
Sampai malam, Adam tetap berada di rumah sakit, menemani Haura seperti janjinya.
Ia bahkan tak keluar walau hanya sejenak. Yang Adam lalukan hanya memerintah beberapa orang suruhannya untuk ini dan itu.
Sementara Luna, juga sudah pulang sore tadi.
"Mas, aku benar-benar baik-baik saja, kenapa kita harus menginap disini?" tanya Haura, ia melihat Adam yang sedang duduk si sofa, yang berada tepat disebelah ranjang tidurnya.
Baru saja, mereka selesai makan malam.
"Kenapa? kamu merindukan Azzam dan Azzura? ayo kita telepon mereka," sahut Adam, ia lalu lebih menggeser kursinya sendiri hingga menempel di ranjang Haura.
Tanpa babibu, iapun langsung menghubungi sang anak, Azzam yang ia hubungi.
Dan tak butuh waktu lama, panggilan Video itu langsung terhubung, lalu saling mengucapkan salam.
Bahkan Azzam langsung menuju kamar sang adik, melalui pintu ajaib diantara kamar mereka.
"Ayah Ibu!" pekik Azzura saat melihat wajah sang ayah dan sang ibu berada dilayar ponsel.
"Harusnya aku dan Abang ikut menemani ibu di rumah sakit, jadi kita bisa tidur bersama-sama," protes Azzura dengan mengerucutkan bibirnya.
Seolah rumah sakit itu, adalah tempat berlibur untuk ayah dan ibu. Tapi ia dan Azzam malah tidak diajak.
"Zuraa, kan beberapa hari lagi sayang ada teater, jadi Zura harus hapalin dialognya kan? kalau ikut ibu, kapan Zura punya waktu untuk menghapal." Adam yang menjawab, lengkap pula dengan wajahnya yang menatap serius.
"Tapi ayah dan ibu janji ya? saat teater nanti ayah dan ibu datang bersama," pinta Azzura sungguh-sungguh, ia sangat ingin kedua orang tuanya melihat ia tampil di panggung.
"Nenek Zahra dan tante Aida juga akan datang kok, karena itulah Zura harus tampil sebaik mungkin," jawab Adam kemudian, dan Azzura bersorak senang.
Kebahagiannya bertubi, jika nenek dan tantenya pun ikut menyaksikan secara langsung.
Beberapa hari lagi, AIG School mengadakan teater drama musikal yang diperankan oleh siswa-siswi yang berbakat dalam seni vokal dan seni peran. Azzura dan Arrabela, mengambil peran dalam teater itu.
Teater yang dibuka secara umum, juga ditayangkan dalam siaran tv nasional.
"Besok siapa yang akan mengantar kami? apa tante Luna?" tanya Azzam yang ikut buka suara.
Dan Adam menganggukkan kepalanya.
"Iya, kenapa? Abang tidak mau diantar tante Luna?" tanya Adam balik, menyelidik.
"Tante Luna wajahnya terluka, aku memintanya untuk beristirahat, aku tidak mau ke sekolah jika tante Luna yang mengantar," jelas Azzam.
Adam ber Oh ria, baru mendapatkan kembali ingatannya. Jika Luna, sudah ia suruh untuk cuti, namun nyatanya Luna masih sibuk berada disekitaran dirinya.
"Baiklah, besok ayah yang akan mengantar, jika keadaan ibu semakin baik, subuh nanti kami pulang," jawab Adam.
"Benar? janji?" tuntut Azzura dan Adam menganggukkan kepala seraya terkekeh.
"Janji, ya kan Bu?" tanya Adam pada Haura, seolah mencari pendukung argumennya.
"Iya sayang," balas Haura kemudian menjawab sang anak, namun yang berdebar malah hati Adam.
Debaran yang terus membuat ia menatap Haura tanpa putus.
Sedangkan Azzam dan Azzura kompak memperlihatkan senyum riangnya, ketika mendengar jawaban sang ibu itu.
Tak lama kemudian, sambungan telepon itu terputus.
Saat Azzam hendak kembali ke kamarnya, Azzura buru-buru mencegah, ia butuh klarifikasi.
"Abang, jika ayah dan ibu tidak bertengkar lagi, apa kita bisa tinggal bersama-sama, dalam satu rumah?" tanya Azzura, polos.
Azzam tak langsung menjawab, masih berpikir.
Lalu ia menggelengkan kepalanya, pelan. Hingga membuat Azzura mencebik.
"Kenapa?" tanya Azzura tidak terima.
"Karena ayah dan ibu sudah berpisah begitu lama, jadi mereka harus menikah dulu untuk kembali tinggal serumah," jelas Azzam kemudian, dengan senyum yang ia tahan.
Sebentar lagi pasti sang adik akan bertanya, Menikah itu apa?
"Menikah itu apa?" tanya Azzura kemudian, dan Azzam langsung terkekeh keras.
Hingga membuat Aminah yang sedang melewati kamar Azzura membuka pintu itu.
Dan mendapati kedua cucunya masih asik saling berdebat.
"Katanya mau belajar, kenapa malah ribut-ribut," tanya Aminah, seraya masuk ke dalam kamar Azzura.
Aminah bahkan menarik Azzura mendekat, mendekatinya yang duduk disisi ranjang.
"Kenapa Zura cemberut?" tanya Aminah lagi.
"Abang nakal, Zura nanya baik-baik malah diketawain."
"Memangnya Zura tanya apa?" selidik Aminah, dengan salah satu tangannya yang mengelus pucuk kepala Azzura dengan sayang.
"Tentang menikah, menikah itu apa? kenapa ibu dan ayah harus menikah dulu baru kita bisa tinggal satu rumah," celoteh Zura, minta penjelasan. Azzura, memang tak sepandai sang kakak, namun bukan berarti Azzura tak pintar. Hanya saja, ia butuh waktu untuk memahami semuanya.
Aminah mengembuskan napasnya sejenak, ketika Azzura mulai bertanya, akan sulit untuk membuatnya terhenti.
"Nek, aku harus kembali belajar, aku kembali ke kamar ya?" pamit Azzam, sekaligus kabur.
Dan Aminah tak bisa menahannya.
"Nek, jawab dong pertanyaan Zura, apa nenek juga tidak akan menjawab, seperti Abang."
Aminah terdiam, memikirkan bagaimana cara menjelaskannya.
"Iya sayang, ayah dan ibu harus menikah dulu, agar mereka kembali tinggal bersama."
Senyum Azzura langsung terbit kala mendengar hal itu.
"Ya sudah, kita suruh saja ayah dan ibu untuk segera menikah, agar kita bisa tinggal bersama-sama," jawab Azzura antusias dan Aminah hanya mampu tersenyum saja.
"Iya, Zura benar. Nanti kalau ayah dan ibu pulang, mintalah mereka untuk segera menikah," ucap Aminah keceplosan, ia bahkan langsung menutup mulutnya, tak percaya jika mengatakan itu.
Padahal Aminah tahu pasti, jika Haura belum mau menikah dengan Adam.
"Baiklah, nanti akan Zura minta."