
Ngidam.
Sedari tadi pagi Luna selalu merasa tidak tenang, ia gelisah bahkan selalu kulu kilir dengan menelan ludahnya sendiri.
Ia selalu terbayang-bayang buah kasturi dari desa Parupay. Rasanya ingin sekali memakan buah itu dalam jumlah banyak.
Namun ia sungguh ragu untuk mengatakan kepada sang nyonya. Tidak ingin membuat Haura repot dengan banyaknya keinginan dia ini.
"Luna, kenapa dari tadi kamu gelisah terus, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Haura, ia menghentikan pergerakannya merangkai bunga di dalam vas dan menoleh kearah Luna. Sang asisten yang mondar mandir disampingnya.
Ditanya seperti itu, Luna pun langsung reflek menghentikan langkahnya dan balas menatap sang Nyonya.
"Maaf Nyonya jika saya membuat anda tidak nyaman," jawab Luna. Hatinya saat ini sangat sensitif sekali, ditegur seperti ini saja rasanya Luna sudah sangat bersalah. Ia bahkan sampai ingin menangis karena membuat Haura tidak nyaman.
Melihat perubahan raut wajah Luna yang sedrastis itu membuat Haura mengerutkan dahinya, bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan sang asisten.
Beberapa hari ini Luna memang bukan seperti Luna yang ia kenal. Tak ada lagi Luna berwajah datar dan dingin, tidak ada pula Luna yang bersuara tegas dan mantap.
Luna jadi sering gelisah, menunduk takut dengan mata yang berkaca-kaca seolah ingin menangis.
"Duduklah disini," titah Haura seraya menepuk tempat duduk kosong disebelah kanannya.
Dan dengan ragu Luna pun menurut. Ia duduk persis disebelah Haura.
"Apa kamu hamil Lun?" tanya Haura.
Sebuah pertanyaan yang membuat kedua netra Luna membola.
"Hamil?" Luna membeo, ia bahkan tidak tahu ia hamil atau tidak.
Dilihat oleh Luna, Haura yang mengangguk.
"Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Haura lagi.
Dan dengan ragu akhirnya Luna menjawab jujur.
"Emm, sebenarnya saya ingin sekali makan buah kasturi Nyonya, buah yang dari desa itu," jelas Luna, membuat Haura tersenyum dengan lebar.
Tapi sayangnya di rumah sedang tidak ada buah itu. Kalau meminta dikirimkan oleh ibu Ririn pasti butuh waktu.
Dan untungnya, Labih masih memiliki beberapa buah kasturi kiriman sang ibu. Ada sekitar 7 buah di lemari pendingin.
Dengan antusias, Haura pun meminta buah itu, bahkan Labih bersedia untuk mengantarnya langsung.
Karena jarak rumah Labih dan rumah Haura tidak terlalu jauh, Labih mengantarkannya menggunakan sepeda.
Labih nampak tampan sekali, menggunakan kaos berwarna putih dan celana pendek. Wajahnya bahkan makin bersih dan berseri.
Labih masuk ke dalam rumah Haura dan langsung menyerahkan kantong plastik berwarna bening itu, berisi 7 buah kasturi.
"Dimana Azam dan Azura Acil?" tanya Labih.
"Mereka sedang belajar di lantai atas, ada Arnold, Julian dan juga Arra, naiklah," jawab Haura.
Labih mengangguk dan segera berlalu dari sana, naik ke lantai 2.
Haura lalu mengajak Luna untuk mulai mencuci buah itu dan menyajikannya. Luna bahkan sudah tidak sabar untuk mulai makan.
Tersaji di atas piring, Luna mulai melahapnya satu per satu.
Seketika kedua netranya berbinar, bahkan hatinya pun merasa sangat bahagia.
"Wah, ada buah kasturi, aku juga mau," ucap Adam yang tiba-tiba datang dan langsung duduk disebelah sang istri di meja makan sana.
Saat Adam hendak mengambil buah itu, Luna langsung nampak sedih. Ia tidak ingin berbagi. Tapi bingung bagaimana cara mengatakannya.
"Mas! jangan!" cegah Haura dengan cepat.
"Ini untuk Luna dan bayinya, Mas makan buah yang lain saja," timpal Haura lagi, yang sudah hapal betul bagaimana rasanya jadi ibu hamil yang ngidam.
Adam terdiam, terpaku dan menganga tidak percaya.
Bagaimana mungkin ia harus mengalah dengan asistennya sendiri.
Dan Luna tidak peduli, ia menarik piring berisi buah itu semakin dekat dengannya dan kembali makan dengan lahap.
"Wah!" Adam terperangah.