My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 46 - Menanggung Rasa Bersalah



Haura tersentak.


Ia bahkan bergerak cepat menahan tubuh Zahra yang hendak bersimpuh dihadapannya. Wanita paruh baya ini terus menangis, dengan berulang kali mengucapkan kata Maaf.


Kesalahan yang telah Adam lakukan pada Haura juga ada andil dirinya di sana. Andaikan Kala itu Zahra mendengarkan penjelasan Adam, Andaikan kala itu, ia ikut mencari Haura. Tapi Zahra malah memilih menutup telinga, ia hanya mempercayai apa yang ia lihat.


Pagi itu, ia melihat dengan jelas Adam dan Monica tidur dalam satu ranjang. Dan tak peduli dengan semua penjelasan Adam, Zahra memaksanya untuk menikahi Monica sebagai bentuk tanggung jawab.


Dan ternyata, keputusannya itu salah besar. Satu tahun lalu, saat Adam menceritakan semua kebenaranya tentang Monica, Zahra bak disambar petir. Ia pikir ia telah menyelamatkan seorang wanita, Monica. Namun ternyata, ia malah menyiksa wanita lain, Haura.


"Maafkan ibu Haura, ibu mohon," lirihnya lagi dengan suara yang begitu pilu. Adam hanya mampu bergeming, rasa bersalah yang ia tanggung selama ini, ternyata juga ditanggung oleh sang ibu.


Aida yang melihat itu tak mampu menahan tangisnya, ia mendekat dan memeluk sang ibu dari samping.


"Maafkan kami Mbak," ucap Aida dengan derai air mata. Apalagi saat melihat wajah Azzam dan Azzura yang nampak begitu mirip dengan sang kakak.


Sumpah demi apapun, ia ingin mendapatkan maaf dari Haura, dan mereka bisa memiliki hubungan yang baik, sebuah keluarga.


Tanpa disadari oleh Haura, air matanya pun mengalir dengan sendirinya.


Entah perasaan apa ini, ia menangis namun hatinya terasa begitu lega, seolah beban yang selama ini tanggung hilang seketika. Seolah semua kecemasan itupun menguap entah kemana.


"Tidak, Ibu tidak bersalah, Aida kamu juga tidak bersalah," jawab Haura dengan suaranya yang bergetar.


"Semua sudah terjadi atas kehendak Allah, bahkan saat ini ada Azzam dan juga Azzura diantara kita," timpalnya lagi, mencoba tegar.


"Aku hanya meminta, tolong terimalah Azzam dan Azzura, meski mereka terlahir dari wanita biasa seperti aku. Dan aku mohon, jangan pisahkan aku dengan mereka," ucap Haura lagi, penuh permohonan. Berada diantara mereka, Haura benar-benar merasa kecil, dan ketakutannya itu semakin besar.


Melihat ibunya menangis, Azzura pun ikut menangis pula, sementara Azzam matanya nampak berkaca-kaca.


Zahra menggeleng dengan cepat.


"Sumpah Haura, ibu tidak ada sedikitpun niat untuk memisahkan kamu dengan Azzam dan Azzura. Ibu hanya berharap, kamu sudi memberi ibu kesempatan untuk menebus semua dosa. Ibu ingin kita menjadi sebuah keluarga Nak," jawab Zahra, dan mendengar itu hati Haura begitu lega.


Haura bahkan tersenyum diantara tangisnya itu.


Lalu mengangguk, mengiyakan ucapan Zahra.


Mendapati jawaban Haura, Zahra langsung memeluk Haura erat, bahkan sangat erat. Hingga yang menghangat tak hanya tubuh Haura, namun juga masuk sampai ke dalam hatinya.


Perlahan, Haura pun membalas pelukan Zahra itu.


Adam tersenyum, lalu menciumi pipi Azzura yang basah dengan air mata.


Malam semakin larut, bahkan kini Azzam dan Azzura pun sudah duduk dipangkuan Zahra. Tapi wanita paruh baya yang kini menyandang status nenek itu tak berhenti juga tangisnya.


Jika tadi ia menangisi Haura, Kini Zahra menangisi Azzam dan Azzura.


Berulang kali juga Zahra mengucapkan kata maaf pada kedua cucunya itu. Disini, Zahra hidup bergelimang harta, sementara cucu-cucunya dulu hidup dalam kesulitan, bahkan Haura sampai masuk ke dalam hutan untuk mencari makan.


"Maafkan nenek Zam, maafkan nenek Zura," pinta Zahra masih dengan tangis.


"Kami akan memaafkan nenek, tapi nenek harus berhenti menangis dulu," jawab Azzura, lalu membalas dekapan hangat neneknya itu.


Bukannya mereda, tangis Zahra malah semakin pecah.


"Nenek, kami akan pulang jika nenek menangis terus," ancam Azzam, ia bahkan melipat kedua tangannya didepan dada lengkap dengan menunjukkan wajah dinginnya.


Memasang wajah seperti itu, Zahra seperti melihat Adam kecil dulu. Dan ia makin menangis tersedu.


"Nek, sudah ya menangisnya, aku akan mengizinkan Azzam dan Azzura untuk menginap disini jika Nenek berhenti menangis," ucap Haura, ia berjongkok dihadapan Zahra dan menggenggam erat tangan nenek kedua anaknya ini.


Mendengar itu, tangis Zahra langsung terhenti seketika. Berubah jadi raut wajah bahagia.


"Benarkah?" tanya Zahra yang tidak percaya.


Dan Haura mengangguk seraya tersenyum sebagai jawaban.


"Kalian mau menginap disini kan?" tanya Zahra pada Azzam dan Azzura. Dan kedua cucunya itu mengangguk dengan antusias.


Aida yang melihat itu bahkan sampai bersorak riang. Malam ini, ia akan tidur dengan sang ibu beserta Azzam dan Azzura.


"Haura, kamu juga menginap disini saja Nak, kalau kamu merasa tak nyaman ada Adam, biar Adam yang pergi," tawar Zahra sungguh-sungguh.


"Tidak Bu, aku akan pulang," jawab Haura.


"Biar aku yang antar," sahut Adam cepat.


Dan tak ada lagi yang menjawabpi.


Tepat jam 9 malam, Haura pamit pulang. Azzam dan Azzura tinggal disana. Lagipula, besok adalah hari minggu, kedua anaknya itu tidak bersekolah.


Sampai diluar, ternyata sedang hujan gerimis.


Beberapa pelayan sudah menyiapkan payung untuk Tuannya.


Adam menggenggam tangan Haura erat, saat mereka berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di sana.


Hingga kini, Adam dan Haura sudah berada di dalam mobil. Mobil yang mulai melaju, keluar dari area mansion dan menyusuri jalanan menuju jalan raya.


"Terima kasih, Haura," ucap Adam memecah keheningan. Hanya kata itulah yang bisa ia ucapkan untuk membalas semua kebaikan hati Haura.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, Mas tidak tahu betapa leganya aku ketika melihat ibu Zahra begitu menyayangi Azzam dan Azzura," jawab Haura, seraya membayangkan kejadian beberapa jam tadi.


Bahkan Zahra sudah menyiapkan kamar khusus untuk Azzam dan Azzura di mansion itu. Lengkap dengan semua kebutuhan anaknya. Baju yang tertata rapi didalam lemari, meja belajar yang penuh dengan buku dan juga berbagai jenis tablet.


Adam tersenyum.


"Aku juga menyayangi mereka."


"Aku tahu," balas Haura cepat.


Aku juga menyayangimu, apa kamu tahu? tanya Adam, dan hanya mampu ia tanyakan didalam hati.


Perceraiannya dengan Monica masih belum usai, dan selama itu belum tuntas, ia tidak bisa leluasa mengungkapkan semua rasa. Bahkan Adam pun merasa takut, perihal perceraiannya dengan Monica akan mempengaruhi hubungannya dengan Haura.


"Apa Kamu membenci Monica?" Tanya Adam, saat mereka berhenti di lampu merah, lalu menoleh menatap Haura.


Dilihatnya Haura menggelengkan kepala, lalu membalas pula tatapannya.


"Saat ini aku sudah tidak membenci siapapun," jawabnya dengan sorot mata penuh ketulusan.


Tatapan yang membuat Adam semakin hanyut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Azzam & Azzura : Terima kasih Acik dan Amang untuk semua dukungannya, mulai sekarang Author coba up 2 bab ya 🙆‍♂️🙆‍♀️














Dan masih banyak lainnya lagi 💕💕💕💕