
Dengan surat kuasa yang sah secara hukum itu, Darius tak bisa mengelak, saat ia diminta untuk meninggalkan ruangan kebanggaannya, ruangan CEO Atmajaya Group.
Perusahaan milik keluarganya sendiri.
Surat kuasa para pemegang saham dan beberapa petinggi perusahaan ada ditangan Luna, kuasa yang meminta CEO Atmajaya Group untuk diberhentikan tugas sejenak agar dilakukan Audit keuangan perusahaan, oleh pihak berwenang.
Tim yang sudah dibentuk oleh Luna, dan disetujui pula oleh para pemegang saham dan petinggi perusahaan.
Semua itu Luna lakukan diam-diam, sampai Darius tak menyadarinya.
Darius melangkah mendekati Luna, dengan rahangnya yang sudah mengeras. Ketertarikannya pada Luna hilang seketika, dan berubah jadi benci yang membuncah.
"Jalaang," ucap Darius dengan kata-kata yang menekan. Melihat betapa patuhnya Luna pada Adam, ia meyakini satu hal. Jika Luna memanglah simpanan tuannya itu.
Disebut jalaang, Luna hanya berdecih, lalu menatap Darius dengan remeh.
"Tuanku sudah menyiapkan hadiah spesial untukmu, tunggu dan nanti nikmatilah," jawab Luna, tak gentar. Sedikitpun ia tak takut pada tatapan tajam Darius.
"Pergilah, jangan sampai kamu diseret keluar dari ruangan ini." Agra, buka suara. Ia merasa geram juga melihat sikap angkuh Darius itu.
Melihat disini ia tak punya kekuatan lagi, Darius pun terpaksa keluar dari ruangan itu.
Membiarkan ruangannya, komputer, dan berkas-berkas pentingnya dibaca oleh Tim yang sudah Luna bentuk.
Bahkan tak hanya ruangan Darius yang disegel. Ruangan Yosep sang asisten pun juga.
Darius terus mengutuk, bahkan ia sampai menendang pintu lift saking kesalnya. Hingga ponselnya berdering begitu nyaring.
Darius segera melihat panggilan itu, panggilan telepon dari sang ayah. Saat itu juga, Darius ingin sekali membanting ponselnya, namun ia tak kuasa untuk menghindar dari sang ayah.
Terpaksa Darius pun menjawabnya, dan seketika itu juga, ia mendengar umpatan sang ayah.
"Dasar Anak tidak berguna!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Desa Parupay.
Pagi ini, Haura dan Adam bersiap untuk pergi ke hutan.
Haura terus tersenyum kala melihat suaminya itu yang nampak begitu antusias.
Adam bahkan memaksanya untuk memakai sepatu naik gunung. Membawa sebotol air mineral dan bekal untuk makan siang di sana.
Tapi meski begitu, ia tak menolak semua keinginan suaminya. Ia menuruti semua saran Adam.
"Sudah siap Mas?" tanya Haura dan Adam menganggukkan kepalanya, mantap.
Dengan mengucapkan bismilah, akhirnya mereka meninggalkan rumah, berjalan beriringan menuju pintu masuk hutan, melewati pula perkebunan Haura yang sedang di rawat oleh warga desa.
"Kalian mau ke hutan?" tanya seorang pria paruh baya, seusia om Jodi.
"Iya Amang," jawab Haura apa adanya.
"Ya sudah, hati-hati ya, sore nanti harus segera pulang."
"Baik Amang." Kini Adam yang menjawab.
Dan setelah itu, keduanya benar-benar masuk ke dalam hutan. Melewati rumput liat dengan saling menggenggam erat.
Semakin masuk ke dalam, Adam semakin bingung dimana ia berada sekarang. Ia sudah berulang kali berusaha mengingat, apakah ini tempat yang sama saat dulu ia kesini atau bukan.
Tapi nyatanya, lama berpikir Adam tetap tak mengingat apapun. Ia malah merasa, tempat ini lain.
"Dimana gua tempat kita beristirahat dulu?" tanya Adam, penasaran.
"Masih jauh didepan sana Mas," jawab Haura apa adanya.
"Mas, ingin kesana?" tanya Haura, seraya menghentikan langkah mereka.
Keduanya berdiri diatas pohon besar yang sudah tumbang.
"Nanti saja, sekarang aku ingin mencari buah untuk Azzam dan Azzura."
Haura mengangguk setuju, lalu mulai sedikit melompat dan turun dari atas kayu itu.
Adam mengikuti.
Mereka mendatangi pohon buah kasturi yang sangat besar, bahkan untuk mengambil buahnya pun mereka harus melemparnya menggunakan ranting.
"Ini banyak yang jatuh Mas, kita tidak perlu melemparnya," ucap Haura, seraya mulai memungut.
Adam yang melihat itu hanya mengukir senyumnya, tak menyangka jika kini ia menjadi orang rimba.
Tak ada lagi gelar CEO dalam dirinya.