, ia hanya terus menurut saat Hotman memintanya menanda tangani beberapa berkas.
Tentang penyerahan semua saham Monica yang ia punya di perusahaan sang ayah Aufar Sarman, saham yang mencapai 26 %.
Bukan hanya saham, namun juga beberapa kepemilikan aset tanah dan bangunan.
Semua yang atas nama Monica, kini menjadi milik Adam Malik.
Dan jika dihitung, jumlah itu lebih besar, daripada harta sisa yang dimiliki oleh Aufar.
Sepulang dari liburannya, Monica langsung mendatangi mansion sang ayah dan ibu. Menunggu di rumah itu, kedatangan surat kebebasannya.
Namun yang datang bukannya surat kebebasan, malah beberapa aparat dan juga Hotman.
"Pak Hotman, apa maksud ini semua?" tanya Monica dengan kedua netra yang membola. Keterkejutan yang juga di tunjukkan oleh Aufar dan Marina.
Aufar dan Marina bahkan sudah mengundang beberapa wartawan untuk meliput tentang kebebasan sang anak, namun nyatanya, lagi-lagi Monica malah melempar kotoran di wajah mereka.
Dengan gamblang, Hotman menjelaskan semua duduk permasalahannya. Bahkan detik itu juga Hotman meminta, Aufar dan semua keluarganya untuk meninggalkan mansion ini. Karena mansion ini pun atas nama Monica.
Plak!
Satu tamparan keras kembali Aufar layangkan pada sang anak.
Monica hanya bisa menangis tertunduk dan menerima semua cacian kedua orang tuanya.
Tak ada yang bisa mereka lakukan, karena saat itu pula Hotman membawa surat resmi pengadilan juga beberapa aparat kepolisian.
Hingga mau tidak mau, mereka pun meninggalkan mansion itu dengan kemarahan yang membuncah. Satu yang Aufar tahu pasti, semarah apapun ia pada Adam, ini semua memang salah putrinya.
Jika ia melawan, Adam malah akan mengambil semua harta milik mereka.
Yang bisa Aufar lakukan hanya satu, meluapkan semua kemarahannya itu pada Monica.
"Pergi! kamu bukan lagi anakku!" bentak Aufar begitu lantang.
Ketika mereka semua meninggalkan mansion itu.
Ia bahkan sampai mendorong tubuh Monica saat hendak menyentuhnya.
"Ma," panggil Monica lirih pada sang ibu, diantara derai air matanya yang mengalir begitu deras.
"Jangan panggil aku Mama, aku bukan lagi mamamu!" jawab Marina sengit. Jungkir balik ia dan sang suami hingga sampai diposisi ini, hidup terpandang dan dihormati semua orang.
Namun dalam sekejab saja, Monica menghancurkan semuanya.
Aufar dan Marina sudah tidak bisa memaafkan lagi. Mereka mengusir sang anak dengan begitu keji.
Monica tersungkur diatas jalanan, memperhatikan mobil kedua orang tuanya yang mulai menjauh.
Dalam hatinya ia terus mengutuk, betapa kejamnya Adam.
"Tuan, memberikan anda uang tunai 100 juta rupiah. Anda bisa menggunakan uang itu untuk memulai hidup baru," jelas Hotman yang masih berdiri di sana.
100 juta, bukanlah uang yang berati bagi Monica. Namun kini, hanya sejumlah itulah uang yang ia punya.