My Genius Twins Baby and CEO

My Genius Twins Baby and CEO
MGTB And CEO BAB 47 - Berlandaskan Cinta



Tin Tin!


Bunyi klakson dari arah belakang memutuskan tatapan Haura dan Adam. Kedua manusia ini sontak tersadar lalu menatap jalanan, lampu merah sudah berubah jadi hijau beberapa detik lalu.


Dan Adam segera memelajukan mobilnya kembali.


Ada sedikit getar di hati Haura, meski ia tak tahu apa arti dari getar itu. Karena tatapan Adam? atau karena terkejut bunyi klakson yang mengagetkan mereka tadi.


Hening, kini keduanya diselimuti kecanggungan.


Hingga mobil Adam itu akhirnya masuk ke halaman rumah Haura, berhenti tepat didepan teras.


Gerimis tadi masih setia menemani hingga kini.


"Tunggu dulu, aku akan turun lebih dulu," ucap Adam.


Tanpa persetujuan Haura, pria ini turun dengan sendirinya seraya membawa payung dan membukakan pintu untuk Haura.


Padahal tanpa perlu dipayungi, tubuh Haura tidak akan sampai basah.


Keduanya berjalan, beriringan melewati jarak yang begitu dekat dengan tempat teduh.


"Terima kasih, Mas," ucap Haura. Kini ia sudah berdiri di teras rumah, sementara Adam berdiri di samping mobilnya sambil memegang payung hitam itu.


Adam mengangguk kecil, lalu berkata, "Masuklah."


Dan Haura menurut, tanpa banyak pembicaraan lagi. Haura segera membuka pintu itu, masuk dan menutupnya kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di mansion Zahra.


Aida benar-benar ikut tidur bersama mereka.


Zahra dan Aida mendengarkan, Azzura bercerita tentang masa kecilnya di desa Parupay, tentang Abang Labih dan Nanjan, tentang nenek Inah, juga tentang Buti, burung putih miliknya yang ia lepas sebelum pergi ke Jakarta.


"Besok, saat nenek mengantar kalian pulang, nenek akan banyak mengucapkan terima kasih pada nenek Inah, karena selama ini nenek inah sudah menjaga kalian dengan sangat baik," ucap Zahra, dengan salah satu tangannya yang mengelus pucuk kepala Azzam. Azzam tidur disebelahnya, sementara Azzura tidur disebelah Aida.


Kedua anak ini diapit oleh Aida dan Zahra di atas ranjang king size di kamar Zahra.


"Nenek yang akan mengantar kami pulang?" tanya Azzam.


"Tentu saja, minggu depan saat libur sekolah kalian harus menginap lagi di rumah nenek, ya?" pinta Zahra sungguh-sungguh.


"Baiklah," jawan Azzam dan Azzura kompak.


"Sekarang kita tidur, Zura, tepuklah tanganmu dua kali, nanti lampunya akan mati," kini Aida yang buka suara.


"Benarkah tante?" tanya Azzura antusias sekaligus tidak percaya, apa iya dengan menepukkan tangan lampu utama kamar ini akan mati? pikirnya.


"Tentu saja," jawab Aida tak kalah antusiasnya.


Dan.


Prok prok!


lampu kamar itu mati, tapi bukan Azzura yang menepuk, melainkan Azzam.


"Abaang!" keluh Azzura merasa keduluan, dan rasanya itu, hih! kesal.


Azam terkekeh, lalu ia menepukkan satu kali lagi tangannya dan lampu kembali hidup.


Aida dan Zahra tak terkejut sedikitpun, mereka tahu jika Azzam adalah anak yang genius.


"Wah! bagaimana Abang tahu kalau satu kali tepuk lampunya akan hidup lagi?" tanya Azzura heran.


"Nenek membisikkannya padaku," jawab Azzam bohong, lalu dengan cepat pula ia memeluk neneknya itu erat, agar Zahra tidak marah.


Dan Zahra terkekeh sendiri melihat tingkah Adam.


Malam itu akhirnya mereka bisa tidur setelah Azzura puas mematikan dan menghidupkan lampu dengan tepukan tangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya.


Selesai shalat subuh, Adam meminta waktu pada sang ibu untuk membawa Azzam dan Azzura bersamanya.


Meski dengan berat hati, Zahra akhirnya mengizinkan.


Adam, membawa kedua anaknya itu berjalan menyusuri mansion yang begitu luas. Bahkan Azzura sampai bisa berlari kesana kemari, dengan tawa riangnya.


"Kita mau kemana Yah?" tanya Azzam penasaran.


"Ke ruang kerja ayah," jawab Adam apa adanya, tapi ruang kerja itu tempatnya begitu jauh dari mushola tempat mereka shalat tadi.


Hingga sampailah mereka disebuah ruangan yang bahkan pintunya begitu lebar.


Adam, segera membawa kedua anaknya masuk kesana.


"Ayah, punya hadiah untuk kalian," ucap Adam. Ia lalu memangku kedua anaknya untuk duduk di sofa itu, lalu melakukan panggilan video call entah dengan siapa.


Hingga saat panggilan itu terhubung. Nama Azzam dan Azzura langsung dipanggil dengan begitu lantang.


"Azzam, Azzura!" pekik Labih dan Nanjan diujung sana.


"Abang Labih, Abang Nanjan!" sahut Azzam dan Azzura tak kalah antusias.


Tower signal di desa Parupay sudah berdiri tegak, sementara yang lainnya masih dalam pembangunan, seperti jalan aspal mengelilingi desa, sekolah dan juga puskesmas.


Keempat anak itu saling bertukar kabar, melepas rindu karena sudah lama tak saling jumpa.


Azzura mengeluhkan Labih dan Nanjan yang kini nampak lebih hitam. Sedangkan Labih dan Nanjan merasa Azzura semakin cantik saja.


Cukup lama mereka saling berbincang, hingga Zahra datang menghampiri mereka barulah sambungan telepon itu terputus.


Zahra ingin mengajak kedua cucunya itu untuk menikmati pagi yang sangat cerah ini, bahkan embun sisa gerimis semalam masih menempel didedaunan dan bunga yang berada di taman milik Zahra.


Memasuki taman itu, Azzura kembali berlari dengan riangnya.


Taman bunga yang berada di belakang mansion, lengkap pula dengan rumput hijau sebagai alasnya.


"Nenek! ini indah sekali!" teriak Azzura yang sudah berlari sampai di ujung sana.


Zahra tersenyum lebar.


Sementara Azzam, memutuskan untuk duduk disalah satu kursi taman. Kursi yang dulu juga selalu diduduki oleh Adam.


Zahra, ikut duduk disebelah Azzam.


"Sayang, bolehkah nenek minta sesuatu darimu?" pinta Zahra, ia menoleh menatap Azzam yang juga menatap kearahnya.


"Nenek mau minta apa?" tanya Azzam langsung.


"Bisakah kamu membantu nenek untuk menyatukan ayah Adam dan ibu Haura?" tanya Zahra lagi, penuh harap.


Ia ingin Adam segera menikahi Haura, menebus semua dosa juga menepati janji yang Adam ucapkan dulu kala.


Azzam tak langsung menjawab, ia masih nampak berpikir. Azzam tahu, jika semua kemalangan yang dialami oleh sang ibu karena istri ayahnya yang sekarang, Monica.


Bahkan Azzam pun tahu pula jika saat ini Ayah Adam sedang menceraikan istrinya itu.


Azzam tentu menginginkan ayah dan ibunya kembali bersama. Namun entah kenapa, perihal ini ia tak ingin memaksakan.


"Maaf Nek, aku tidak bisa," jawab Azzam kemudian. Hingga membuat kedua netra Zahra membola.


"Kenapa?" tanyanya dengan tidak percaya.


"Aku ingin ibu bahagia, aku juga ingin ayah bahagia pula. Jika ibu dan ayah bahagia saat bersama-sama, tanpa campur tangan kita, mereka akan tetap bersatu," jawab Azzam kemudian.


Dan mendengar itu, Zahra tercenung.


Membenarkan ucapan sang cucu.


"Maafkan nenek Ya, hampir saja nenek kembali membuat kesalahan lagi," ucap Zahra kemudian, lalu menarik tubuh Azzam untuk mendekat kepadanya, dan Zahra memeluk erat cucu laki-lakinya itu.


Yang bisa Zahra lakukan kini hanyalah satu, terus berdoa agar Adam dan Haura disatukan dalam sebuah pernikahan, yang berlandaskan cinta.


Bukan sekedar janji ataupun tanggung jawab.