My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 79 - Merasakan Hal Yang Sama



Haura, setelah memastikan Shakir pergi barulah ia menemui sang calon suami Adam.


Menghembuskan napasnya pajang, Haura mulai berjalan menghampiri Adam yang tengah menunggunya di dalam mobil.


Entah kenapa, Haura merasakan ada aura mencekam dari dalam mobil itu.


Seolah kini, Adam sedang menatapnya tajam dari balik kaca hitam itu.


Dan Adam, melihat Haura mendekat, Adam turun dari dalam mobil. Menyambut kedatangan Haura dengan menggenggam tangannya erat, lalu membawanya ke pintu mobil sebelah sana.


Membukakan pintu itu hingga Haura duduk di sana barulah ia tutup kembali.


Haura makin merinding, kala Adam tetap memperlakukannya sama namun tanpa berucap apa-apa.


Haura sadar, wajar jika Adam akan marah.


Adam memang tak suka, melihatnya dengan pria lain. Apalagi tadi, ia malah meminta izin untuk berdua dengan Shakir.


Menjelaskan bagaimana pun, jika ia menjadi Adam tetap saja akan merasa kesal.


Brak!


Adam menutup pintu, seperti biasa. Namun keheningan didalam mobil itu seolah membuat suara tutupan pintu semakin keras.


Haura, menelan salivanya dengan susah payah.


"Mas," panggil Haura pelan, hingga membuat Adam menoleh kepadanya, dengan tatapan yang entah.


Matanya sayu, namun nampak dingin.


"Maaf untuk yang tadi, aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Haura langsung, hingga membuat kedua netra Adam makin terbuka lebar.


Adam tahu, Haura dan Shakir tidak memiliki hubungan apapun selain teman dan rekan kerja. Namun Adam juga tahu, bahwa Haura dan Shakir selama ini berhubungan intensif, bahkan kedua anaknya pun sampai menyayangi pria itu.


Entahlah, Adam hanya merasa tak suka dengan itu semua. Ia hanya ingin ada satu pria disisi Haura dan kedua anaknya, yaitu Dia.


Namun Adam juga sadar, ia tidak boleh egois. Terlebih Shakir, adalah orang yang membantu Haura hingga kini calon istrinya kini menjadi orang yang sukses.


Bahkan sebelum kedatangannya, Haura bisa menyekolahkan kedua anaknya di sekolah Elit. Juga membantu semua warga desa dengan perkebunan yang ia punya.


Shakir, mengambil peran dalam semua hal itu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, akulah yang salah. Bersikap kekanak-kanakkan jika sudah menyangkut perasaan," jawab Adam kemudian.


"Apa yang kalian bicarakan tadi?" timpal Adam lagi, seraya menarik salah satu tangan Haura dan digenggamnya erat.


Melihat senyum Adam yang mulai muncul meski tipis. Haura sedikit bernapas lega. Lalu ia menceritakan semuanya tanpa di tutup-tutupi.


Bahkan mengundang Shakir pula, pada saat pernikahan mereka nanti.


"Benarkah kamu memberi tahunya tentang pernikahan kita?" tanya Adam antusias dan Haura mengangguk.


Melihat itu, Adam makin tersenyum lebar. Ia suka, jika Haura mengakuinya didepan semua orang.


Karena terlalu lama berada di rumah Haura, Adam memerintahkan Luna untuk menjemput Azzam dan Azzura, lalu membawanya pulang ke rumah dia.


Jadi saat itu, Adam dan Haura tidak pergi ke sekolah, melainkan langsung ke rumah Adam.


Rumah dengan cat berwarna putih bersih, dengan berbagai jenis ukiran yang nampak begitu mewah.


Rumah ini memang tak sebesar mansion Zahra, namun juga tak sekecil rumah Haura.


Rumah dua lantai yang menjadi tempat tinggal Adam belum lama ini, tepatnya setelah ia menemukan Haura.


Baru pertama kali masuk, Haura langsung dibuatnya tersenyum, saat melihat foto keluarga kecil mereka sudah menghiasi dinding ruang tamu rumah itu.


Seolah menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga kecil yang bahagia.


Masuk ke ruang tengah, Haura makin mengulum senyumnya saat melihat banyak pula foto yang sama ditempel didinding ruangan itu.


Langkah keduanya terhenti, saat melihat Azzam dan Azzura yang menuruni anak tangga dari lantai dua sana.


Nampak kedua anaknya itu sudah mengganti baju sekolahnya menjadi baju rumahan.


Lalu tak lama kemudian, disusul pula Luna yang mengikuti langkah kedua anaknya.


Melihat Luna turun dari lantai atas sana, entah kenapa ada desiran aneh di hati Haura.


Seolah Luna sudah terbiasa keluar masuk rumah ini.


Sekelebat ucapan Monica kala itu jadi terngiang di telinganya.


"Abang sama Ading sudah ganti baju?" tanya Haura heran, darimana pula kedua anaknya ini mendapat baju ganti.


"Sudah dong Bu, tante Luna tadi menunjukkan kamar kami di rumah ini. Kamar seperti di rumah nenek Zahra, lengkap sama baju-bajunya ada," terang Azzura apa adanya.


Juga diangguki oleh Azzam.


Tadi, Luna memang membawa kedua anak Tuanya itu untuk melihat kamar mereka yang baru. Dan untunglah, Azzam dan Azzura menyukainya.


Mendengar anak perempuannya, Haura lantas menoleh kepada Adam. Meminta kepastian, dan dilihatnya Adam menganggukkan kepala.


Selepas mengantarkan Azzam dan Azzura pada kedua orang tuanya, Luna pamit untuk pergi.


Dengan menundukkan kepalanya hormat, Luna segera berlalu dari sana.


Awalnya Haura memang tak peduli dengan ucapan Monica itu, namun kini entah kenapa ia jadi menaruh curiga.


Setelah Luna pergi, raut wajah Haura langsung berubah masam.


Mendadak iapun jadi tak bisa mengendalikan perasaannya sendiri. Rasa tidak terima jika Adam dekat dengan wanita lain.


Apa ini yang dirasakan mas Adam tadi? Batin Haura penuh tanya.


Terlebih saat menyadari, jika ia merasakan hal yang sama, cemburu. Dan ternyata cemburu itu rasanya sakit juga.