
Jakarta.
Tengah Malam, rombongan AIG School sampai di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pihak sekolah akan mengantarkan langsung satu per satu muridnya hingga sampai di rumah.
Namum ternyata, semua orang tua murid sudah menjemput di sana.
Termasuk Adam dan Haura.
Kondisi Adam yang tak bisa bertemu dengan banyak orang, membuat ia memesan jalan khusus.
Untuk kedua anaknya, setelah turun dari pesawat akan langsung dibawa ke ruang tunggu VVIP.
Haura dan Adam duduk di sana, menunggu. Hingga akhirnya Azzam dan Azzura datang.
Tapi ada yang aneh, karena kedua anaknya itu tidak datang berdua.
Azzam tidur dan berada di gendongan tuan Edgar Suryo. Sementara Azzura tidur dan berada di gendongan Luna yang memakai masker dan kaca mata hitam.
Haura, sempat bertemu dengan rekan bisnisnya suaminya ini saat pernikahan.
Namun ia tak menyangka, jika tuan Edgar sampai sebegitunya pada kedua anaknya. Sampai sudi menggendong Azzam yang terbilang sudah cukup berat.
Saat Adam hendak mengambil Azzam, Edgar langsung menolak.
Meminta maaf terlebih dahulu lalu mengatakan biar dia saja yang membawa Azzam dan Azzura.
Kasihan, kedua anak kecil ini sudah tertidur pulas.
Adam lalu melirik Luna, yang dilirik tak nampak jelas bagaimana ekspresi wajahnya. Masker dan kaca mata hitam itu membuat Adam tak bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi Adam cukup yakin satu hal, jika ada apa-apa diantara Luna dan Edgar.
"Baiklah, sebaiknya kita cepat pulang," putus Adam akhirnya, dan Haura hanya bisa menyetujui keputusan suaminya itu.
Adam dan Haura naik di mobilnya sendiri. Berjalan memimpin dengan Kris sebagai supir.
Sementara Edgar dan Luna berada di mobil tuan Suryo itu, lengkap bersama dengan azzam dan azzura yang sudah terlelap.
Luna, mendadak gugup.
Kembali teringat tatapan sang tuan Adam yang menatapnya penuh tanya beberapa menit lalu.
Jujur saja, ia malah jadi takut. Takut mengira jika Adam akan berpikir jika ia lah yang lebih dulu menggoda pria dari keluarga Suryo ini.
Berkerja sekaligus menggoda.
Astagfirulahalazim, batin Luna takut sendiri.
Lamunan Luna buyar, saat Edgar tiba-tiba menggenggam tangannya secara perlahan.
"Jangan gugup, aku yang akan menceritakan semuanya pada tuan Adam. Setelah mengantar Azzura, tunggu aku di mobil," ucap Edgar, seraya memerintah.
Edgar pun semakin menggenggam erat tangan Luna, bahkan menautkan jemari keduanya dan terakhir mengecup sekilas punggung tangan kekasihnya itu.
Seketika kegugupan Luna berubah, dari takut jadi berdebar-debar.
"Baiklah," jawab Luna singkat. Berada di dekat Edgar, membuatnya banyak lupa dengan kosa kata.
Jam 1 dini hari, mereka semua sampai di rumah Adam.
Para pengasuh langsung mengambil tuan dan nona mudanya. Luna pamit pada Haura, sedangkan Adam dan Edgar berbincang sejenak di ruang keluarga.
Adam, mengucapkan banyak terima kasih kepada Edgar atas perhatiannya pada Azzam dan Azzura.
Tapi Edgar, malah mengucapkan kata meminta maaf.
"Maaf untuk apa?" tanya Adam, jadi bingung.
"Maaf, karena sebenarnya saya memanfaatkan Azzam dan Azzura untuk bisa mendekati Luna," jawab Edgar jujur, ia bahkan juga mengatakan jika ia memanfaatkan penulis Anna dan Nyonya Haura pula untuk bisa memiliki waktu bersama Luna beberapa bulan lalu.
Tak sampai di sana, Edgar pun bahkan langsung mengatakan niatnya untuk segera menikahi Luna.
Mendengar pengakuan Edgar itu, Adam tersenyum.
Sudah ku duga, batin Adam dengan senyumnya yang tertahan.
Selama ini, Adam sudah merasa jika Edgar selalu memperhatikan mantan Asisten pribadinya itu. Bahkan tak jarang, tiap kali bertemu Edgar akan bertanya tentang Luna.
Ternyata, baru sekarang Edgar berani mengungkapkan semuanya.
"Selamat ya, jika setelah menikah Luna berhenti bekerja, aku akan mengizinkan," jawab Adam, setelah Edgar selesai bercerita.
Mendengar itu, Edgar pun makin tersenyum sumringah. Tapi Edgar tahu satu hal, bahwa pekerjaan yang selama ini digeluti istrinya itu juga adalah bagian hidup dari Luna.
Dan jika Luna tetap memutuskan untuk bekerja, Edgar tak melarang.
Nanti, semua keputusan itu akan ada di tangan Luna.
Tak sampai lama, perbincangan kedua pria itu usai. Adam naik menyusul sang istri ke lantai 2. Sementara Edgar keluar menemui sang kekasih yang sudah menunggunya di dalam mobil.
melihat Edgar datang, Jantung Luna mendadak berdebar. Seketika gugup datang lagi.
Apalagi saat Edgar membuka pintu lalu duduk disebelahnya, di kursi penumpang tengah.
Lalu mobil itu melaju, dikemudikan oleh sang asisten tuan muda suryo, Edgar.
"Kenapa tanganmu dingin sekali?" tanya Edgar, sangat terasa saat ia menyentuh tangan kanan sang kekasih.
Ditanya seperti itu, Luna makin bingung harus menjawab apa. Hingga terasa pinggangnya ditarik dan keduanya makin berdekatan, tak ada jarak.
Edgar, lalu menggenggam kedua tangan Luna, memberikan kehangatan.